Pengamat: Pendekatan Militer Perlu Dilakukan Disiplinkan Warga yang 'Ngeyel'

Angga Yudha PratamaAngga Yudha Pratama - Jumat, 05 Juni 2020
Pengamat: Pendekatan Militer Perlu Dilakukan Disiplinkan Warga yang 'Ngeyel'

Ilustrasi Anggota TNI AD. Foto: Istimewa

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Merahputih.com - Pengamat politik dan militer, Muradi menilai lelibatan TNI-Polri untuk pendisplinan di masa kenormalan baru untuk memberikan efek gentar kepada masyarakat.

Guru Besar di Universitas Padjadjaran (Unpad) ini menjelaskan, masyarakat kurang segan jika hanya diimbau atau ditegur oleh satuan perangkat daerah.

"Pendekatan (mereka) berseragam dan berwibawa punya efek gentar," ujarnya kepada wartawan, Jumat (5/6).

Baca Juga

Penanganan COVID-19 Bernuansa Politik

Muradi menerangkan, jika sudah dirasakan cukup upaya pendisiplinan ini, TNI kembali lagi ke tugasnya seperti biasa.

Pelibatan TNI seharusnya tidak dipermasalahkan karena sejak awal militer sudah 'bercokol' di Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Karena vaksin belum ditemukan, pemerintah secara perlahan ingin membuka aktivitas ekonomi.

Namun, ini membutuhkan kedisiplinan dan kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan. Jika itu tidak berjalan, kasus orang terpapar COVID-19 bisa meningkat tajam. Maka, pemerintah menambahkan pendekatan keamanan dengan melibatkan TNI sebagai bentuk antisipasi.

Sejumlah prajurit Grup 1 Kopassus TNI AD dan personel Polda Banten bersiap mengikuti upacara bulanan di Mako Grup 1 Kopassus di Serang, Banten, Kamis (17/1). ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/ama.

Menurut dia, langkah tersebut cenderung berpacu pula dengan kepentingan lainnya terutama ekonomi termasuk mempertimbangkan pula tingkat kejenuhan masyarakat selama pandemi sehingga adaptasi itu mesti diakselerasi.

"Penguatan kultur new normal itu diharapkan bisa tergelar segera terutama di pusat-pusat keramaian, stasiun, terminal, pasar, mal, karena ada efek gentar dan jera dari kehadiran TNI/Polri sehingga bisa mendorong masyarakat bisa lebih disiplin," jelas Muradi.

Merujuk pada pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kasus kengeyelan sebagian kalangan masyarakat semestinya sudah tak terjadi lagi pada saat masa kenormalan baru.

Pasalnya, kondisi kebaruan itu menuntut masyarakat untuk patuh pada protokol yang ditetapkan terutama kesehatan guna menekan penyebaran COVID-19.

"Karena itu, pendekatan pelibatan personil TNI/Polri yang punya wibawa tertentu, diharapkan tak ada lagi menjawab siap, tapi malah mlipir tapi siap, langsung dipatuhi protokolnya, karena ada efek gentar dan jera duluan," jelasnya.

Baca Juga

PSBB Masa Transisi di DKI Dinilai Percuma Jika Pengawasan Kerap Kendor

Muradi meminta kepada jajaran aparat keamanan untuk benar-benar berkonsentrasi dalam mengawal kebijakan pemberlakuan new normal.

Apalagi personil yang dilibatkan mencapai 340 ribu orang. Permintaan itu dilontarkan karena aksi institusi-institusi keamanan yang cenderung tak bertindak tepat selama pandemi.

"Mereka lebih baik mengamati tempat keramaian, dan memastikan bantuan diterima kepada yang berhak," kata dia. (Knu)

#PSBB #New Normal
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Bagikan