"JIKA laki kawan ya perempuan kawin," demikian bait kelima puisi Mbeling gubahan Remy Sylado bertajuk Belajar Menghargai Hak Asasi Kawan.
"Jika kawan kawin ya jangan ngintip," lanjut bait keenam sekaligus mengakhiri puisi Belajar Menghargai Hak Asasi Kawan. Seniman Remy Sylado merupakan penggagas puisi mbeling yang mulai ia tulis sekitar tahun 1972.
Puisi Mbeling berasal dari bahasa Jawa yang berarti nakal, susah diatur, dan memberontak. "Apabila dilihat sejarahnya, puisi mbeling merupakan nama sebuah kolom yang diasuhnya di majalah Aktuil," demikian menurut laman resmi kemdikbud.
Baca Juga:
Remy lahir di Malino pada 12 Juli 1945. Ia juga dikenal oleh banyak orang dengan nama lengkap Yusbal Anak Perang Imanuel Panda Abdiel Tambayong atau disingkat Japi Tambayong. Ia lahir dari pasangan Johannes Hendrik Tamboyang dan Juliana Panda. Remy menikah dengan seorang perempuan bernama Maria Louise.
Sosok Remy merupakan seniman yang serbabisa atau multitalenta. Ia menjalani profesi sebagai penulis buku drama, sutradara, aktor teater, pemain film, sinetron, penyair, novelis, hingga pelukis. Sebelum tutup usia pada Senin (12/12) di usia ke-77 tahun, Remy merupakan sosok produktif dalam menciptakan karya-karyanya yang menginspirasi.
Bahkan, di 2022 sosok Remy masih menulis buku, mengisi ruang-ruang pertemuan ilmiah, melakukan orasi budaya, dan melakukan aktivitas produktif lainnya. Semangatnya dalam berkarya masih terus membara walau ia sudah menjadi generasi kakek-kakek.
Remy sudah mulai menulis novel sejak remaja. Pada usianya yang belum genap 16 tahun, menurut majalah Tempo (27/1/2013), Remy menulis novel pertamanya berjudul Inani Keke. Setelah Inani Keke, karya-karya Remy lainnya terus lahir, mulai dari cerpen, puisi, naskah drama, hingga syair lagu.
Baca Juga:
Hingga akhir hayatnya, Remy sudah menulis ribuan puisi, puluhan novel, naskah drama, dan lagu. Ia juga menghasilkan tulisan sastra, seni rupa, musik, film, dan teater. Bahkan, ia juga pernah menulis tentang teologi, kamus dan ensiklopedia. Menariknya, karya-karya tersebut ia hasilkan menggunakan mesin tik, bukan komputer atau laptop. "Ah ini masalah kebiasaan saja," kata Remy menyatakan alasannya menggunakan mesin tik dalam berkarya karena sudah terbiasa.
Kemampuan Remy dalam berbahasa pun juga sangat luar biasa. Bahasa yang ia kuasai ialah Mandarin, Jepang, Arab, Yunani, Inggris, dan Belanda. Tidak jarang dalam tulisan dan ceramah ilmiahnya ia membahas kebahasaan.
Selain itu, ia juga pernah menjalani profesi sebagai wartawan di media massa cetak berskala nasional. Ia juga merupakan penggagas berdirinya Dapur Teater di Bandung, dan pengasuh beberapa majalah. Selamat jalan Remy Sylado, karyamu akan selalu dikenang sampai kapanpun. (ikh)
Baca Juga: