Solusi Megawati Menghadapi Pemimpin Otoriter Populis Hasil Pemilu Anomali

Wisnu CiptoWisnu Cipto - Jumat, 24 Mei 2024
Solusi Megawati Menghadapi Pemimpin Otoriter Populis Hasil Pemilu Anomali

Arsip pelaksanaan pemilu 2024 lalu. (Foto: Antara)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Ketua Umum (Ketum) PDIP Megawati Soekarnoputri menyinggung pemimpin otoriter populis dalam pidato politiknya saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) V merujuk dari pemikir kebhinekaan DR Sukidi.

Megawati menyebut belakangan terjadi anomali dalam demokrasi di Indonesia merujuk pada hasil Pilpres 2024 lalu. Menurut dia, Sukidi menyebut anomali dalam demokrasi itu melahirkan kepemimpinan paradoks dan otoritarian.

"Terjadinya anomali demokrasi, secara gamblang dijelaskan oleh DR Sukidi, seorang pemikir kebhinnekaan yang disegani. Sosok cendekiawan ini menjelaskan fenomena kepemimpinan paradoks yang memadukan populisme dan machiavelli, hingga lahirlah watak pemimpin authoritarian populism," kata Megawati, di pembukaan Rakernas V PDIP, Beach International Stadium Ancol, Jakarta, Jumat (24/5).

Putri Proklamator RI Soekarno itu mengatakan karakter otoritarian dari seorang pemimpin membuat hukum dipermainkan. Dalam karakter kepemimpinan yang demikian, lanjut dia, hukum dijadikan pembenar atas tindakan yang sejatinya tidak memenuhi kaidah demokrasi.

Baca juga:

Bedah Anomali Pilpres 2024, Megawati Puji Keberanian 3 Hakim MK

"Hukum pun dijadikan pembenar atas tindakannya yang sepertinya memenuhi kaidah demokrasi. Namun, sesungguhnya hanyalah prosedural. Di sinilah hukum menjadi alat, bahkan pembenar dari ambisi kekuasaan itu. Inilah yang oleh para pakar disebut dengan autocratic legalism," tutur Megawati.

Menurut Megawati, solusi untuk menyelesaikan anomali dalam demokrasi bukan mencabut hak rakyat, melainkan menerapkan adagium Vox Populi Vox Dei bahwa suara rakyat itu menjadi perwakilan Tuhan sehingga perlu dihargai.

"Adagium ini juga diyakini bekerja dalam peribahasa, Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai, ataupun dalam berbagai ekspresi Milik Nggendong Lali yang menjadi tema perenungan sosok seniman Butet Kartaredjasa. Terhadap keseluruhan apa yang terjadi, PDI Perjuangan diajarkan oleh sejarah, untuk percaya pada Satyam Eva Jayate, bahwa kebenaran pasti akan menang," papar Ketum PDIP itu. (Pon)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan
Bagikan