TEATER dan film sekilas memang sama. Dua hal itu pada dasarnya merupakan sebuah sandiwara. Perbedaannya, teater ditampilkan secara langsungm, sedangkan film tidak. Ada proses syuting pada sebuah film.
Mengenai hal itu, aktor senior Slamet Rahardjo juga berpendapat senada. Teater dan film memang memiliki kesamaan. Terdapat kaidah yang serupa pada teater maupun film.
"Saya kira begini, teater itu memiliki kaidah-kaidah kesamaan pada film. Pada dasarnya ini merupakan sebuah drama tur," paparnya saat menjadi narasumber pada acara diskusi Setelah Teguh Karya di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta Pusat, Jumat (22/9).
Terlepas dari hal itu, aktor yang pernah bergabung di teater populer bersama Teguh Karya itu mengatakan bahwa seharusnya film dan teater memiliki perbedaan. Namun sayangnya, film Indonsia belum bisa terlepas dari pengaruh teater.
"Banyak film kita yang masih menjelaskan permasalahan dari awal hingga penyelesaian menggunakan pendekatan yang diselesaikan dengan kata-kata," imbuhnya.
Slamet melanjutkan, sebuah film tidak seharusnya selalu mengandalkan perkataan. Perlu lebih ditekankan visual pada setiap adegan. Film tidak seperti teater yang hanya bisa menggambarkan suatu peristiswa cukup melalui sebuah kata.
"Dengan demikian, dalam bahasa film, visual diperlukan untuk menerjemahkan sebuah peristiwa masih sedikit terbata-bata," ia menyambung.
Lebih lanjut, Slamet tidak beranggapan semua film Indonesia jelek. Hanya saja masih kurang mengedepankan visual pada setiap adegan.
"Walaupun tidak jelek banget, tapi kelihatan sekali bahwa kita belum sampai kepada visual," pungkasnya.
Baca juga artikel mengenai Pengalaman Lucu Slamet Rahardjo Bersama Teguh Karya