BANTEN, provinsi di ujung barat Pulau Jawa, akan kedatangan para delegasi penari dari beberapa negara Asia dalam ajang Expedition Camp 2018.
Acara yang digagas Komunitas Semanggi tersebut dirancang berbeda dari berbagai bentuk acara pertunjukan lain di Indonesia. Para penari akan tampil di ruang-ruang publik, tidak di atas panggung dalam ruang maupun luar ruang. Yang paling penting, para peserta akan berbagi pengetahuan antarindividu dalam berkarya.
Artistic Director Expedition Camp 2018 Laila Putri Wartawati, saat dihubungi Merahputih.com, Rabu (8/8) mengatakan calon peserta dianggap layak menjadi peserta jika sudah lolos kurasi oleh Ferial Afif.
"Platform yang kita desain bukan hanya tentang menyajikan tarian. Titik fokus yang kita paling tekankan ialah bagaimana Expedition Camp 2018 menjadi ajang pembelajaran antarpelaku. Setiap individu berbagi metodenya kepada penonton. Tentu saja metodenya praktik dan dialog. Selain saling berbagi, kami akan bekerja sama dalam berkarya," terangnya.
Ajang tersebut direncanakan berlangsung 10-17 Agustus 2018 di wilayah Tangerang dan Serang. Peserta akan berkemah selama 5 hari 4 malam dan tampil di Kampung Cacing, kuil di Tangerang, makam Kerkof, dan Benteng Speelwijk.
"Nama yang diajukan kepada kurator ada 40 seniman, tapi hanya 25 orang yang dianggap memenuhi standar. Dari 25 nama tersebut hingga hari ini baru 18 orang yang mengkonirmasi kehadiran, baik dari dalam maupun luar negeri," jelasnya.
Uniknya, tak semua peserta berlatar belakang penari. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, seperti seni, lintas skill dan interest. Para peserta yang telah mengonfirmasi kehadiran hingga hari ini berasal dari Indonesia, Vietnam, Taiwan, Bangladesh, dan Fillipina.(*)