MerahPutih.com - Jangar resmi meluncurkan album penuh keduanya yang bertajuk Raja Pasir pada Selasa (6/10). Album ini menandai kembalinya kuartet rock asal Denpasar, Bali, tersebut dengan album penuh setelah delapan tahun sejak Jelang Malam yang dirilis pada 2019. Sebelumnya, mereka juga merilis mini album Malam pada 2024.
Rentang waktu delapan tahun membawa banyak perubahan dalam kehidupan para personel Jangar, yakni Pasek Darmawaysya (drum), Dewa Adi Sanjaya (gitar), Rai Biomantara (bass), dan Gusten Keniten (vokal). Jika dahulu mereka memiliki lebih banyak kesempatan untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama demi bermusik, kini masing-masing telah membangun keluarga dengan tanggung jawab dan kesibukan yang berbeda.
Sekarang keluarga yang utama, curi-curi waktu untuk bisa ngobrolin mau ke mana dan garap apa Jangar ke depannya, gimana caranya semangat berapi-api itu tetap ada. Hidup jadi lebih seru dan penuh perjuangan,
ungkap Rai.
Perubahan dalam kehidupan pribadi tersebut turut membentuk perspektif Jangar dalam melihat masa depan. Gagasan itu kemudian menjadi salah satu tema utama yang menyatukan materi dalam Raja Pasir. Melalui album ini, mereka menuangkan berbagai tafsiran, harapan, dan keraguan mengenai dunia yang nantinya akan diwariskan kepada generasi mendatang.
Baca juga:
Musik Indonesia Berduka, Doddy Katamsi Mantan Vokalis Elpamas Meninggal Dunia
Apakah kita akan mewariskan distopia pada anak dan cucu kita? Apakah kita bisa menaruh harapan? Atau kita hanya akan menunggu, menonton dan diam pada keadaan destruktif yang terpampang nyata di hadapan kita,
ujar Pasek ketika menjelaskan benang merah album tersebut.
Nama Raja Pasir diambil dari salah satu lagu yang terdapat di dalam album. Pasek menjelaskan bahwa judul tersebut merujuk pada Shai-Hulud, cacing gurun yang dianggap sakral dalam novel fiksi ilmiah Dune karya Frank Herbert. Gambaran dunia masa depan dalam kisah tersebut menjadi titik awal bagi Jangar untuk mempertanyakan kemampuan manusia dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang akan datang.
Kendati mengangkat pertanyaan besar tentang masa depan, Jangar tidak ingin Raja Pasir menjadi album yang terbebani oleh tuntutan untuk menyampaikan pesan tertentu. Dalam proses kreatifnya, mereka justru mempertahankan kebebasan berekspresi seperti ketika mengerjakan Jelang Malam.
Bebas, tanpa beban moral. Kami tidak ingin terjebak pada ide bahwa sebuah karya itu harus bertanggung jawab, harus menyuarakan kebenaran, atau harus datang dari ‘kegelisahan’. Musik itu harus menyenangkan!
kata Pasek.
Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi Jangar untuk menjelajahi beragam cerita dan gagasan dalam Raja Pasir. Sebelum album ini dirilis, mereka telah lebih dahulu memperkenalkan “Air Keras”, yang menyoroti tindakan represif penguasa terhadap pihak-pihak yang berani menyampaikan pendapat. Setelah itu, mereka merilis maxi-single “K3” dan “Waktu” sebagai bagian dari rangkaian pengenalan album.
Salah satu materi lain yang menarik perhatian adalah “Robokop pt. 2”, yang melanjutkan cerita dari lagu “Robokop” sebelumnya. Kali ini, Jangar tidak lagi menggambarkan sosok tersebut melalui kisah heroik. Mereka justru membayangkan Robokop yang telah memasuki usia paruh baya, kehilangan sebagian kemampuan fisiknya, serta bergantung pada obat-obatan. Ironisnya, efek samping dari obat-obatan tersebut justru membuatnya membutuhkan lebih banyak obat untuk bertahan.
Selain menghadirkan cerita baru, proses pengerjaan Raja Pasir juga membawa perubahan dalam pendekatan musikal para personelnya. Dewa Adi Sanjaya, misalnya, memilih meninggalkan gitar superstrat dengan pickup single coil yang biasa digunakannya dalam rekaman terdahulu. Ia kemudian mencari instrumen berbeda untuk mendapatkan karakter suara yang sesuai dengan kebutuhan album ini.
Menariknya, Dewa baru menemukan keterkaitan yang tidak terduga setelah proses rekaman selesai dan judul album ditetapkan. Ketika mencoba menghubungi layanan pelanggan merek gitar yang digunakannya untuk menanyakan spesifikasi instrumen tersebut, ia mendapati bahwa nama resmi warna gitarnya adalah Desert Burst.
Iseng nyoba email ke customer service brand gitar tersebut untuk menanyakan spesifikasi detailnya, ternyata nama warna official-nya adalah Desert Burst. Apakah ini cuma kebetulan? Saya rasa tidak,
cerita Dewa.
Pada akhirnya, Raja Pasir merekam Jangar dalam fase kehidupan yang berbeda dibandingkan ketika mereka merilis album penuh sebelumnya. Waktu yang dahulu bisa digunakan untuk berkumpul dan bermusik kini harus dibagi dengan keluarga serta anak-anak yang semakin bertumbuh. Bahkan, sebagian dari mereka mulai mengenal karya Jangar dan tumbuh menjadi pendengar cilik band tersebut.
Kehadiran generasi baru itu membuat persoalan mengenai masa depan tidak lagi sekadar menjadi gagasan abstrak dalam lagu. Bagi Jangar, masa depan kini memiliki wajah yang lebih dekat, yakni anak-anak mereka sendiri. Melalui Raja Pasir, mereka menghadirkan refleksi tentang perubahan, kebebasan berkarya, dan ketidakpastian dunia yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Far)