Peneliti Senior LIPI: Indonesia Butuh Pemimpin Kuat Hadapi Ancaman Proxi War

Wisnu CiptoWisnu Cipto - Sabtu, 30 Maret 2019
Peneliti Senior LIPI: Indonesia Butuh Pemimpin Kuat Hadapi Ancaman Proxi War

Jokowi dan Prabowo bersalaman sebelum debat kedua capres dimulai (Foto: Antaranews)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro menegaskan empat topik materi Debat Pilpres yang mempertemukan Capres Petahana Joko Widodo (Jokowi) dan penantangnya Prabowo Subianto malam ini saat krusial jelang detik-detik akhir pencoblosan.

Menurut Siti, debat ini penting untuk melihat arah kebijakan 'Ideologi, Pemerintahan, Keamanan dan Hubungan Internasional' dari kedua capres yang maju bertarung. Terlebih, saat ini Indonesia terkesan belum siap menghadapi ancaman proxy war.

"Mengapa bangsa ini kayaknya menggeliat tak tentu, ini siapa yang mengadu antar kita," kata Wiwiek, sapaan akrabnya, saat berbicara dalam diskusi publik di Jakarta.

Siti Zuhro
Pakar Politik dan Ilmu Pemerintahan LIPI Siti Zuhro . (Foto: Rizky Fitrianto)

Peneliti LIPI itu menegaskan Indonesia harus dipimpin sosok yang kokoh dan mampu menyatukan daerah-daerah, dari Sabang sampai Merauke serta mempertahankan kedaulatan dari berbagai ancaman. Pemimpin yang kuat, lanjut dia, harus mewakili semua pihak bukan hanya mengutamakan kepentingan golongan atau partai.

"Semua atribut tersebut harus diputus ketika dia menjadi pemimpin negara. Filosofi dan pemikiran yang seperti itu yang secara intelek. Ketika mereka menjadi presiden atau bupati, jadi bukan presiden dan bupatinya partai itu saja atau kelompok itu saja. Dia adalah pemimpin seluruh masyarakat," terangnya.

Untuk itu, Wiwiek mengingatkan perlunya kedewasaan dalam berpolitik dari pejabat serta elit politik untuk mencegah disharmoni. Pilpres, kata dia, harusnya memunculkan kontestasi yang menunjukkan kualitas dari visi misi program yang ditawarkan, bukan tudingan Pancasila akan dihapus jika kelompok tertentu berkuasa.

"Ini kan enggak masuk akal, karena bukan Indonesia kalau bukan Pancasila. Mungkin, itu kesalahan KPU kalau membolehkan calon ini," tutup Peneliti Senior LIPI itu. (*)

#Pilpres 2019
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Wisnu Cipto

Jurnalis dan penulis profesional selama dua dekade di industri media, mulai dari koran, televisi, hingga konten digital. Lulusan FISIP UI terlatih merangkai kata-kata terkait isu sosial-budaya-politik-hukum secara akurat dan relevan bagi pembaca, dengan kiblat kode etik jurnalistik dan verifikasi-verifikasi-verifikasi ... Pemegang sertifikasi kompetensi dari Lembaga Pers Dr.Soetomo (LPDS), yang coba terus belajar berkarya dengan 'hati'.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Bagikan