Temuan Mengejutkan KPAI Maraknya Fenomena Remaja Mabuk Air Rebusan Pembalut

Angga Yudha PratamaAngga Yudha Pratama - Kamis, 08 November 2018
Temuan Mengejutkan KPAI Maraknya Fenomena Remaja Mabuk Air Rebusan Pembalut

Ilustrasi pembalut (pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan fakta mengejutkan terkait maraknya fenomena maraknya remaja di berbagai daerah mengonsumsi air rebusan pembalut untuk mabuk. Berdasarkan penelusuran KPAi, fenomena itu terjadi karena terindikasi adanya dorongan ekonomi.

"Mereka melakukan percobaan ini, karena tidak mampu membeli karena tidak punya biaya, sementara mereka sudah kecanduan," ujar komisioner KPAI, Sitti Hikmawatty di Jakarta, Kamis (8/10).

Dengan begitu, kata dia, remaja-remaja di berbagai daerah itu berupaya mencari tahu dengan bantuan informasi internet untuk mabuk dengan meracik sendiri ramuan-ramuan sendiri.

Menurut komisioner KPAI Bidang Kesehatan dan NAPZA tersebut, anak-anak saat ini banyak yang cerdas karena berbekal internet sehingga bisa membuat beberapa varian baru dari racikan coba-coba.

"Dan di situ tingkat resiko/ bahaya menjadi meningkat karena mereka hanya fokus pada satu zat tertentu dalam sebuah bahan tapi zat lainnya cenderung diabaikan sehingga reaksi sampingan yang terjadi bisa berakibat fatal," bebernya.

Ilustrasi: kampanye pembalut (Foto: Elitedaily)

Dia mengatakan KPAI terus berkoordinasi dengan banyak pihak agar fenomena itu bisa ditangani. "Namun tetap saja garda terdepan ada di dalam keluarga dan lingkungan terdekat di mana anak tinggal," katanya.

Menurut dia, deteksi dini atas perubahan perilaku anak-anak jika tidak ada alasan yang wajar maka perlu menjadi bahan bagi para orang tua agar menjadi lebih waspada.

KPAI mengaku sangat prihatin dengan semakin banyaknya kasus ditemukan anak-anak yang meminum rebusan pembalut. Sesuai data yang masuk di KPAI, Hikmah mengatakan kasus itu bukanlah hal baru.

"Pada saat kami tangani kasus penyalahgunaan PCC 2017 lalu juga sudah kita temui tapi jumlahnya relatif kecil," kata dia.

Ilustrasi mabuk (pixabay)

Dia mengatakan kegiatan remaja yang mencari alternatif zat yang dapat membuat mereka sakau, tenang ataupun gembira, awalnya didapatkan secara coba-coba.

"Jadi kalau kita mengenal beberapa golongan psikotropika di luar narkoba, maka beberapa zat 'temuan' para remaja itu termasuk kelompok eksperimen psikotropika" katanya dikutip Antara.

Hikmah mengatakan jumlah remaja itu belum bisa diprediksi karena berkaitan erat dengan jumlah anak serta kreatifitas mereka "meramu" bahan-bahan yang mudah di dapat di pasaran.

"Minum air rebusan pembalut juga di dapat dari coba-coba, selain fenomena lain seperti ngelem dan lain-lain," tutupnya. (*)

#Pembalut Wanita #Bahaya Pembalut
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Angga Yudha Pratama

Seorang jurnalis profesional, reporter senior, editor berita, dan asisten redaktur yang telah berkarya di industri media online nasional selama lebih dari satu dekade. Selalu mengedepankan akurasi, objektivitas, dan kualitas informasi dalam setiap karyanya berbekal dari pengalaman langsung bertahun-tahun melakukan peliputan di lapangan, penulisan berita, penyuntingan artikel, hingga pengelolaan konten digital. Keahlian tersebut membuat pemahaman secara menyeluruh proses produksi konten digital modern, mulai dari pencarian data, wawancara narasumber, verifikasi fakta, penulisan artikel, optimasi SEO, editing naskah, hingga publikasi berita sesuai kode etik jurnalistik. Lebih spesifik, pemahaman mengenai strategi optimasi SEO dan Digital Content untuk mesin pencari juga menjadi fokus saat ini di tengah disrupsi media. Keahlian itu meliputi SEO writing, content writing, copywriting, keyword research, semantic SEO, search intent, on page SEO, optimasi, artikel google, struktur heading SEO, evergreen content, optimasi readability, meta description hingga internal linking.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Bagikan