MERAHPUTIH.COM - SERIAL original Netflix Night Shift for Cuties tidak hanya menghadirkan cerita yang segar, tetapi juga melibatkan kolaborasi lintas negara dalam proses penggarapannya. Produser Kevin Ryan Hikmawan mengungkapkan tim produksi menggandeng sejumlah talenta dari Korea Selatan untuk membangun atmosfer dunia K-Pop yang autentik dalam serial tersebut.
Kevin menjelaskan, sejak awal pengembangan proyek bersama Netflix, tim kreatif telah mendiskusikan secara matang siapa saja yang akan terlibat dalam pembentukan identitas musik serial ini.
"Kami dari awal bersama Netflix sudah membicarakan siapa saja yang bisa membentuk musik di serial ini. Akhirnya kami bekerja sama dengan Kenny Gabriel dan Monica Eva Sancti," kata Kevin saat konferensi pers Night Shift for Cuties di M Blok, Jakarta Selatan, Rabu (4/6).
Menurutnya, proses penciptaan lagu dalam serial ini cukup unik karena sebagian lirik awalnya disusun berdasarkan kebutuhan cerita dan perkembangan karakter di setiap episode.
"Awalnya ada beberapa lirik yang memang dibuat untuk mendukung cerita dan karakter. Namun, ketika kami memutuskan membuat album, kami ingin lagu-lagunya juga bisa berdiri sendiri dan dinikmati di luar serial," ujarnya.
Baca juga:
'Night Shift for Cuties' Dobrak Stereotipe Perempuan di Industri K-Pop
Kevin mengakui proses produksi musik dan koreografi menjadi tantangan terbesar selama penggarapan Night Shift for Cuties. Menurutnya, membuat serial saja sudah menjadi pekerjaan yang kompleks. Namun, tantangan bertambah ketika tim harus menciptakan lagu, koreografi, hingga membangun identitas grup idol fiktif yang meyakinkan.
"Lagu dan koreografi merupakan tantangan terbesar. Karena jujur saja membuat serialnya sendiri sudah cukup menantang. Namun, proses ini juga sangat menyenangkan karena kami belajar banyak hal baru," ungkapnya.
Ia menjelaskan proses penulisan lagu dilakukan secara bertahap. Tim kreatif terlebih dahulu membuat konsep dan lirik dalam bahasa Indonesia dan Inggris sebelum diterjemahkan dan disesuaikan ke dalam bahasa Korea agar terasa lebih natural. "Kami melempar konsep lirik ke Monica Eva Sancti dan Kenny Gabriel dalam bahasa Inggris, lalu beberapa bagian diterjemahkan lagi ke bahasa Korea. Itu menjadi perjalanan yang sangat menyenangkan," jelas Kevin.
Selain musik, proses world building juga menjadi pekerjaan besar bagi tim produksi. Mereka harus membangun dunia K-Pop fiktif yang tetap terasa realistis bagi penonton. Salah satu tantangan lainnya yakni menyatukan talenta dari berbagai negara. Grup idol fiktif Purple Tea dalam serial ini diperankan para aktor dan aktris dari Korea Selatan serta Indonesia.
"Tiga anggota Purple Tea berasal dari Korea Selatan dan satu dari Indonesia. Menyatukan semuanya, mulai dari lagu, koreografi hingga komposisi grup, menjadi proses yang sangat menarik," katanya.
Dalam serial tersebut, Purple Tea menjadi girl group fiktif yang berperan penting dalam cerita. Grup ini beranggotakan Boki yang diperankan Gabrielle Novangeline, bersama Ryou Jay-hyun sebagai Hyun, Baek Seo-ra sebagai Ae Cha, dan Kim Ye-jin sebagai So Yoon.
Kehadiran para pemain lintas negara tersebut menjadi salah satu upaya tim produksi untuk menghadirkan nuansa industri K-Pop yang lebih autentik sekaligus memperkuat identitas Night Shift for Cuties sebagai serial yang menggabungkan perspektif Indonesia dan Korea Selatan.(Tka)
Baca juga:
Sinopsis Night Shift for Cuties, Debut Sutrada Monica Vanesa Tedja di Proyek Netflix