Grafologi, Analisis Karakter lewat Tulisan Tangan
Grafologi menggunakan unconscious trade dalam tulisan tangan untuk menganalisia karakter seseorang.(Foto: pixabay)
DI era serbadigital, menulis dengan tangan mungkin terlihat seperti sesuatu yang kuno. Saat semua bisa ditulis dengan ketukan jari di papan ketik, menorehkan tinta di atas kertas menjadi pilihan terakhir bagi kebanyakan orang.
Hal itu amatlah disayangkan ya. Pasalnya, bentuk tulisan tangan setiap orang pastilah berbeda. Perbedaan itu juga menunjukkan perbedaan kepribadian yang dimiliki tiap orang. Hal itulah yang dipelajari dalam limu grafologi.
Grafologi atau handwriting analysis adalah sebuah studi yang mempelajari karakter manusia lewat medium tulisan tangan. Di ranah internasional, seperti di Amerika dan beberapa negara Eropa, penggunaan aplikasi grafologi sudah meluas di berbagai bidang meliputi ranah SDM, hukum hingga dunia medis.
Karakter seseorang bisa dibaca grafolog lewat tulisan tangan yang unik. Anda mungkin tak menyadari ada sebuah 'jejak' pada tulisan Anda. Jejak itu benar-benar tidak bisa disembunyikan, meskipun Anda mencoba dengan sengaja mengubah gaya tulisan Anda.
Dalam ilmu grafologi, jejak tersebut disebut unconscious trade.
Jejak tersebut menjadi sebuah tanda yang tanpa Anda sadari melekat pada tulisan Anda. Setiap orang punya unconscious trade masing-masing yang selalu ada dalam tulisan tangan.
Grafolog Indonesia yang bernaung di bawah American Association of Handwriting Analyst (AAHA) dan American Handwriting Analysis Foundation (AHAF) Deborah Dewi mengungkapkan adanya unconscious trade pada sebuah tulisan membuat tulisan itu bisa dikenali apakah merupakan goresan satu orang atau lebih. Kemunculan unconscious trade yang berbeda dalam sebuah tulisan menunjukkan bahwa tulisan itu dibuat tidak oleh satu orang yang sama.
"Jika tiba-tiba enggak muncul di beberapa kata yang lain plus bentuk (unconscious trade)-nya sudah beda, itu sudah pasti tulisan tangan lebih dari satu orang," kata Deborah saat ditemui Merahputih.com di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (18/12).
Seorang grafolog dapat mengetahui tanda unik tersebut yang ada pada tulisan seseorang. Saking uniknya, tidak ada yang bisa menirukan unconscious trade orang lain.
Deborah menambahkan, unconscious trade hanya dapat dilihat melalui tulisan tangan yang dibuat menggunakan pulpen biasa atau ballpoint. Jika menggunakan alat tulis lain seperti pensil, spidol bahkan gel pen, unconscious trade tidak akan bisa terlihat.
"Kenapa pulpen? Karena hanya lewat medium itulah bisa terlihat unconscious trade-nya itu," tambahnya.
Dalam melakukan analisis karakter lewat tulisan tangan, seorang grafolog berpegang pada unconscious trade tersebut. Sebagai contoh, huruf t, garis horizontal yang ada di atas huruf t yang dibuat setiap orang pastinya akan berbeda-beda. Bisa saja berbeda dari kemiringan atau kelurusan garis itu.
Meskipun setiap orang bisa saja mencoba menirukan tulisan tangan orang lain, hal itu akan dapat diketahui seorang grafolog. Menurut Deborah, sehebat apa pun seseorang meniru tulisan, jati dirinya tetap akan terlihat dalam tulisan tangannya.
Dengan grafologi, identitas penulis akan dengan mudah diketahui lewat bentuk dan goresan tulisan tangannya. Demikian juga karakter kepribadian seseorang.(ikh)