MerahPutih.com - Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon menggugat metodologi sejumlah lembaga survei yang selalu menempatkan kandidat petahana pasangan Jokowi-Maruf memenangkan Pilpres 2019 dengan tingkat elektabilitas di atas 50 persen. Bahkan, ketika ada lembaga survei yang tetap memenangkan Jokowi, tetapi di bawah 50 persen langsung dicap tidak independen oleh pendukung capres 01.
"Metodologi ini sudah kuno, dengan begitu melimpah ruahnya informasi yang luar biasa, tidak ada lagi dominasi informasi," kata Fadli, kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (26/3).
Fadli mengingatkan hasil survei tidak selalu benar pada kenyataannya karena adanya faktor kepentingan pemesan survei. Contohnya, kata dia, Donald Trump diprediksi kalah hampir semua lembaga survei jelang Pemilu Amerika Serikat 2016, malah akhirnya menang. Begitu pula saat Pilkada DKI 2017 mayoritas lembaga survei menyebutkan petahana Basuki Tjahaja Purnama pasti menang, tetapi akhirnya yang terpilih Anies Baswedan.
"Kalau lembaga survei berhimpit dengan konsultan politik maka akan ada conflict of interest , dia akan menjadikan survei itu sebagai alat propaganda, alat kampanye dari yang membayar dia sebagai konsultan politik," tutur Fadli Zon.
Gugatan Fadli Zon itu juga dirasakan Rektor Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Musni Umar yang resah dengan dengan maraknya survei yang tidak transparan, baik dari aspek metodogi maupun pendanaan. Dia mengkritik metodologi survei yang justru mengarahkan responden agar memilih sesuatu yang sudah diskenariokan dari awal.
Menurut Musni, data yang diperoleh berasal dari hasil wawancara setiap orang, baik itu responden maupun bukan, masih bisa berubah tergantung konteks dan situasi yang dihadapi. "Fenomena yang kita saksikan di saat kampanye dengan hasil wawancara saya dengan masyarakat itu sama sekali tidak tercermin dari hasil survei yang ada," tutur Musni dalam kesempatan berbeda.
Musni juga menyoroti sisi netralitas hasil survei lembaga survei cenderung bias, terlebih saat ini belum transparansi dana lembaga survei yang cenderung sumbernya masih misterius. "Jadi dia (Lembaga Survei) tidak mandiri, siapa yang mendanai tentu lembaga survei itu dia akan mengikutiyang mendanai," tutup Rektor UIC itu. (*)