SOS Minta Edy Rahmayadi Fokus Benahi PSSI

Andika PratamaAndika Pratama - Jumat, 10 November 2017
SOS Minta Edy Rahmayadi Fokus Benahi PSSI

Edy Rahmayadi digotong pendukungnya seusai terpilih sebagai Ketua Umum PSSI periode 2016-2020 di KLB PSSI di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Kamis (10/11). (foto : MP/Dery Ridwansah)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Hari ini, Jumat 10 November 2017, bukan hanya diperingati secara nasional sebagai “Hari Pahlawan”, tapi juga bertepatan dengan satu tahun kepemimpinan Letjen TNI Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI.

Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) tersebut meraih 76 suara dalam Kongres yang digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta. tahun lalu. Edy mengalahkan seniornya mantan Panglima TNI, Jenderal (Pur) Moeldoko yang mendapatkan 23 suara, Eddy Rumpoko satu suara, dan tujuh suara abstain.

Masyarakat pencinta sepak bola nasional pun berharap Edy mampu menjadi motor utama reformasi sepak bola Indonesia seperti yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo.

Bahkan, Save Our Soccer menggantungkan asa Edy bisa jadi simbol revolusi organisasi yang didirikan Ir Soeratin Soesrosoegondo pada 19 April 1930 tersebut. Sosoknya yang tegas, disiplin, dan disegani sangat cocok dan ideal menakhodai PSSI yang penuh konflik, intrik, dan masalah dalam 20 tahun terakhir.

Di awal terpilihnya Edy, SOS sempat memberikan lima resolusi yang perlu dijalankan sebagai pijakan awal reformasi tata kelola sepak bola nasional. Pertama, menyelesaikan kasus dualisme klub dan juga masalah legalitas sejumlah klub yang sangat pelik dab bermaslah. Kedua, menuntaskan kasus sepak bola gajah.

Lalu ketiga, soal bahasa match fixing (pengaturan skor). Keempat, Menegakkan statuta, peraturan organisasi, regulasi kompetisi PSSI sebagai dasar reformasi. #SOS menekankan jangan ada rangkap jabatan karena bisa menghadirkan konflik kepentingan (conflict of interest). Kelima,soal pembinaan dan timnas. Minimnya prestasi saat ini tak lepas dari buruknya pembinaan pemain muda dan juga pengelolaan timnas.

"Lima resolusi itu diharapkan bisa menjadi road map (baca: peta jalan) kepada Edy Rahmayadi untuk membangun pondasi organisasi sepak bola yang kuat dan berprestasi. Maklum, #SOS memprediksi ada bom waktu yang setiap saat bisa meledak bila tak ditangani secara serius," kata koordinator SOS, Akmal Marhali dalam rilis yang diterima MerahPutih.com

Kini, faktanya, setelah setahun berjalan lima resolusi tersebut benar-benar menghadirkan masalah. Dualisme klub belum terselesaikan dan memunculkan friksi di lapangan. Mulai dari legalitas, kepemilikan ganda (cross ownership) yang menyalahi regulasi FIFA dan berakibat banyak klub tidak memenuhi standar lisensi klub profesional AFC. Bahkan, sampai saat ini PSSI tidak bisa menjelaskan asal muasal klub Bhayangkara FC yang menjadi juara Liga 1.

Pelanggaran regulasi juga banyak terjadi di Liga 1 dan Liga 2. Mulai dari pergantian pemain dari tiga menjadi lima, pemain asing yang tak memiliki International Transfer Certificate (ITC) dan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS), memainkan laga kandang Perseru Serui di kandang lawan, sampai munculnya “play off khusus” di Liga 2 yang tidak ada di regulasi dan manual kompetisi.

"Kompetisi musim ini sudah cacat dari awal karena banyaknya pelanggaran regulasi yang dilakukan baik itu oleh operator kompetisi, PT Liga Indonesia Baru (LIB), maupun peserta. Kompetisi musim ini menjadi antiklimaks karena buruknya penegakkan regulasi," tegasnya.

