Kesehatan

Psikolog Ungkap Jurnalis Rentan Alami Depresi dan Kecemasan

Dwi AstariniDwi Astarini - Minggu, 01 Desember 2019
Psikolog Ungkap Jurnalis Rentan Alami Depresi dan Kecemasan

Profesi jurnalis penuh tekanan. (foto: careercast)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BAGI sebagian orang, jurnalis merupakan profesi yang keren dan seru. Mereka yang berprofesi di jalanan tersebut menjadi saksi peristiwa menarik di berbagai belahan dunia.
Tak terhitung pula berapa banyak sosok inspiratif atau figur publik yang mereka temui sehari-hari. Para pewarta juga mampu mengemas sebuah momen menjadi begitu berkesan lewat kata-kata.

Namun, tak banyak yang tahu bahwa di balik semua hal seru tersebut ada begitu banyak yang mereka korbankan. Selain mengorbankan waktu bersama orang terkasih, mereka juga mengorbankan kesehatan mental. Hasil riset Federasi Serikat Pekerja Media (FSPM) Independen dan Aliansi Pemuda Pekerja Indonesia (APPI) di 2018 menyatakan sebagian besar jurnalis mengeluhkan gangguan kejiwaan.

BACA JUGA: Alasan Mengapa Merantau Merupakan Keputusan yang Baik

Senada dengan FSPM dan APPI, CareerCast mengatakan bahwa reporter dan broadcaster menjadi profesi paling stres di di dunia setara dengan anggota militer, polisi, dan pemadam kebakaran.

Setiap harinya mereka harus berhadapan dengan beban kerja yang tinggi dan jam kerja yang tak pasti. Psikolog klinis Sustriana Saragih mengatakan energi negatif yang mereka terima saat meliput di lapangan juga dapat memengaruhi kesehatan mental mereka. "Ketika terpapar dengan emosi atau peristiwa negatif seperti bencana, konflik, kriminalitas, dan lain-lain, mereka harus bisa berpikir tenang dan objektif," ujarnya saat ditemui di kawasan Pemuda, Jakarta Timur, Sabtu (30/11).

"Ketika ada kasus pemerkosaan, respons yang wajar terjadi ialah rasa marah, kesal, atau sedih. Namun, para jurnalis ini tidak bisa mengekspresikannya dengan benar karena dituntut kebutuhan untuk menyajikan berita," tambahnya. Ia mengatakan berbagai peristiwa mulai dari yang tragis, menyeramkan hingga menyedihkan tersebut disimpan dalam memori mereka dan dibiarkan mengendap begitu saja.

jurnalis
Jurnalis harus tetap netral saat meliput. (foto: columbia jounalist review)

Para jurnalis tangguh tersebut seolah mengabaikan sisi humanis mereka agar bisa fokus di lapangan. Selain itu, Sustriana mengatakan bahwa manajemen emosi para jurnalis yang buruk menyebabkan stres, sulit fokus, sering cemas, insomnia, mental fatigue, marah, sedih tanpa alasan, temperamental, putus asa, depresi, frustrasi, merasa tidak berdaya, dan keluhan kejiwaan lainnya. Mereka menyikapi tekanan yang didapatkan di lingkungan kerja dengan cara yang buruk pula, misalnya merokok, tidur larut malam, hingga minum alkohol.

Jika dibiarkan begitu saja, hal itu dapat menyebabkan stres, kecemasan hingga depresi.
"Tak jarang para jurnalis terjebak dalam harapan yang ambigu dan ketidakjelasan. Dalam situasi tertentu, jurbalis juga merasa kehilangan kekuatan atas waktu dan hidupnya sendiri," urainya.

Sayangnya, tak hanya diri mereka yang cuek menyikapi persoalan emosional, lingkungan sekitar pun seolah tak memedulikan beban psikis yang mereka emban. "Orang-orang bersikap abai pada kesehatan mental para jurnalis di lapangan, begitu pun dengan perusahaan yang fokus pada profit yang bisa dihasilkan para jurnalis," ucapnya.

jurnalis
Sayangnya, kesehatan mental jurnalis masih diabaikan. (foto: the big smoke)

Padahal ketika para jurnalis ini mengalami gangguan kejiwaan, mereka tak lagi bisa menjalankan tugas dengan baik. Produktivitas mereka pun akan terganggu.

Tak hanya menjadi profesi yang paling membuat stres, reporter juga pekerjaan dengan bayaran yang rendah. Bayaran yang didapatkan para reporter dan jurnalis berkisar Rp3 juta hingga Rp7 juta. "Para jurnalis sering berhadapan dengan situasi yang membahayakan diri, berisiko cedera hingga berpotensi mendapat ancaman dan intimidasi dari pihak ketiga, tetapi benefit yang didapatkannya rendah," tukas Sustriana.(avia)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Iftinavia Pradinantia

I am the master of my fate and the captain of my soul
Show More
Bagikan