SEBUAH tato di bagian dada pasien telah memicu perdebatan hangat antardokter.
Seorang lelaki berusia 70 tahun dilarikan ke unit gawat darurat Rumah Sakit Universitas Miami. Pria itu dalam keadaan mabuk berat dan tidak sadarkan diri. Dalam catat medisnya, pria itu tercatat punya sejarah sakit paru-paru dan jantung.
Namun, alih-alih segera bertindak, para dokter di rumah sakit tersebut malah mengalami dilema.
Pasalnya, di dada pria itu terdapat tato bertuliskan 'Do not resuscitate'. Para dokter itu kebingungan apakah harus menyelamatkan si pria ataukah menuruti 'perintah' yang tertera di tato tersebut. Namun, mengingat tato beum tentu memiliki kekuatan hukum, para dokter kemudian berusaha memberikan pertolongan.
hal itu terungkap dalam sebuah studi kasus yang termuat dalam New England Journal of Medicine.
"Kami berinisiatif memutuskan tidak mengacuhkan tato tersebut. Itu berdasar prinsip untuk tidak mengambil tindakan yang tak bisa dipulihkan ketika dihadapkan pada situasi tak pasti," ujar Drs Gregory E Holt, Bianca Sarmento, Daniel Kett, dan Kenneth W Goodman dalam laporan tersebut.
Para dokter itu mengaku keputusan itu membuat mereka terjebak dilema antara menuruti prinsip kerja dan menghormati keinginan pasien. Oleh karena itu, mereka menyebut konsultasi lanjutan amat diperlukan.
Akhirnya, setelah konsultasi yang panjang, mereka mengambil keputusan untuk menuruti 'pesan' dalam tato itu. Pertimbangannya, mungkin saja pesan di tato itu memang keinginannya.
"Tato itu menyiratkan keinginan sesungguhnya dari si pria. Namun, aturan yang ada saat ini kurang lentur dan cepat untuk merespons keinginan pasien," ujar dokter itu lagi.
Perawatan terhadap pria itu pun dihentikan dan ia meninggal malam itu juga. Meskipun demikian, para dokter masih khawatir kalau-kalau tato yang tertera di dada sang pria tidak bisa menjadi bukti legal atas permintaan jangan diresusitasi.
Bagaimanapun juga, tato itu bisa saja hanya lelucon atau keputusan membuat tato buruk saat mabuk.
Hal itu tentunya menimbulkan ide untuk menggunakan tato sebagai cara memberi tahu dokter atau petugas medis tentang permintaan terakhir seorang pasien, terutama pada pasien dengan kemampuan terbatas.
Untungnya, dalam kasus pria mabuk 70 tahun tersebut, keputusan menghentikan perawatan itu tepat setelah mereka menemukan perintah tertulis untuk jangan meresusitasi yang ditandatangani pria tersebut.(*)