Merahputih.com - Prediksi IHSG hari ini menunjukkan tren positif di awal perdagangan, dengan pergerakan IHSG dibuka menguat ke level 5.940,68 di tengah ketidakpastian sentimen global. Kenaikan tipis pasar modal Indonesia ini memberikan angin segar bagi investor yang terus memantau dinamika saham teknologi dan arah suku bunga The Fed.
Buat kamu yang aktif memantau pergerakan saham, menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 0,25 persen hari ini juga diiringi oleh naiknya indeks LQ45 ke posisi 591,10.
Baca juga:
Perang Jalur Energi Bikin Pasar Keok! IHSG Kompak Memerah Masuk ke Area Gap
Meski begitu, kita tetap harus waspada karena pergerakan IHSG masih sangat rentan terhadap berbagai sentimen global maupun domestik, mulai dari tensi geopolitik di Timur Tengah hingga isu konsentrasi kepemilikan saham di bursa lokal.
Terkait arah teknikalnya, Liza Camelia Suryanata selaku Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia memaparkan analisisnya.
"Jika IHSG mampu menguat, idealnya akan kembali menguji level 5.979 atau 5.995 atau 6.120. Sebaliknya dengan skenario turun, IHSG bisa kembali melemah dan menguji support 5.839, jika breakdown lanjut ke support selanjutnya di 5.805-5.774," ungkap Liza.
Sentimen Global: Demam AI, Inflasi, dan Geopolitik Panas
Dari kancah internasional, sentimen pasar sebenarnya cenderung negatif. Saat ini, para investor lagi wait and see soal valuasi saham teknologi dan makin sengitnya persaingan Artificial Intelligence (AI) asal China.
Kemajuan pesat dari ChangXin Memory Technologies (CXMT) rupanya bikin gerah perusahaan semikonduktor di AS dan Korea Selatan. Menariknya, CEO Broadcom, Hock Tan, sempat memberikan peringatan bahwa belanja besar-besaran untuk infrastruktur AI bisa berujung pada imbal hasil yang rendah.
“Investor juga mencermati risiko inflasi akibat tingginya harga energi dan prospek penerbitan obligasi oleh sektor teknologi,” tambah Liza.

Belum lagi urusan geopolitik Timur Tengah yang makin memanas menyusul serangan kelompok Houthi ke fasilitas energi dan bandara Arab Saudi pada akhir pekan lalu.
Di tempat lain, Iran juga memperkuat fasilitas nuklirnya jelang pemilu sela AS pada November mendatang, yang tentunya bisa memicu risiko gangguan pasokan energi dunia.
Sementara untuk urusan kebijakan moneter, semua mata kini tertuju pada rilis data inflasi AS (CPI) periode September 2026. Data inilah yang bakal jadi penentu arah pergerakan suku bunga The Fed pada pertemuan 27-28 Oktober mendatang, meski ekspektasi kenaikannya masih relatif rendah.
Sebagai gambaran, bursa Eropa dan Wall Street kompak ditutup memerah pada Selasa (13/10), sementara bursa saham regional Asia pagi ini bergerak bervariasi dengan indeks Kospi Korea memimpin penguatan hingga 1,45 persen.
Fokus Domestik: Aturan Saham Baru dan Ekspor Sawit
Beralih ke dalam negeri, ada beberapa isu dari Bursa Efek Indonesia (BEI) yang patut disimak. Pada awal pekan, BEI baru saja memasukkan 19 saham ke daftar High Shareholding Concentration (HSC), yang mengindikasikan bahwa kepemilikan saham-saham tersebut menumpuk pada segelintir investor saja.
“Penambahan tersebut menjadi perhatian investor terhadap struktur kepemilikan saham dan konsentrasi kepemilikan pada sejumlah emiten di pasar modal Indonesia,” kata Liza.
Selain itu, BEI juga bersiap menggelar RUPSLB pada 28 Oktober 2026.
Kabar baiknya datang dari sektor komoditas. Pemerintah tengah gencar memperkuat sistem informasi kelapa sawit berkelanjutan (SI-ISPO) agar rantai pasoknya lebih transparan dan mudah dilacak.
Baca juga:
Prediksi IHSG Hari Ini Rawan Sideways, Cek Sentimen Global yang Bikin Pasar Galau
Langkah ini krusial untuk memenuhi standar ketat pasar global, termasuk regulasi deforestasi Eropa (EUDR). Melalui dukungan verifikasi dari PT SUCOFINDO, program ini mendapat apresiasi positif dari pelaku pasar.
“Inisiatif ini diharapkan meningkatkan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan sekaligus menjaga daya saing produk kelapa sawit Indonesia di pasar internasional,” tutup Liza