Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Sering Kembung? Saatnya Hilangkan Susu dari Menu Harian

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 15 Januari 2018
Sering Kembung? Saatnya Hilangkan Susu dari Menu Harian

Ilustrasi. (foto: pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BEBERAPA orang memang tidak menyukai rasa susu sehingga mereka tidak minum susu sama sekali. Ada juga yang mengalami kembung setelah minum susu sehingga memnutuskan menghentikan asupan susu.

Namun, Anda pasti bertanya, apakah aman menghentikan susu sama sekali?

Berikut hal-hal yang dialami tubuh jika Anda tidak mengasup susu sama sekali.


1. Kehilangan sumber nutrisi penting

Ketika memutuskan untuk berhenti minum susu, Anda harus bersiap untuk kehilangan sumber nutrisi penting. Pasalnya, susu kaya akan sumber kalsium, vitamin D, dan protein. Ketiga nutrisi tersebut penting untuk menjaga kesehatan tulang Anda. Jangan khawatir, Anda masih bisa mendapat kalsium lewat yoghurt atau sayuran hijau.


2. Kulit jadi lebih bersih

Salah satu makanan atau minuman yang dapat menyebabkan jerawat adalah susu ataupun produk yang mengandung protein whey. Hal itu terjadi karena susu mengandung insulin dan hormon pertumbuhan IGF-1. Kedua faktor itulah yang dapat memicu tumbuhnya jerawat. Peningkatan insulin atau IGF-1 dalam tubuh dapat memberi sinyal pada faktor-faktor yang dapat menimbulkan jerawat pada wajah.

Ketika Anda berhenti minum susu, kulit Anda jadi terbebas dari jerawat. Meski begitu, efek tersebut mungkin akan berbeda bagi setiap orang tergantung dari faktor pemicu jerawat.

Tanpa susu, wajah jadi bebas jerawat. (foto: pixabay)


3. Berat badan turun

Sebuah penelitian jangka panjang yang dilakukan peneliti dari Swedia mengatakan bahwa orang yang mengonsumsi banyak lemak susu cenderung mengembangkan obesitas ketimbang mereka yang hanya mengonsumsi lebih sedikit lemak susu.

Hal itu terjadi karena susu kaya akan sumber lemak dan protein. Belum lagi laktosa dalam produk susu yang merupakan bentuk dari gula juga cukup berkontribusi membuat tubuh Anda jadi mudah 'melar'.


4. Pencernaan menjadi lebih baik

Tidak semua orang yang dapat mencerna laktosa dalam susu dengan baik. Laktosa yang dapat menyebabkan diare akan memperburuk pencernaan saat dikonsumsi terlalu banyak.

Bagi Anda yang punya intoleransi laktosa ataupun alergi susu, berhenti mengonsumsi susu bisa jadi cara baik untuk mengurangi berbagai gejala gangguan pencernaan akibat mengonsumsi susu atau produk turunannya.


5. Menurunkan risiko kanker

Peneliti di Swedia mmenemukan bahwa minum lebih dari satu gelas susu per hari dapat melipatgandakan risiko kanker ovarium. Sementara itu penelitan dari Harvard menemukan bahwa pria yang mengonsumsi lebih dari dua porsi susu per hari mempunyai kemungkinan risiko kanker prostat hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan mereka yang tidak minum susu sama sekali.

Sampai saat ini, hubungan antara kanker dan konsumsi susu sangat rumit. Susu mungkin bisa menjadi salah satu penyebab kanker, tetapi hal itu berbeda-beda tergantung individu dan susu jenis apa yang diminum.


6. Kebal terhadap perut kembung

Sebuah studi Baylor College pada 2009 silam mengungkapkan sekitar 75% populasi dunia tidak dapat memecah laktosa dalam gula yang ditemukan pada susu. Kondisi itu dikenal sebagai intoleransi laktosa. Orang yang tidak dapat menerima laktosa akan mengalami kondisi kembung akut yang menjadi salah satu efek samping umum dari laktosa. Nah, itu sebabnya berhenti minum susu akan mengurangi risiko perut kembung.(dwi)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan