Merahputih.com - Rumput hijau Old Trafford masih menyimpan ribuan memori kejayaan, namun ambisi besar kini membumbung tinggi di samping tribun bersejarah tersebut.
Sir Jim Ratcliffe membayangkan sebuah teater impian baru berkapasitas 100.000 kursi berdiri gagah sebagai pusat regenerasi kota.
Namun, bayang-bayang kemegahan itu mendadak buram saat angka-angka di atas kertas mulai menari liar di luar kendali manajemen Setan Merah.
Baca juga:
Marcus Tavernier Siap Bikin Manchester United 'Bakar Duit' di Bursa Transfer Premier League
Ambisi membangun stadion baru Manchester United kini menemui jalan buntu akibat pembengkakan biaya proyek secara drastis.
Rencana awal senilai 2 miliar poundsterling atau sekitar Rp 44 Triliun melonjak tajam melewati angka 3 miliar poundsterling atau Rp 67 Triliun. Kenaikan nilai investasi ini terjadi karena kerumitan proses pembebasan lahan tepat di sisi stadion lama.
Sengketa Harga Lahan Terminal
Laporan The Sun menyebut perselisihan nilai jual tanah dengan pihak Freightliner menjadi penghambat utama.
Pemilik lokasi terminal tersebut meminta bayaran sekitar 400 juta poundsterling bagi pembebasan area. Sementara itu, penilaian pihak Manchester United hanya berada pada angka 50 juta poundsterling.
“Kesenjangan harga tersebut sangat besar. Seluruh konsep pembangunan bergantung pada pembersihan serta pengamanan lahan tepat sasaran,” tulis laporan The Sun.

Perselisihan mengenai lahan terminal Freightliner sebenarnya telah muncul sejak Agustus 2025. Lokasi ini memegang peran krusial bagi kesuksesan proyek regenerasi kawasan secara luas.
Manchester United ingin segera bergerak cepat, namun tembok tinggi bernama valuasi tanah membuat rencana besar berhenti pada tahap krusial.
Pilihan Sulit di Tengah Ketidakpastian
Kegagalan memperoleh lahan dengan harga masuk akal memaksa klub menghadapi beberapa opsi pahit. Manajemen harus memilih antara membayar jauh lebih mahal, menanggung risiko penundaan lebih lama, atau merombak total rencana induk pembangunan.
“Alternatif lainnya adalah melalui perintah pengadaan lahan secara paksa. Namun, cara ini tidak akan berjalan cepat dan justru memperpanjang proses birokrasi,” ungkap sumber internal mengenai kendala hukum yang mungkin terjadi.
Baca juga:
Visi besar membangun stadion terbesar di Inggris tetap menjadi prioritas utama ketimbang sekadar renovasi Old Trafford. Meski demikian, penguasaan lahan serta ketersediaan dana menjadi realitas harus segera diselesaikan.
Bagi para pendukung, proyek ini bukan lagi soal gambar desain mengkilap, melainkan pembuktian apakah mimpi tersebut mampu berpindah dari meja presentasi menuju kenyataan di atas tanah Manchester.