MerahPutih.com - Pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia sejak 2019 lalu membuat perekonomian menjadi tidak menentu. Bahkan, sejumlah negara sempat mengalami resesi ekonomi.
Lalu bagaimana dengan kondisi ekonomi di tahun 2022? Miliarder Elon Musk memiliki pandangan mengenai perekonomian tahun ini. Ia disebut-sebut memprediksi terjadinya krisis ekonomi global bakal terjadi tahun ini.
Baca Juga
Namun, pebisnis asal Amerika Serikat itu tidak menjelaskan secara rinci mengapa dia berpikir demikian dan akan ada resesi besar-besaran atau hanya sesuatu yang "biasa".
Elon menyatakan hal tersebut dalam sebuah komentar di akun Twitter pribadinya di bawah tweet yang membahas perusahaan unicron global. Penulis pertama memposting sebuah daftar perusahaan unicron dan menanyakan berapa banyak unicron yang akan bertahan dalam lima tahun ini.
Petinggi Tesla dan SpaceX itu menjawab cuitan tersebut. "Memprediksi makroekonomi itu menantang. Perasaan saya, mungkin sekitar musim semu atau musim panas 2022, tetapi tidak lebih dari 2023," cuitnya lewat Twitter @elonmusk.
Sejauh ini belum ada hal yang bisa mendasari prediksi Elon Musk tentang kondisi di 2022 yang mungkin mengalami krisis ekonomi. Namun, cuitan tersebut terus menggaung di Twitter selama beberapa hari terakhir ini.
Sementara itu, ada pendapat bahwa resesi yang dimaksud Elon Musk akan dimulai dengan aksi jual saham perusahaan-perusahaan AS.
Baca Juga
Elon Musk Tidak Tertarik dengan Teknologi Metaverse dan Web3
Pada penutupan perdagangan, Sabtu (8/1), Wall Street mengakhiri minggu pertama tahun baru dengan kerugian harian dan mingguan karena investor khawatir tentang kenaikan suku bunga AS dan berita penyebaran cepat Omicron yang sedang berlangsung.
Meningkatnya kasus pada varian virus corona Omicron juga menyebabkan kegelisahan investor minggu ini.
Investor telah merotasi saham-saham pertumbuhan teknologi tinggi ke saham-saham yang lebih berorientasi nilai, yang menurut mereka mungkin lebih baik dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Sektor energi S&P 500 naik tajam untuk minggu ini, melonjak 10,6 persen dalam minggu terbaiknya sejak November 2020.
Volume transaksi bursa AS mencapai 10,21 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata sekitar 10,4 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir. (*)
Baca Juga