MerahPutih.com - Dua ekor kuda yang diberikan masyarakat Sumba Barat Daya (SBD), NTT kepada Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan Agustus lalu bukanlah merupakan gratifikasi. Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Sumba Barat Daya Markus Dairo Talu menanggapi pemberitaan media terkait laporan gratifikasi Jokowi kepada KPK.
Menurut Markus, kuda Sandalwood yang diberikan ke Jokowi itu memiliki nilai budaya yang khas. Sesuai budaya dan adat istiadat yang dianut turun temurun dari leluhur masyarakat Sumba Barat Daya.
"Jangankan untuk seorang pejabat, untuk masyarakat biasa saja kalau berkunjung ke rumah seseorang, itu adatnya tuan rumah memberikan kain tenun dan wajib menikam seekor babi dan menyerahkan kepada tamu yang datang itu," kata Markus , Rabu (31/8).
Seperti dikatehui, Jokowi mendapat dua kuda tersebut saat menghadiri event parade 1001 ekor kuda Sandalwood dan Festival tenun ikat di Lapangan Galatama Tambolaka.
Menurut Bupati Markus, pemberian kuda itu sudah sesuai budaya masyarakat Sumba Barat Daya. Dan perlu diklarifikasi bahwa harga dua ekor kuda itu tidak mencapai ratusan juta seperti yang diberitakan media bahwa harganya mencapai Rp 170 Juta.
"Harga dua ekor kuda itu paling tinggi itu Rp 20 Juta, masing-masingnya Rp 10 juta per ekor. Jadi tidak benar itu kalau harganya Rp 170 Juta, kalau tidak percaya ya datang saja di SBD dan dicek langsung harga kuda," ujarnya.
Markus menjelaskan, saat itu Presiden diberi penghargaan dan predikat oleh masyarakat Sumba Barat Daya sebagai seorang Rato (Raja). Nah, sebagai seorang Rato sudah sepantasnya Presiden diberikan pula perlengkapan. Perlengkapan itu adalah kain tenun, parang dan kuda tunggangan.
"Kalau Rato/Raja di SBD itu harus memiliki perlengkapan itu. Karena bagi masyarakat SBD, kuda melambangkan kejantanan dan atau kesatria dari seorang laki-laki yang diangkat sebagai Rato," kata Bupati yang akrab disapa MDT itu.
Jadi, kata Markus, sebenarnya pemberian kuda itu tidak perlu dilaporkan ke KPK. Sebab, kehadiran pak Presiden saat itu dalam rangka menghadiri festival budaya. "Di situlah nilai budaya dari Kabupaten Sumba Barat Daya," kata Markus. (naldy)

