MerahPutih.Com - Salah satu isu utama perayaan Natal 2017 di China yakni munculnya seruan dan perintah boikot dari Partai Komunis China. Sejumlah institusi melarang pemasangan ornamen dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Natal.
Namun jika menilik pada kenyataan, justru yang terlihat adalah pemandangan sebaliknya. Hampir seluruh pusat perbelanjaan di China berhiaskan pohon cemara dan sejumlah atribut Natal lainnya.
Beberapa pelayan sejumlah rumah makan di Beijing juga berpakaian ala Sinterklas. Lagu-lagu bertemakan Natal juga terdengar di tempat-tempat yang menjadi titik konsentrasi massa.
Sampai di situ tidak ada yang janggal dengan perayaan Natal karena dianggap sebagai fenomena biasa di setiap akhir tahun.
Namun tiba-tiba muncul berita mengenai larangan Natal bagi warga perkotaan dan pelajar perguruan tinggi di China. Media asing menganggap larangan Natal di China atas pertimbangan politis untuk menghindari pengaruh Barat.
Sejumlah anggota Partai Komunis China, terutama di Beijing dan Shanghai, mengaku tidak mendapatkan informasi mengenai adannya larangan tersebut sebagaimana laporan Global Times, Senin (25/12).
Sebagaimana dilansir Antara, Selasa (26/12) larangan yang dikeluarkan oleh beberapa institusi di daerah tersebut untuk menjaga stabilitas keamanan dan bukan bertujuan untuk memboikot Natal, demikian media yang dikelola partai berkuasa di China itu Bagi umat Kristiani, Natal adalah hari raya keagamaan yang sakral, tapi bagi sebagian besar kawula muda China adalah perayaan belanja atau "shopping festival".
Tidak heran, jika Taobao, TMall, dan sejumlah platform belanja berbasis internet lainnya juga menggelar gebyar diskon besar-besaran saat Natal.
Meskipun perdebatan panjang mengenai boleh atau tidaknya merayakan Natal tidak bisa dihindari, kenyataannya bulan Desember telah menjadi momentum yang tidak kalah komersialnya dibandingkan perayaan lain.
Kaum remaja di China memahami sedikit tentang makna dan signifikansi Natal yang dianggapnya sebagai budaya asing sehingga mereka tidak berkewajiban mengikuti ritual yang terkandung di dalamnya.
Dalam era globalisasi komunikasi yang memicu terjadinya penyebaran lintasbudaya itu sudah tidak bisa dihindari lagi kalau perayaan Natal jauh lebih populer daripada perayaan tradisional China, seperti Fetival Musim Gugur.
Budaya Barat sudah menjalar di China lebih dari seabad, sedangkan tradisi budaya masyarakat setempat masih terus dilestarikan hingga kini.
Oleh sebab itu, sejumlah pihak berwenang dan elemen masyarakat di China memohon dimaklumi bahwa mereka sedang berupaya menjaga jarak dengan budaya-budaya asing yang dianggapnya dapat menggerus eksistensi budaya lokal.(*)