Miss manajemen dan komunikasi serta buruknya administrasi antar bidang juga menjadi masalah krusial di PSSI. Utamanya, terkait munculnya kasus Mitra Kukar yang memainkan Marquee Player Mamadou Sissoko yang dihukum larangan dua kali tampil oleh Komisi Disiplin (Komdis PSSI) saat melawan Bhayangkara FC.

Kasus ini tidak terselesaikan dengan baik bahkan terkesan saling lempar tanggung jawab sehingga akhir kompetisi yang harusnya menjadi klimaks malah antiklimaks. Belum lagi, masalah-masalah nonteknis lainnya yang muncul kepermukaan sehingga para peserta sendiri menyebut kompetisi musim ini sebagai lelucon dan dagelan.

Semua berjalan seperti auto-pilot karena kesibukan Edy Rahmayadi yang saat ini sedang mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Utara.

"SOS meminta Pak Edy fokus membenahi masalah PSSI karena saat ini harus diakui hanya beliau yang disegani oleh stakeholder sepak bola nasional. Selebihnya adalah sosok-sosok lama yang bukan menyelesaikan masalah malah justru membuat masalah karena konflik kepentingan," ujar Akmal.

Oleh karena itu, SOS berharap Edy Rahmayadi mengembalikan filosofi dari PSSI (Profesional, Sehat, Sportif, dan Integritas)

"Setahun pertama Pak Edy sudah bisa melihat dengan kasat mata masalah sepak bola yang ada. Bahkan, beberapa kali sempat melontarkannya dengan sindiran. Kini, waktunya untuk fokus membenahi semuanya. Punish and reward harus dilakukan untuk perbaikan sepak bola nasional," ungkap Akmal.

Lepas dari sejumlah masalah yang muncul di tahun pertama sebagai Ketua Umum PSSI, ada juga sejumlah perubahan yang patut diapresiasi. Salah satunya, soal kompetisi dan pembinaan usia muda yang mulai berjalan. Tim nasional dari senior sampai kelompok umur cukup tertata dengan baik jadwal pelatnas dan agenda uji cobanya. Yang belum hanya prestasi karena target emas di SEA Games 2017 meleset.

Tahun 2018 ada Piala AFF, Asian Games, putaran final Piala Asia U-16, putaran final Piala Asia U-19. SOS berharap Edy Rahmayadi bisa fokus dan tegas dalam menindak masalah-masalah yang muncul di tahun pertamanya agar reformasi berjalan dengan benar dan misi PSSI Profesional Bermartabat dapat terealisasikan.

Maklum, semuanya akan menjadi tolok ukur apakah PSSI akan benar-benar menjalankan reformasi tata kelola sepak bola nasional atau tetap kembali berkubang dengan masalah

"Jangan sampai publik sepak bola mencap PSSI hanya ganti casing saja, tapi mesin soft ware-nya sudah usang. Perubahan harus benar-benar dilakukan dengan professional dan bermartabat bila sepak bola Indonesia ingin berprestasi dan berkembang pesat," pungkasnya.

