SEJARAH Pulau Run dan Manhattan memberikan berbagai inspirasi pada Made Wianta untuk mencipta karya seni.
Pria kelahiran Tabanan, Bali, 20 Desember 1949 itu kerap melaukan perjalanan ke dua lokasi tersebut. Hingga akhirnya sebuah pemeran karya seni yang bertajuk Run For Manhattan menjadi retrospektif delapan periode karya dari sang maestro Made Wianta.
“Sekitar 6 kali bapak pergi ke New York mengunjungi Manhattan. Pernah ke Pulau Run juga khusus untuk meneliti tentang buah pala,” tutur Buratwangi, anak dari Made Wianta, saat ditemui di Ciptandana Center, Jakarta, Jumat (24/11).
“Dua tempat tersebut (Run dan Manhattan) yang menginspirasi Bapak untuk menciptakan karya seni," lanjut Buratwangi.
Karya-karya lukisan dari Made Wianta yang terinspirasi dari Pulau Run dan Manhattan dipamerkan pada The Ciptadana Art Program. Seperti The Storm, lukisan yang dibuat pada tahun 2009 tersebut memakan waktu kurang lebih 6 bulan. Yang menggambarkan pulau Run dan Manhattan kala itu.
Harga yang dibandrol pun untuk lukisan The Strom yakni Rp750 juta. Selain itu, ada pula 42 lukisan yang menarik lainnya yang dipamerkan, antara lain yaitu Molluccas Rock (2012), Island Silhouettes (2012), Fort Belgique (2015) Fifth Avenue (2003), City Lights (2015), NYC Town Hall (2014) dan masih banyak yang lainnya. (ryn)