Post Holiday Blues, Sindrom Kesedihan setelah Liburan

Dwi AstariniDwi Astarini - Rabu, 02 Januari 2019
Post Holiday Blues, Sindrom Kesedihan setelah Liburan

Kembali bekerja setelah liburan bikin malas. (foto: pixabay/StockSnap)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

LIBURAN baru saja berlalu. Saatnya kini kembali ke dunia nyata beserta aktivitasnya. Inilah bagian yang paling tidak menyenangkan dari liburan: ketika liburan berakhir.


1. Kaget menghadapi perubahan

people
Otak harus menyesuaikan setelah liburan.(foto: pixabay/stocksnap)


Ketika berlibur, kamu bisa bersantai dan beristirahat. Nah, ketika itu berakhir, kamu harus kembali ke kesibukan harian. Perubahan itu membuat kamu merasa kaget, murung, bahkan depresi.

Jika kamu tengah merasakan hal seperti itu, berarti kamu tengah mengalami post holiday blues.

Seperti dikutip dari Hellosehat, sindrom post holiday blues adalah kondisi emosional yang dirasakan setelah menikmati liburan. Ada dua hal yang menyebabkan kamu merasa murungsetelah liburan, yakni merasa liburan sangat menyenangkan atau kamu hanya ingin ada di masa liburan daripada kembali bekerja.

Sindrom ini mirip dengan seasonal affective disorder (SAD), yaitu gangguan emosional yang terjadi pada waktu-waktu tertentu. Semisal ada yang mendadak mellow saat hujan deras melanda.


2. Ilusi otak

people travelling
Otak hanya merekam pengalaman senang saat liburan. (foto: pixabay/stocksnap)


Merasa sedih setelah berlibur bisa jadi terdengar enggak mungkin. Namun, banyak orang mengalami hal itu. Bagaimana bisa ya?

Seperti dilansir The New Daily, Dr Melissa Weinberg, seorang psikolog dari San Fransisco, mengatakan, saat kamu mengalami liburan yang menyenangkan, itu hanyalah ilusi yang dibuat oleh otak. Seburuk apa pun pengalaman liburan kamu, otak tetap hanya akan merekam bagian yang kamu nikmati ketimbang pengalaman buruk.

Jadi enggak peduli kamu menikmati liburan atau enggak, otak kamu akan tetap menerima bahwa liburan sudah kamu lewati. Pasalnya, otak dirancang untuk merekam berbagai kegiatan yang dilakukan secara konsisten, seperti kebiasaan bekerja yang sehari-hari kamu lakukan. Termasuk saat berlibur, kondisi emosional kamu akan terbiasa untuk menikmati istirahat.

Jadi, saat kembali menghadapi pekerjaan, otak akan ‘kaget’ dan kembali menyesuaikan setelah keadaan setelah berubah. Apa yang kamu alami itu merupakan normalisasi pascaliburan.


3. Kenali gejalanya

headache
Sakit kepala bisa jadi gejala post holiday blues. (foto: pixabay/geralt)


Proses normalisasi pascaliburan itu membuat kamu merasakan beberapa hal, semisal sakit kepala, insomnia, gelisah, hingga aktivitas motorik berlebih akibat ketegangan.

Meskipun demikian, kamu enggak perlu khawatir berlebih. Sindrom ini enggak akan berlangsung lama. Paling hanya di minggu awal pascalibur kamu akan merasakannya. Namun, jika kamu masih merasakan murung meski sudah jauh lewat masa pascaliburan, berarti itu saatnya kamu mencari bantuan profesional dan dukungan dari keluarga.(*)

Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Bagikan