Merahputih.com - Rencana penerapan format baru MotoGP 2027 resmi memicu perdebatan panas di paddock karena dianggap menambah beban kerja para pembalap.
Aturan perombakan jadwal MotoGP 2027 yang bakal menghadirkan kualifikasi sprint race terpisah ini membelah opini, di mana sebagian rider mendukungnya demi promosi, sementara sisanya memprotes keras tuntutan fisik yang makin brutal.
Baca juga:
MotoGP 2027 Punya Format Baru, Kualifikasi Sprint dan Grand Prix Dipisah, Sesi Warm-Up Dihapus
Perubahan paling mencolok dari format baru MotoGP 2027 ini jelas ada pada hadirnya sesi kualifikasi sprint race khusus yang berdiri sendiri.
Bagi mayoritas rider, jadwal MotoGP 2027 yang makin padat ini otomatis menguras energi ekstra, apalagi mereka juga harus beradaptasi dengan spesifikasi motor dan ban yang benar-benar baru.
Namun, pembalap pabrikan Ducati seperti Francesco Bagnaia dan Luca Marini justru melihat format baru MotoGP 2027 ini sebagai langkah jitu untuk mendongkrak popularitas kejuaraan di mata penggemar balap dunia.
Bagnaia Santai, Acosta dan Marquez Merasa Diabaikan
Bagnaia sebenarnya tidak terlalu kaget dengan regulasi anyar ini. Menurutnya, wacana dua sesi kualifikasi terpisah memang sudah lama disuarakan sejak balapan sprint pertama kali diperkenalkan.
Di sisi lain, ia juga menyoroti jarangnya pembalap hadir di rapat Komisi Keselamatan, yang membuat suara mereka sering kali kurang didengar saat pembuatan aturan.
Saya suka perubahan ini; saya pikir ini perbaikan, meski saya tidak suka hilangnya pemanasan Minggu. Akan lebih positif jika tetap ada,
ungkap Bagnaia.
Berbanding terbalik dengan Bagnaia, Pedro Acosta justru melontarkan kritik tajam. Rider muda KTM ini merasa para pembalap sama sekali tidak dilibatkan dalam mengambil keputusan krusial ini.
"Kami tidak diberi pilihan. Mereka menerapkannya begitu saja," keluh Acosta.
Ia juga menambahkan bahwa jadwal akhir pekan yang sudah terlampau sibuk sering kali memaksanya absen dari rapat Komisi Keselamatan.

Senada dengan Acosta, Alex Marquez dari tim Gresini melihat fenomena ini murni sebagai keputusan sepihak dari penyelenggara dan tim, bukan dari kacamata pembalap.
"Ini adalah kejuaraan baru, dan Anda harus menerimanya atau meninggalkannya," tegas Alex.
Sementara itu, Fabio Quartararo lebih pusing memikirkan adaptasi motor 850cc dan ban baru nanti ketimbang harus meratapi dihapusnya sesi pemanasan (warm-up) di hari Minggu.
Pengorbanan Demi Pamor MotoGP
Meski sarat dengan pro dan kontra, Luca Marini mencoba menenangkan suasana dengan melihat gambaran besarnya.
Baca juga:
MotoGP Indonesia 2026 Tak Cuma Balapan: Ungu hingga Agnez Mo Siap Guncang Sirkuit Mandalika
Pembalap Repsol Honda ini yakin bahwa pengorbanan ekstra di lintasan akan sepadan dengan naiknya pamor ajang balap motor nomor wahid ini.
"Kami melakukan hal yang benar agar MotoGP bisa tumbuh lebih besar," ujar Marini.
Ia berharap para penggemar bisa lebih menikmati serunya format baru nanti, sekaligus menyadari bahwa para pembalap ini sedang menyajikan tontonan motorsport tingkat tinggi yang terbaik di dunia.