‘Pulau Plastik’ Tayang di Bioskop Jakarta
Tayang terbatas di bioskop Jabodetabek. (Foto: Instagram/dandhy_laksono)
YANG ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Setelah tayang perdana di Bali, film dokumenter Pulau Plastik akan hadir di bioskop Jakarta mulai 29 April hingga 8 Mei 2021. Film ini diharapkan dapat memberikan kesadaran akan dampak sampah plastik yang masih sering digunakan.
“Senang banget karena tadinya kita pikir enggak mungkin tayang di bioskop karena pas film selesai, masuk pandemi. Sekarang kita ada di sini di situasi yang gak seideal yang kami harapkan tapi film ini bisa muncul di bioskop,” kata CEO Visinema Group, Angga Dwimas Sasongko usai pemutaran perdana Pulau Plastik, Kamis (29/4) mengutip ANTARA.
Film yang digarap oleh sutradara Dandhy Laksono dan Rahung Nasution ini merupakan proyek kolaborasi antara Visinema Pictures, Kopernik, Akarumput, dan WatchdoC yang sebelumnya ada dalam bentuk serial.
Baca juga:
Segera Tayang, Dokumenter ‘Pulau Plastik’ Angkat Isu Sampah Plastik
Lihat postingan ini di Instagram
“Saya harap penonton bisa menontonnya di layar lebar akrena buat saya efek nonton visual di layar lebar akan berbeda. Jadi kita bisa ngerasain problem utamanya apa dan kita juga bisa ngerasain urgensinya soal plastik ini, seberapa besar dan senang akhirnya bisa ke bioskop dan akhirnya sampai di Jakarta,” ujar Angga.
Pulau Plastik tayang terbatas di bioskop Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, dan Tangerang. Tpai enggak perlu khawatir, ke depannya film ini dapat disaksikan lewat layanan streaming digital.
Pulau Plastik tentang tiga orang yang menolak diam melawan plastik sekali pakai. Mereka adalah Gede Robi vokalis band rock Navicula asal Bali, Tiza Mafira pengacara muda asal Jakarta, dan Prigi Arisandi ahli biologi dan penjaga sungai asal Jawa Timur.
Baca juga:
Netflix Hadirkan Film Dokumenter Kisah Pembunuhan Paling Terkenal di Kanada
Lihat postingan ini di Instagram
Ketiganya menelusuri sejauh mana jejak sampah plastik menyusup ke rantai makanan, dampaknya terhadap kesehatan manusia, dan apa yang bisa dilakukan untuk menghentikannya.
Dandhy mengatakan, film ini bukan hanya kolaborasi para produser, filmmaker, dan karakternya, tapi juga kombinasi antara ilmu pengetahuan, aktivisme jalanan, kerja-kerja kesenian, hingga investigasi dalam videografi.
“Saya percaya amplifikasi dari cerita ini akan luar biasa. Ceritanya luar biasa dan ditayangkan di platform yang mainstream (bioskop),” tutup Dandhy. (and)
Baca juga: