MerahPutih.com - Sutradara film Filosofi Teras, Affandi Abdul Rachman, menilai nilai-nilai Stoisisme yang diangkat dalam filmnya memiliki keterkaitan dengan kehidupan anak muda saat ini.
Menurut Affandi, Stoisisme bukan sekadar upaya untuk menjadi pribadi yang kuat. Lebih dari itu, prinsip tersebut mengajarkan seseorang memahami batas antara hal-hal yang dapat dikendalikan dan sesuatu yang berada di luar kendali manusia.
Affandi melihat Stoisisme sebagai bagian dari proses pengembangan diri. Prinsip tersebut mengajarkan seseorang untuk tidak terus-menerus memaksakan keadaan yang memang berada di luar kendalinya.
“Stok itu kan sebenrnya self improvment, elihat diri kita bisa atur apa ang bisa kita atursebenarnya gaka da bedanya dengan tawakkal, gak sih? Iya kan namanya berbeda aja. Caranya bagaimana kita melihat pola hidup, bagaimana kita bisa mengontrol hal yang bisa kita kontrol, ada hal yang enggak bisa kita kontrol," katanya saat ditemui dalam acara Taco x Flosofi Teras, Jumat (25/9).
Baca juga:
Film 'Filosofi Teras' Tayang 24 Desember 2026, Diadaptasi dari Buku Henry Manampiring
Stoisisme Bukan Berarti Menyerah

Bagi Affandi, menerima sesuatu yang tidak bisa dikendalikan bukan berarti menyerah pada keadaan.
Sebaliknya, seseorang tetap dapat berusaha sembari memahami bahwa tidak semua hal akan berjalan sesuai dengan keinginan. Pemahaman mengenai batas kendali tersebut menjadi salah satu nilai yang dibawa melalui Filosofi Teras.
Pesan tersebut kemudian ditempatkan dalam cerita yang dekat dengan persoalan kehidupan sehari-hari, terutama yang dihadapi anak muda.
Pesan Filosofi Teras untuk Anak Muda
Film Filosofi Teras mengikuti kehidupan Nea, yang diperankan Sherina Munaf. Nea tiba-tiba harus memikul tanggung jawab besar setelah kehilangan sang ayah.
Menurut Affandi, perjalanan Nea merepresentasikan kondisi banyak anak muda yang merasa harus bertanggung jawab terhadap berbagai hal dalam kehidupannya.
“Nilai yang dibawa dari film filosofi Teras berdasarkan kisahnya Sherina sebagai Nea, merepresentasikan anak- anak zaman sekarang, dia tidak hanya bertanggung jawab kepada dirinya sendiri tapi juga bertanggung jawab dengan banyak hal. Tapi kadang-kadang lupa, sebelum kita bertanggung jawab ke banyak hal, kita harus bertanggung jawab dulu kepada diri kita sendiri," kata dia.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan penting dalam Filosofi Teras. Di tengah tuntutan untuk memenuhi ekspektasi keluarga, pekerjaan, hingga lingkungan sosial, seseorang kerap lupa bahwa dirinya sendiri juga membutuhkan perhatian.
Affandi ingin film tersebut menjadi pengingat bahwa menjalani hidup bukan berarti seseorang harus memiliki kendali atas segala sesuatu.
Ada kalanya seseorang perlu berhenti memaksakan sesuatu, menerima keadaan, kemudian kembali melihat apa yang masih dapat dilakukan.
Baca juga:
Filosofi Teras, Cerita Sandwich Generation Dihantam Berbagai Tekanan Hidup
Tak Semua Hal Harus Dikendalikan
Menurut Affandi, seseorang juga perlu melihat ke depan dan tidak terus terjebak dalam pemikiran berlebihan terhadap persoalan yang sedang dihadapi.
Hidup terus berjaan lihatlah kedepan, kadang jawaban ada di depan muka kamu tapi kamu kebanyakan overthingking dan lain-lainnya, hal itu malah tidak terlihat,
Sutradara film Filosofi Teras, Affandi Abdul Rachman.
Melalui perjalanan Nea, Filosofi Teras mencoba membawa gagasan Stoisisme ke dalam persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pesan yang dibawa bukan tentang menjadi manusia yang tidak memiliki masalah, melainkan belajar menghadapi persoalan dengan memahami mana yang masih dapat diperjuangkan dan mana yang perlu dilepaskan. (Tka)