MerahPutih.com - Panggung festival film bergengsi Jakarta Film Week edisi keenam dipastikan bakal dibuka karya emosional yang sukses menyabet penghargaan internasional.
Film panjang perdana garapan sutradara wanita asal Singapura, Ang Geck Geck Priscilla, berjudul Ah Girl resmi dipilih sebagai tayangan pembuka.
Baca juga:
POV Anak Kecil Melihat Dunia Orang Dewasa
Cerita film diangkat langsung dari memori dan pengalaman masa kecil sang sutradara sendiri. Sosok utama Ah Girl diperankan Xuanjing Ong, siswa sekolah dasar yang pada waktu syuting berusia tujuh tahun. Kini dia sudah berusia sembilan tahun.
Film Ah Girl adalah sebuah cerita kecil yang mengajak penontonnya melihat dunia orang dewasa melalui kacamata anak-anak,
Direktur Festival JFW 2026 Rina Damayanti dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Rina menambahkan melalui perjalanan emosional sang pemeran utama dalam memahami identitas dan akar budayanya, film ini hadir menjadi cermin bagi publik dewasa.
Sebuah film yang hangat, muda, dan juga penuh rasa ingin tahu. Semoga film pembuka ini akan menghangatkan hati dan membawa kehangatan pulang ke rumah,
Direktur Festival JFW 2026 Rina Damayanti
Karya yang Bertabur Prestasi
Meski lahir dari tangan sutradara dan aktris muda yang baru pertama kali mencicipi proyek film panjang, karya indie ini berhasil mengguncang berbagai festival film internasional.
Aktris cilik pemeran karakter utama Swee Swee, Xuanjing Ong, sukses memboyong tropi Aktris Terbaik pada kategori Young Cinema Competition (Chinese Language) di Hong Kong International Film Festival 2026 serta Malaysia International Film Festival 2026.
Tak berhenti di situ, film yang kental akan kehangatan keluarga ini turut mengamankan penghargaan Youth Jury Award di Rotterdam International Film Festival dan New Hope Award pada ajang MIFFest 2026.
Baca juga:
Sinopsis Film 'Ah Girl': Realita Kelam Dilema Anak SD
Mengambil latar perjalanan waktu di Singapura pada 1994, cerita berfokus pada kehidupan sosok bocah perempuan bernama Ah Girl yang tinggal di sebuah apartemen sederhana bersama adik, ayah, dan neneknya.
Dinamika kehidupan keluarga kecil ini mendadak goyah akibat perceraian kedua orang tuanya, di mana sang ibu yang kurang bertanggung jawab hanya memunculkan batang hidungnya saat akhir pekan tiba.
Titik balik konflik yang menguras emosi terjadi sewaktu sang ibu mendadak meminta Ah Girl untuk pindah dan menetap di rumah barunya.
Mental Ah Girl langsung terguncang, memicu kebingungan dan beban emosional berat karena ia dipaksa membuat keputusan sulit untuk meninggalkan ayah serta adiknya. (*)
