Seniman Indonesia Gelar Lebaran Street Art Terbesar se-Asia Tenggara

Dwi AstariniDwi Astarini - Minggu, 05 Agustus 2018
Seniman Indonesia Gelar Lebaran Street Art Terbesar se-Asia Tenggara

Founder Cikini Art Stage Aidil Usman membuka Lomba Mural Asian Games 2018. (foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MENJELANG Asian Games, berbagai pihak berlomba-lomba mempercantik wajah Kota Jakarta. Salah satu pihak yang turut berpartisipasi demi meningkatkan nilai estetika Jakarta ialah PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

CMNP menggandeng Cikini Art Stage untuk menyelenggarakan lomba mural. Mural tersebut nantinya menghiasi tiang-tiang jalan layang tol sepanjang jalan by pass di kawasan Rawamangun–Pulomas–Sunter.

Seniman Jakarta 1991 menuangkan idenya di tiang jembatan layang tol. (foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Penyelenggaraan Asian Games 2018 kali ini bertepatan dengan momen perayaan ke-73 Hari Kemerdekaan Indonesia. Untuk itu, pihak panitia mencoba untuk mengolaborasikan spirit kemerdekaan dan Asian Games dengan seni mural. “Olahraga merupakan bagian dari seni. Kami para seniman melihat bahwa olahraga selalu terintegrasi dengan kerja-kerja seni dan kebudayaan,” ucap founder Cikini Art Stage, Aidil Usman, saat ditemui di lokasi lomba mural, Tol Rawamangun, Sabtu (4/8).

Sebanyak 73 tiang di sepanjang jalan layang tol akan dipercantik oleh para seniman seluruh Indonesia. “Tiang berjumlah 73 ini juga mewakili 73 jejak eksistensi kerupaan mereka. Itu yang mereka harapkan,” ujar Aidil. Kontribusi mereka untuk Asian Games tentu menghapus stigma negatif yang kerap disematkan kepada para penggiat mural.

Seniman asal Cirebon menunjukkan desain muralnya. (foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Kurator seni rupa Bambang Asrini Widjanarko mengatakan bahwa kompetisi mural ini merupakan pertemuan para seniman mural terbesar dan terbanyak di Asia Tenggara. Tak tanggung-tanggung, 293 orang yang terbagi dalam 73 kelompok ikut serta dalam kegiatan akbar para seniman. “Menilik jurnal berita dalam jurnal seni rupa, kegiatan ini ternyata belum perbah digelar sebesar ini di lingkup Asia Tenggara bahkan Asia,” bebernya.

Dengan membawa semangat, para seniman ini rela datang jauh-jauh dari tempat asal mereka ke Jakarta. Para seniman yang berkontribusi dalam pembuatan mural berasal dari seluruh pelosok Indonesia. Bahkan ada pula beberapa perwakilan dari Indonesia bagian timur. Salah satunya seniman asal Fakfak bernama Fauzhan Moosaad. “Kami datang sebagai perwakilan dari Indonesia Timur,” ucap Fauzhan. Begitu konsep timnya diterima, Fauzhan dan kawan-kawan langsung berangkat ke Jakarta.

Seniman asal Fakfak dan desain muralnya. (foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Tak hanya ikut lomba, mereka menganggap lomba mural tersebut sebagai ajang bertemu dengan rekan-rekan sesama seniman. “Kami ke sini, senang-senang saja bergembira. Ngumpul se-Indonesia ada yang dari Papua, Bandung, dan Bogor. Ini semacam 'lebaran street art',” cetus seniman kelompok Jakarta 1991, Edi Bonetski. Menurut Edi, kebudayaan dan seni mampu mencairkan perbedaan di antara mereka.

Karya-karya mereka pun sangat menarik dan berkarakter. “Semua desain yang masuk sangat menarik sampai kami sulit menentukan pilihan,” ungkap Aidil. Karya-karya tersebut merupakan spirit yang hadir dari renungan-renungan seniman untuk menghayati tema yang yang diberikan oleh panitia.

Edi Bonetski menjadi seniman pertama yang melukis. (foto: MP/Iftinavia Pradinantia)

Menurut salah seorang seniman asal Rengasdengklok, Pino Ropani, dalam membuat karya, ia dan Tim Sedeng (Seniman Dengklok) memasukkan jiwa mereka dalam lukisan. “Imajinasi tidak ada batasnya,” cetusnya. Sementara itu, Edi dan kawan-kawan Jakarta 1991 menggambarkan semangat Asian Games da Kemerdekaan Indonesia. “Visual itu adalah jiwa yang nampak. Melalui gambar, kami ingin menghadirkan semangat,” tutur Edi. Meski tak ingin membatasi imajinasi para seniman, panitia membuat beberapa persyaratan sederhana yang harus dipatuhi mereka.

“Desain berbau SARA, fasis, dan kekerasan haram untuk diikutsertakan dalam kompetisi ini,” kata Aidil.

Tim panitia tidak ingin mural menjadi seni yang main-main. Untuk itu, Aidil dan panitia memberikan waktu empat hari untuk menyelesaikan gambar. “Itu dilakukan supaya mereka intens, total, dan rileks untuk mengekspresikan diri mereka secara kolektif,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama CMNP Tito Sulistio berharap karya-karya seniman seluruh Indonesia ini akan membekas di ingatan para turis yang menyemarakkan Asian Games. “Ketika mereka kembali ke negara masing-masing, mereka bisa membagikan cerita menyenangkan tentang Jakarta,” tukas Tito.(Avi)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Iftinavia Pradinantia

I am the master of my fate and the captain of my soul
Show More
Bagikan