Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Tekanan Darah Tinggi dan Marah-Marah, Apa Hubungannya Ya?

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 14 Desember 2017
Tekanan Darah Tinggi dan Marah-Marah, Apa Hubungannya Ya?

Orang dengan hipertensi cenderung sulit mengelola emosi. (foto: pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

ANDA pasti sering mendengar saran untuk tidak sering marah-marah agar tidak terkena darah tinggi katanya. Sebaliknya, mereka yang dikenal punya tekanan darah tinggi diidentikkan dengan perangai doyan marah.

Apa memang benar marah-marah bikin darah tinggi? Atau malah sebaliknya, darah tinggi yang memicu perilaku marah-marah?

Faktanya, orang yang punya darah tinggi cenderung lebih cepat marah. Tekanan darah yang tinggi memang kerap dikaitkan dengan perubahan mood yang mendadak, demikian juga peningkatan emosi.

Seperti dikutip dari Hellosehat, tekanan darah yang tinggi atau hipertensi memang berhubungan dengan perubahan suasana hati Anda, membuat Anda lebih mudah marah daripada sebelumnya.

Hal itu bahkan telah dibuktikan dalam beberapa penelitian yang menyebutkan bahwa orang yang mengalami hipertensi cenderung cepat marah dan mudah berubah mood.

Para ahli belum mengetahui secara pasti apa penyebab di balik suasana hati yang mudah berubah pada orang dengan hipertensi. Namun, ada beberapa teori yang disebutkan, yaitu:


1. Tidak bisa mengendalikan stres dengan baik

Menurut para ahli, orang dengan tekanan darah yang tinggi cenderung tidak dapat mengendalikan rangsangan stres dengan baik. Hal itu membuat otak mengeluarkan amarah sebagai responsnya.

Namun, hal itu masih harus diteliti lebih lanjut, terutama bagaimana tekanan darah yang tinggi bisa mengganggu respons otak dalam mengendalikan emosi.


2. Pengaruh dari obat hipertensi

Orang dengan hipertensi biasanya akan mendapatkan obat minum untuk membantu menjaga tekanan darah tetap normal. Dalam beberapa riset, diketahui bahwa obat yang dikonsumsi orang yang hipertensi akan menimbulkan efek samping pada mood. Hal itu dibenarkan penelitian yang diterbitkan dalam Hypertension Journal Report.

Penelitian itu menyebutkan bahwa obat-obatan dapat mengganggu kerja otak dalam mengelola stres dan emosi. Dalam riset itu diketahui bahwa obat-obatan yang dapat menimbulkan perubahan mood pada orang yang hipertensi, yaitu obat beta-blocker dan calcium antagonist yang digunakan untuk menghindari kerusakan fungsi jantung yang biasanya terjadi pada orang dengan tekanan darah tinggi.

Selain itu, ada juga obat diuretik, khususnya thiazide, yang digunakan untuk mencegah penumpukan cairan pada orang yang hipertensi.

Terlepas dari seberapa tinggi tekanan darah Anda, ada baiknya Anda mulai mengelola emosi agar tidak berujung pada stres yang berkepanjangan.(*)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan