Tak Kunjung Untung, Uber Jual Bisnis di Asia Tenggara

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 27 Maret 2018
Tak Kunjung Untung, Uber Jual Bisnis di Asia Tenggara

Uber tengah bersiap untuk melakukan IPO di 2019. (foto: fortune)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

UBER meneruskan pengunduran dirinya dari bisnis berbagi tumpangan, Senin (26/3). Setelah Tiongkok, Uber menjual bisnis mereka di Singapura, Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja.

Seperti dikutip dari Ars Technica, pada 2016 lalu, Uber telah menjual bisnis mereka di Tiongkok kepada sang rival, Didi Chuxing. Penjualan itu membanttu Uber memangkas sejumlah besar kerugian di wiayah 'Negeri Tirai Bambu'.

Selain itu, di tahun yang sama, Uber mengubah operasional mereka di Rusia menjadi joint venture bersama raksasa internet Yandex.

Sama seperti di Tiongkok, dalam penutupan operasional Asia Tenggara, Uber menjual bisnis mereka kepada saingan mereka yang berbasis di Singapura, Grab. Kesepakatan itu memberikan Uber 27,5% saham Grab sekaligus menempatkan CEO Uber Dara Khosrowshahi di kursi dewan direksi Grab. Bloomberg melansir bahwa firma Jepang, Softbank, menjadi broker dalam kesepakatan tersebut. Softbank juga merupakan pemegang saham terbesar baik di Uber maupun Grab.

Penutupan bisnis uber di wilayah berpenduduk 620 juta jiwa itu tak hanya untuk layanan taksi daring, tapi juga mencakup layanan UberEats.

Meskipun Uber bercita-cita membangun sebuah bisnis layanan berbagi tumpangan global, perusahaan itu telah mundur teratur dari ideal itu sejak 2 tahun terakhir. Hal itu didorong kerugian yang terus mendera perusahaan tersebut.

"Kesepakatan ini akan memperlambat rencana kami dalam pertumbuhan selagi kami berinvestasi besar-besaran di produk dan teknologi," ujar Khosrowshahi.

Perusahaan itu menderita kerugian lebih dari US$ 1 miliar per kuartal di 2017. Di pertengahan 2017, Uber hanya memiliki arus kas sebesar US$ 6,6 miliar. Bahkan suntikan dana sebesar US$ 1,25 miliar di akhir tahun lalu tidak akan membantu performa Uber.

Masalah kerugian itu kini akan menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi Grab. Meskipun demikian, seperti dilansir BBC, CEO Grab Anthony Tan menyebut kesepakatan itu sebagai penanda awal era baru.

"Ini menandai permulaan sebuah era baru. Bisnis yang bergabung akan melayani pelanggan dengan lebih baik," ujar Tan.

Khosrowshahi telah bersiap untuk melakukan initial public offering (IPO) atau penawaran umum perdana pada 2019 mendatang. Untuk itulah, perusahaan tersebut harus membuat neraca keuangan mereka dalam kondisi sehat.

Padahal, pada November lalu, Khosrowshahi menyebut bahwa bisnis Uber di Asia tak akan menguntungkan dalam waktu dekat.

Uber menginvestasikan US$ 700 juta untuk bisnis mereka di Asia Tenggara dan US$ 2 miliar di Tiongkok.(dwi)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan