SETIAP orang punya mekanisme biologis sendiri. Beberapa orang bisa buang air besar (BAB) secara rutin setiap hari. Sebagian lainnya malah punya masalah dengan BAB. Konstipasi memang kerap dialami beberapa orang. Banyak alasan di balik susahnya menunaikan membuang air besar, seperti kurang gerak, metabolisme yang lambat, hingga adanya masalah kesehatan tertentu.
Namun, buat seorang pemuda 24 tahun asal Inggris ini, konstipasi nyaris saja membuatnya terbunuh. Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di BMJ Case Reports, pemuda tersebut memang memiliki catatan konstipasi kronis. Namun, bukan itu yang membuatnya memeriksakan diri ke RS. Ia mengeluhkan sakit perut yang parah serta diare yang berlangsung selama seminggu.
Setelah dilakukan pemindaian awal, ditemukanlah bagian ujung usus besarnya dipenuhi feses. Para dokter yang menangani akhirnya memberikan cairan laksatif oral. Harapannya, obat itu akan mengeluarkan tumpukan kotoran tersebut. Setelah itu, ia pun diperbolehkan pulang.
Namun, dua hari kemudian, pemuda yang sama kembali ke RS dengan sakit perut yang jauh lebih parah. Dokter pun langsung bertindak, melakukan pemeriksaan ulang yang lebih mendalam. Ternyata, konstipasi yang dialami pemuda itu telah membuat organ tubuhnya tak mau bekerja karena 'kepenuhan' feses. Iihh....
CT sacn pun akhirnya mengungkap bahwa ia menderita megacolon dan megarectum. Itu merupakan kondisi ketika usus besar melebar. Yang membuatnya makin parah, organ yang menolak bekerja itu menyebabkan usus besarnya robek.
Dokter pun kembali melakukan pemeriksaan menyeluruh. Diketahui, ginjal si pemuda mulai menunjukkan kegagalan sehingga terjadi kenaikan asam di darahnya. Tanpa menunggu lama, ia pun langsung dilarikan ke ruang operasi. Di sana, dokter bedah langsung menjahit usus besarnya yang robek, sekaligus mengeluarkan feses yang menumpuk. "Pasien dengan kondisi ini dilaporkan mengalami konstipasi, sakit perut, dan kembung sejak masa anak-anak hingga dewasa," ujar penulis laporan tersebut.
Meskipun terbilang langka, kondisi yang dialami pemuda itu bisa mengancam nyawa. Dalam beberapa kasus, operasi untuk menyembuhkan megacolon mungkin tak diperlukan. Penulis laporan itu menyebut penanganan dengan laksatif oral biasanya cukup mengatasi kondisi tersebut. Selain itu, pasien akan disarankan untuk menjalani diet tertentu dan pembersihan usus besar secara rutin.(dwi)