OBSESSIVE Compulsive Disorder (OCD) tak sepenuhnya diidap seseorang. OCD hanya menjangkiti 2% dari jumlah populasi. Tak mudah pula seseorang dapat dikatakan sebagai pengidap OCD. Menurut laman TIMES Health jika dalam masa mudanya seseorang tidak menunjukan gejala-gejala OCD, maka masa dewasanya sangat aman.
Banyak orang yang mengklaim dirinya mengidap OCD, namun pada dasarnya tidak semudah itu menilai dirinya atau orang lain pengidap OCD. Misalnya orang yang selalu mencuci tangannya dengan sabun sebelum makan, tidak dapat dikatakan OCD jika ia dapat makan tanpa mencuci tangan dengan sabun.
Begitu dengan kecemasan tidak selamanya berhubungan dengan OCD. Semua orang pernah mengalami kecemasan pada sesuatu. Seperti sakit kepala tapi belum tentu terkena migrain. Ya memang OCD dapat memasuki berbagai sisi kehidupan seseorang.
Otak yang memberitahukan apapun yang menjadi ancaman kehidupan dalam kondisi OCD sistemnya rusak. Steven Phillipson dari Center for Cognitive-Behavioral Pschycoterapy di Kota New York mengatakan ini seperti tsunami emosi dengan fokus yang tetap ada.
Umumnya OCD yang terjadi adalah mencuci tangan terus-menerus, memeriksa kompor, menimbun barang dan ketakutan menyakiti orang lain. Bahkan ada yang cemas dengan orientasi seksualnya.
Pada pengidap OCD otak yang seharusnya memberikan sinyal ancaman sudah berlalu malah menghubungkan diri dengan ketakutan dalam diri seseorang. Kemudian membuat seseorang menjalankan semacam ritual yang harus dilakukan jika tidak bahaya tidak akan sirna.
Misalnya memeriksa kompor sampai sepuluh kali, jika kurang dari jumlah itu pengidap OCD itu tidak akan pernah tenang. Begitu juga dengan seseorang yang keluar rumah harus memeriksa handle pintu sampai puluhan kali sebelum meninggalkan rumah.
Pengidap OCD biasanya selalu mencemaskan sesuatu yang mustahil dilakukan atau untuk apa dilakukan. Frase 'iya, tapi...' yang selalu dimainkan dalam kata-katanya.
Misalnya pengidap OCD mengikuti tes darah pada penyakit tertentu dan hasilnya negatif. Seharusnya senang karena hasilnya negatif, namun pengidap OCD memunculkan kata 'tapi mereka tidak salah periksa kan ya?'. Mereka tetap membuat kecemasan selalu bermain di dalam pikirannya.
Pengidap OCD biasanya mampu mengingat awal gejala kecemasannya. Misalnya seorang OCD yang takut menyakiti orang lain, memegang pisau memiliki lintasan ide bagaimana jika pisau ini untuk menusuk orang. Pada orang umumnya hanya menganggap itu sebagai ide sekelebat yang tidak penting. Namun pada penderita OCD seperti itu kemudian menimbulkan kepanikan di dalam dirinya.
Penyimpangan dalam diri pengidap OCD ini merupakan kecemasan berlebih yang menghabisi dirinya sendiri. Hal ini dapat diatasi dengan meditasi dan pengobatan antoidepresan.
Namun yang efektif adalah psikoterapi dengan terapi perilaku cognitif atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Salah satu teknik terapinya adalah ERP atau Exposure and Response Prevention. Pengidap OCD dihadapkan pada kecemasannya dan berusaha untuk dihilangkan. Ini dapat mendorong otak untuk melepaskan ketakutan seseorang. (psr)