Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1

Perempuan Lebih Banyak Tertawa ketimbang Laki-Laki

Dwi AstariniDwi Astarini - Kamis, 08 Februari 2018
Perempuan Lebih Banyak Tertawa ketimbang Laki-Laki

Ilustrasi. (foto: pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SAAT mendengar cerita lucu atau menonton acara komedi, Anda pasti akan tertawa. Setiap orang punya gaya tertawa yang berbeda. Ada yang terbahak-bahak, cekikikan, terkekeh, bahkan ada pula yang tertawa lepas.

"Tertawa merupakan mekanisme tubuh yang dimiliki semua orang. Tawa menjadi bagian dari kosakata universal yang dimiliki manusia. Ada ribuan bahasa dan ratusan ribu dialek di dunia ini, tapi semua orang tertawa dengan cara yang hampir sama,” ujar Robert R Provine, PhD, pakar perilaku neurobiologis asal University of Maryland di Baltimore, seperti dilansir WebMD.

Sebagai kosakata universal, tertawa merupakan sebuah insting primitif, sebuah refleks suara yang keluar tanpa disadari.

“Ketika tertawa, kita memancarkan suara dan mengekspresikan luapan emosi primitif yang berasal dari dalam tubuh kita,” lanjut Provine.

Manusia bisa tertawa sekitar 30 kali lebih banyak saat dikelilingi orang lain daripada saat mereka sendirian. Biasanya orang akan tertawa lebih keras saat sendiri.

Sementara itu, saat bersama teman, tawa lebih sebagai bentuk ikatan sosial dan berbagi pengalaman bersama.

Provine kemudian membeberkan bagaimana gaya tertawa perempuan dan laki-laki bahkan juga bisa berbeda. Setelah mengamati hampir 1.200 orang secara acak di berbagai lingkungan sosial, ia menemukan bahwa perempuan bisa tertawa lebih sering daripada pria.

Temuan Provine menunjukkan bahwa perempuan memiliki antusiasme yang lebih tinggi dan bisa tertawa 126% lebih sering daripada orang yang mereka ajak bicara.

Hal sebaliknya terjadi pada pria. Penutur laki-laki lebih pilih-pilih teman bicara untuk diajak tertawa. Selain itu, pria akan tertawa lebih banyak saat bercakap-cakap dengan sesama teman pria daripada dengan pendengar perempuan.

Uniknya, alasan orang tertawa terbahak-bahak bukanlah karena mendengar lelucon yang seperti selama ini kita kira.

"Kebanyakan tawa bukanlah sebagai respons atas lelucon, cerita anekdot, atau hal-hal humor lainnya,” ujar Provine.

Ternyata kebanyakan tawa mencerminkan sebuah hubungan yang menyenangkan antarorang.

“Tertawa bukan tentang lelucon. Jika sangat memperhatikan kehidupan sehari-hari Anda, Anda akan tertawa,” jelas Provine.

Seperti obrolan ringan, tawa memainkan peran yang agak mirip dalam ikatan sosial, yaitu untuk memperkuat persahabatan dan menarik orang ke dalam kehangatan.

Cara orang tertawa biasanya akan disesuaikan dengan situasi dan alasan yang membuat orang tergelak. Seseorang bisa punya lebih dari satu gaya tawa dan itu dipengaruhi banyak faktor, termasuk kejadian dalam hidup.

Tawa yang seperti ditekan mungkin menandakan pengendalian diri atau malu atau bahkan sekadar usaha basa-basi.

Jadi, apa gaya tertawa Anda?(dwi)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan