Pasca Pilgub DKI Jakarta Kini Muncul "Perang Identitas"

Luhung SaptoLuhung Sapto - Sabtu, 13 Mei 2017
Pasca Pilgub DKI Jakarta Kini Muncul

Dr Alfan Alfian, Ketua Program Magister Ilmu Politik Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional. (MerahPutih/Ponco Sulaksono)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

Sentimen politik identitas kian menguat saat Pilkada DKI Jakarta 2017, utamanya sentimen keagamaan.

Namun, sentimen keagamaan tersebut mendapat respon balik dari kelompok yang pro terhadap Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Sehingga, memunculkan apa yang disebut sebagai identitas perlawanan.

Ketua Program Magister Ilmu Politik Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional, Dr Alfan Alfian menjelaskan, munculnya gerakan identitas perlawanan ini sangat terasa pasca Ahok divonis bersalah oleh Majelis Hakim Jakarta Utara. Ia menilai, identitas perlawanan itu muncul dengan isu-isu dan simbol Kebhinekaan, Pancasila dan NKRI.

Sejumlah pendukung Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok membentangkan poster di depan gedung PT DKI Jakarta di Jakarta Pusat, Sabtu (13/5). (ANTARA/Galih Pradipta)

"Tetapi pada hakikatnya, sekarang ini telah terjadi perang identitas. Perang identitas antara kelompok yang mengedepankan sentimen keagamaan dengan sentimen 'nasionalisme'," ujar Alfan kepada merahputih.com di Menara UNAS, Kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (13/5).

Alfan berpendapat, menguatnya sentimen identitas telah menyebabkan polarisasi politik. Ia khawatir hal itu akan memicu lahirnya polarisasi sosial di dalam masyarakat.

"Karena sekarang ini sudah gencar di mana-mana, ada semacam gerakan-gerakan yang radikal. Tidak hanya dibangkitkan oleh isu keagamaan, tapi juga sentimen etnis sudah mulai muncul," pungkasnya.

"Misalnya di Minahasa hari ini. Itu gejala yang sebenarnya cukup mengkhawatirkan. Walaupun isunya adalah nasionalisme dan persatuan NKRI, tapi polarisasi itu mengkhawatirkan," sambung Alfan.

Oleh karena itu, Dosen ilmu politik Universitas Nasional ini, meminta kepada pemerintah untuk bersikap pro aktif menjembatani kedua belah pihak yang kini bersebrangan.

Ratusan laskar dengan berseragam dominan putih-putih berada di sisi barat Gedung Kementan Jakarta Selatan, jelang vonis Ahok, Selasa (9/5). (MP/Fadhli)

Ia khawatir, jika tidak dikelola dengan baik, menguatnya sentimen identitas ini dapat menyebabkan konflik yang berlarut-larut.

"Polarisasi itu sudah mengetengahkan tidak saja kekerasan verbal atau fisik tapi juga sudah mulai mengancam publik. Kita khawatir itu memperlemah kualitas demokrasi kita," tukasnya.

"Ini sangat berbahaya. Sentimen identitas ini harus diturunkan, harus ada dialog," tambah Alfan. (Pon)

#Dr Alfan Alfian
Bagikan
Ditulis Oleh

Luhung Sapto

Penggemar Jones, Penjelajah, suka makan dan antimasak

Berita Terkait

Bagikan