Merahputih.com - Buat kamu yang sedang memantau prediksi IHSG hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin diproyeksikan bergerak sideways alias mondar-mandir di tempat akibat kuatnya sentimen pasar global.
Mengawali pekan ini, pergerakan IHSG Senin sempat dibuka hijau namun berbalik melemah 0,48 persen ke level 6.064,27.
Kondisi ini membuat para investor harus lebih jeli mengatur strategi di tengah minimnya katalis positif dari dalam negeri.
Baca juga:
IHSG Hari Ini Anjlok Parah dan Rupiah Loyo pada Penutupan Perdagangan Kamis 8 Oktober 2026
Lesunya sentimen pasar saham domestik ini tak lepas dari dinamika luar negeri yang mendominasi arah investasi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah sukses mendongkrak harga minyak dunia, yang pastinya berdampak langsung pada portofolio investasi saham 2026 kamu.
Belum lagi, kelompok saham unggulan LQ45 juga ikut tergelincir 0,52 persen ke posisi 598,57, membuktikan bahwa para trader sedang pasang mode wait and see dalam membaca arah angin.
Proyeksi dan Level Konsolidasi IHSG
Arah pergerakan bursa saham domestik pekan ini diperkirakan tidak akan banyak melakukan manuver tajam. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memberikan pandangannya terkait kondisi teknikal indeks saat ini.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan bergerak konsolidasi pada kisaran 6.000-6.215 pada pekan ini. Namun perlu waspadai dampak kenaikan harga minyak dan perluasan cakupan saham High Shareholding Concentration (HSC),
Ratna Lim.
Lantaran sentimen dari dalam negeri relatif sepi, IHSG jadi jauh lebih sensitif terhadap isu-isu eksternal. Mulai dari pergerakan yield Treasury, data perdagangan dan inflasi Tiongkok, hingga rilis data inflasi Amerika Serikat (AS).
Sentimen Global yang Bikin Pasar Wait and See

Ada beberapa isu utama dari mancanegara yang saat ini sedang menjadi sorotan utama para pelaku pasar dan bisa menyetir arah bursa:
-
Manuver Minyak AS-Rusia: Presiden AS Donald Trump menyebutkan bahwa Rusia telah sepakat untuk kembali menyuplai bahan bakar diesel, baik untuk pasar AS maupun global.
-
Kepercayaan Konsumen AS Anjlok: Indeks sentimen konsumen dari University of Michigan merosot ke angka 46,3 pada estimasi Oktober 2026, mencatat level terendahnya sejak Mei lalu.
-
Tensi Timur Tengah: Serangan kelompok Houthi ke bandara Arab Saudi kembali memanaskan situasi geopolitik, yang berpotensi melambungkan harga minyak mentah di pasaran.
-
Pertemuan Petinggi Ekonomi Dunia: Mata investor juga tertuju pada agenda tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok (12-18 Oktober 2026) yang membahas isu krusial seperti utang publik, biaya energi, hingga fluktuasi pasar obligasi.
Terkait agenda IMF tersebut, Ratna Lim kembali menegaskan pentingnya memantau sinyal dari para pembuat kebijakan.
"Pasar akan mencermati pidato dari para pejabat bank sentral seluruh dunia serta dirilisnya laporan World Economic Outlook versi terbaru dari IMF pada hari Selasa (13/10)," tambahnya.
Rapor Menghijau di Bursa Eropa dan Wall Street
Meski bursa Asia terpantau mixed cenderung melemah—dengan pelemahan Kospi (Korea Selatan) hingga 2,13 persen dan Shanghai turun tipis 0,10 persen—bursa Barat justru menunjukkan ototnya pada penutupan akhir pekan lalu (09/10).
Di bursa Wall Street AS, indeks S&P 500 naik 0,59 persen ke 7.811,54, disusul Nasdaq yang menguat 0,64 persen ke 27.336,17, dan Dow Jones melesat 0,83 persen ke 51.654,95.
Baca juga:
IHSG Hari Ini Tancap Gas! Suku Bunga The Fed Batal Naik, Waktunya Borong Saham?
Penguatan ini terjadi jelang rilis data Consumer Price Index (CPI), Producer Price Index (PPI), serta laporan keuangan kuartal III dari berbagai emiten raksasa AS.
Pemandangan serupa juga terjadi di Eropa, di mana indeks utama seperti FTSE 100 Inggris dan DAX Jerman kompak ditutup di zona hijau.