#Save Our Soccer #Pangkostrad #Letjen Edy Rahmayadi #PSSI
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Olahraga
Yordania Respons soal Potensi Batal Lawan Timnas Indonesia, FIFA Matchday November 2026 Terancam Berubah
Federasi Sepak Bola Yordania memantau potensi batalnya laga melawan Timnas Indonesia pada FIFA Matchday November 2026 di tengah situasi keamanan Timur Tengah.
Frengky Aruan - Selasa, 20 Oktober 2026
Yordania Respons soal Potensi Batal Lawan Timnas Indonesia, FIFA Matchday November 2026 Terancam Berubah
Olahraga
Indonesia Women's League 2026 Resmi Bergulir, Erick Thohir Bidik Piala Dunia
Liga sepak bola perempuan Tanah Air, Indonesia Women's League (IWL), telah resmi bergulir.
Yusuf Abdillah - Senin, 19 Oktober 2026
Indonesia Women's League 2026 Resmi Bergulir, Erick Thohir Bidik Piala Dunia
Olahraga
Jelang Piala Asia 2027, PSSI Bakal Dapat Rp361 Miliar dari FIFA
FIFA mengusulkan peningkatan dana bantuan hingga 25 juta dolar AS atau sekitar Rp391 miliar untuk setiap asosiasi anggota.
Yusuf Abdillah - Jumat, 16 Oktober 2026
Jelang Piala Asia 2027, PSSI Bakal Dapat Rp361 Miliar dari FIFA
Olahraga
Tak Cukup Denda, I.League Dorong Hukuman yang Lebih Berat buat Klub yang Terlibat Kericuhan
I.League mendorong penerapan sanksi yang lebih tegas untuk mencegah kericuhan dalam kompetisi sepak bola Indonesia.
Yusuf Abdillah - Jumat, 16 Oktober 2026
Tak Cukup Denda, I.League Dorong Hukuman yang Lebih Berat buat Klub yang Terlibat Kericuhan
Olahraga
Nominasi AFC Awards 2026 Resmi Diumumkan, PSSI Masuk 1 Kategori
AFC Awards 2026 resmi umumkan daftar nominasi. Indonesia lewat PSSI masuk nominasi AFC President's Recognition Award for Grassroots Football!
Wisnu Cipto - Jumat, 16 Oktober 2026
Nominasi AFC Awards 2026 Resmi Diumumkan, PSSI Masuk 1 Kategori
Olahraga
Mengenal Demiane Agustien, Wonderkid Arsenal yang Punya Darah Indonesia
Demiane Agustien kini dikaitkan dengan naturalisasi timnas Indonesia. Wonderkid Arsenal ini punya garis keturunan Indonesia.
Soffi Amira - Kamis, 15 Oktober 2026
Mengenal Demiane Agustien, Wonderkid Arsenal yang Punya Darah Indonesia
Olahraga
Menuju Piala Dunia 2030, 10 Pemain Keturunan Dikaitkan dengan Naturalisasi Timnas Indonesia
Sebanyak 10 pemain keturunan berpotensi dinaturalisasi timnas Indonesia. Pelatih timnas Indonesia, John Herdman, sedang memantau sejumlah pemain.
Soffi Amira - Rabu, 14 Oktober 2026
Menuju Piala Dunia 2030, 10 Pemain Keturunan Dikaitkan dengan Naturalisasi Timnas Indonesia
Olahraga
Laga Timnas Indonesia vs Yordania Terancam Batal, PSSI Cari Lawan Pengganti
Laga timnas Indonesia vs Yordania kini terancam batal. PSSI pun mulai mencari lawan pengganti pada November 2026 nanti.
Soffi Amira - Rabu, 14 Oktober 2026
Laga Timnas Indonesia vs Yordania Terancam Batal, PSSI Cari Lawan Pengganti
Olahraga
PSSI: Klub yang Tak Bisa Kendalikan Suporter Siap-siap Kena Sanksi Pengurangan Poin
PSSI membuka kemungkinan menjatuhkan sanksi pengurangan poin kepada klub yang gagal menjaga perilaku suporternya.
Yusuf Abdillah - Selasa, 13 Oktober 2026
PSSI: Klub yang Tak Bisa Kendalikan Suporter Siap-siap Kena Sanksi Pengurangan Poin
Olahraga
Erick Thohir Ancam Larang Suporter Away Lagi, PSSI Beri Tenggat Sepekan
PSSI siap turun tangan, termasuk mempertimbangkan kembali kebijakan larangan suporter tandang.
Yusuf Abdillah - Selasa, 13 Oktober 2026
Erick Thohir Ancam Larang Suporter Away Lagi, PSSI Beri Tenggat Sepekan
Bagikan