Relasi

Pantang Keluarkan Tiga Kata ini Jika Ingin Percintaan Kamu Langgeng

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 12 Maret 2019
Pantang Keluarkan Tiga Kata ini Jika Ingin Percintaan Kamu Langgeng

Kendalikan ucapan dan emosi saat beradu argumen dengan pacar. (foto: pixabay/fxq19910504)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

DALAM menjalin hubungan, perdebatan atau selisih paham merupakan hal yang wajar. Bahkan, adu argumen seperti jadi bumbu dalam percintaan. Di saat berantem, biasanya emodi akan menguasai kamu dan pasangan. Meskipun demikian, bukan berarti kamu boleh lepas kontrol dalam berucap lo.

1. Jaga Ucapan, 3 Kata ini Pantang Kamu Lontarkan

argument
Saat beradu argumen, pilihlah kata-katamu dengan bijak. (foto: pixabay/ryanmcguire)


Seorang terapis pernikahan dan keluarga, Dan Neuharth, PhD, seperti dilansir Hellosehat, mengatakan ucapan 'tidak akan lagi' bisa jadi bumerang buat hubungan kamu dan pasangan. Seperti misal ketika pacar telat menjemput, kamu amat mungkin bakal berucap, "Aku tidak akan lagi minta dijemput."

Hal itu wajar mengingat kamu tengah diselimuti emosi. Ucapan itu pun dilontarkan dalam keadaan yang tidak sepenuhnya kamu sadari. Menurut Neuharth, ucapan itu keluar sebagai cara untuk mengatasi kekecewaan. Kamu pun secara otomatis melindungi diri dengan janji seperti itu. Di saat yang sama, kamu juga akan menyimpan rasa marahmu. Tanpa ada solusi.

Tanpa kamu sadari, kata-kata yang kamu ucapkan itu akan memenuhi pikiranmu. Ujung-ujungnya itu justru bisa merusak hubungan kamu dan pasangan secara permanen.


2. Namun, Situasinya Beda Kalau...

no more
Namun, dalam hubungan yang enggak sehat, kamu wajib mengatakan, 'tidak akan lagi'.(foto: pixabay/geralt)


Pantangan mengucapkan 'tidak akan lagi' justru enggak berlaku pada hubungan yang tidak sehat, abusive misalnya. Ketika kamu menjadi korban dalam hubungan yang kasar dan diwarnai kekerasan, kamu wajib dan harus mengucapkan 'tidak akan lagi'.

Neuharth menyatakan pantangan mengucapkan kata 'tidak akan lagi' dimaksudkan untuk orang-orang yang selalu menggunakan kata tersebut saat menghindar dari masalah sepele yang sebenarnya bisa diselesaikan.

Berdasarkan kasus pasien yang pernah ia tangani, kata 'tidak akan lagi' sangat berefek besar pada hubungan. Biasanya, pihak yang merasa menjadi korban akan menyimpannya selama bertahun-tahun dan justru membuat masalah tidak pernah terselesaikan, hingga berujung perpisahan.


3. Komunikasikan Perasaan dengan si Dia

love
Jangan memendam kekesalan. Komunikasikan dengan pasangan. (foto: pixabay/maura24)


Agar tak mudah terpancing melontarkan kata 'tidak akan lagi', Neuharth menyarankan untuk tidak melindungi diri dengan kata tersebut. Alih-alih, kamu justru membicarakannya secara terbuka.

Katakan kepada pasangan mengenai pandangan dan perasaan kamu terhadap masalah tersebut. Memang tidak mudah. Dalam praktiknya, si dia bisa saja bersikap defensif dan enggak mau tahu.

Namun, yakinkanlah dia bahwa apa yang kamu lakukan merupakan cara untuk membuat hubungan menjadi lebih baik. Saat kamu dan dia sepakat untuk menjalin hubungan, seharusnya kalian menurunkan ego masing-masing. Dengan begitu, membuat 'aku dan kamu' akan menjadi 'kita'. Semua masalah yang datang akan diselesaikan untuk tujuan kebahagiaan bersama.

Yang harus diingat, hilangkan pikiran-pikiran beracun. Kata 'tidak akan lagi' menjadi salah satu racun yang bisa membuat hubungan tidak sehat. Tanamkan pada diri bahwa hal terpenting yang seharusnya dilakukan ialah komunikasi yang baik untuk menghindari hubungan tidak sehat.

Komunikasi yang jujur dan terbuka akan memperbaiki hubungan yang mungkin selama ini telah rusak. Saling membicarakan pendapat dan perasaan masing-masing saat mengalami masalah bisa membuat kamu dan pasangan paham bahwa hubungan yang baik perlu diusahakan.(*)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan