Merahputih.com - Atmosfer panas RAMS Park di Istanbul berubah menjadi mimpi buruk bagi raksasa Italia, Juventus. Riuh rendah pendukung tuan rumah seolah membakar semangat Galatasaray untuk melumat habis 'Si Nyonya Tua' dalam drama tujuh gol yang berakhir dengan skor mencolok 5-2.
Di bawah guyuran keringat dan ambisi, keajaiban Istanbul kembali tercipta, memaksa klub asal Turin tersebut pulang dengan kepala tertunduk membawa beban sejarah kekalahan paling memalukan di kompetisi tertinggi Eropa.

Dominasi Tuan Rumah dan Petaka Kartu Merah
Pertandingan sejatinya sempat berjalan seimbang saat babak pertama ditutup dengan keunggulan Juventus 2-1 melalui dua gol klinis Teun Koopmeiners. Namun, situasi berbalik drastis setelah jeda turun minum. Galatasaray mengamuk dengan menyarangkan empat gol tanpa balas di babak kedua, memanfaatkan rapuhnya pertahanan tim tamu.

Kondisi Juventus semakin diperparah setelah Juan Cabal diusir wasit akibat menerima kartu kuning kedua pada menit ke-66. Ketimpangan jumlah pemain ini menjadi celah lebar yang dieksploitasi habis-habisan oleh lini serang klub raksasa Turki tersebut. Berdasarkan data Opta, hasil ini mencatatkan tinta hitam bagi sejarah klub Italia tersebut.
"Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Liga Champions Juventus kebobolan lima gol dalam satu pertandingan," tulis laporan resmi statistik pertandingan.

Rekor Baru dan Jalan Terjal di Turin
Pesta gol tuan rumah diawali oleh sepakan terukur Gabriel Sara, disusul sepasang gol dari Noa Lang, sundulan Davinson Sanchez, dan ditutup dengan penyelesaian cantik Sacha Boey dari sudut sempit. Keberhasilan mencetak lima gol ini juga menjadi rekor produktivitas tertinggi bagi Galatasaray sepanjang keikutsertaan di ajang Champions League.

"Galatasaray mencetak lima gol merupakan pencapaian pertama kalinya bagi klub di Liga Champions," ungkap catatan statistik pasca-laga.
Kini, Juventus menghadapi gunung tinggi yang harus didaki pada pertandingan leg kedua di Turin pekan depan. Defisit tiga gol di tengah mental yang sedang merosot menjadi tantangan berat bagi tim asuhan Thiago Motta jika ingin tetap bertahan di kancah Eropa.