SEORANG perempuan berkerudung biru dan gamis hitam bunga-bunga berdiri di tengah ruangan. Sebuah mikrofon di tangannya. Dengan suara penuh emosi, kesedihan, rasa peduli, ia mengungkapkan isi hatinya. Dian Riviana nama perempuan itu. Ia termasuk salah seorang yang ikut dalam acara Ngabuburead, Ngobrol Santai Buku Senja di Mata Bintang bersama penulis Dhea Chandra yang digelar di Gramedia World, BSD, Tangerang Selatan.
Sebagai seorang ibu dan pendidik, Dian mengaku terenyuh dengan kisah Bintang dan Gemma dalam novel karya Dhea Chandra tersebut. "Aku melihat sebuah konflik rumah tangga. Gemma ini sebenarnya anak yang baik, tapi banyak dikecewakan. Ketika ia lari ke tempat nyamannya, di sanalah ia bertemu Bintang," ceritanya. Tak butuh waktu lama bagi guru sebuah SMK di Kota Tangerang itu untuk 'jatuh cinta' pada novel Senja di Mata Bintang. "Aku baru baca beberapa halaman pertama. Langsung terasa," ujarnya bersemangat.
Novel Senja di Mata Bintang yang berkisah tentang kisah cinta Bintang yang merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK) dan Gemma memang bukan kisah romansa biasa. Ada berbagai lapisan yang membuat buku ini menyentuh hati berbagai kalangan. Tidak mengherankan jika pihak penerbit Baca menyebut novel yang dirilis Februari 2018 lalu ini mendapat sambutan yang cukup positif. "Respons pembaca cukup bagus. Baik yang dari Gramedia maupun yang langsung ke penerbit," ujar Dede Nursalam, Book Advisor Penerbit Baca, penerbit novel Senja di Mata Bintang, ketika ditemui Merahputih.com di acara tersebut.
Berbekal respons positif itulah, Penerbit Baca menggandeng Gramedia untuk menggelar acara ngobrol santai novel Senja di Mata Bintang. Tujuan digelarnya acara itu ialah untuk lebih mengenalkan novel tersebut. "Karena pembaca kami ini dari rentang usia yang panjang, 18-25 tahun. Jadi beda pembaca, beda lagi pemahanannya," jelas Dede. Memang hal itulah yang terlihat jelas pasa ajang ngobrol santai kali itu. Anak muda terlihat lebih tertarik dengan kisah cinta Bintang dan Gemma. Sementara itu, Dian, yang notabene seorang ibu, lebih melihat dari segi psikologi anak dalam sebuah konflik rumah tangga. Selain itu, Dian mengakku amat tersentuh dengan fakta bahwa Bintang ialah seorang ABK. Karakter Bintang yang amat terfokus pada satu bidang ilmu, yakni astronomi, mengingatkannya kepada anak siswanya dulu yang juga merupakan ABK. "Inilah alasan kami terus menggelar bedah buku seperti ini, agar pesan dalam buku ini bisa tersampaikan," imbuh Dede. Ia juga menyebut di masa depan rodashow bedah buku bersama Dhea Chandra masih akan digelar bahkan amat mungkin akan membawa ABK.
Bukan tanpa alasan novel Senja di Mata Bintang dipilih untuk dibedah sore itu. Store Supervisor Gramedia World BSD Bibeh menyebut novel itu merupakan salah satu novel baru di jaringan toko buku besar di Tanah Air tersebut. "Ini merupakan buku baru di toko kami dan memang ingin kami tonjolkan. Kebetulan ada kerja sama denga pihak penerbit, dibuatlah acara bedah buku seperti ini," ujar Bibeh. Di lain hal, pihak Penerbit Baca menyebut novel karya Dhea Chandra itu dipilih karena itu merupakan hasil karya anak muda bangsa. Karena sebelumnya penerbit Baca lebih banyak mengeluarkan buku terjemahan, novel Dhea Chandra jadi salah satu novel orisinil karya anak bangsa yang mereka terbitkan. "Hal pertama, karena Dhea ini remaja. Kami ingin mengangkat karya yang benar-benar Indonesia. Di satu sisi, kami ingin mengangkat novel Indonesia, faktor lain adanya pesan tertentu yang ingin disampaikan novel ini, yaitu tentang ABK," papar Dede.
Kisah tokoh Bintang yang merupakan ABK memang mencuri perhatian pembaca. Perjalanan cintanya yang tak biasa dengan Gemma menuai berbagai respons dari bermacam pembaca. Hal itu diamini juga oleh Tisna Chandra, founder Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus Spectrum. Ia berkisah beberapa dokter yang membaca novel tersebut justru lebih mengomentari sindrom asperger yang dimiliki Bintang. "Mereka komentar, 'itu kan bisa diobati'," kisahnya. Lain lagi dengan kisah Dian. Karakter Bintang menggugahnya untuk lebih berusaha mengenalkan ppotensi ABK ke banyak orang. Ia berharap novel itu bisa membuka mata publik bahwa ABK layak dicintai dan mereka bukanlah anak yang negatif, justru amat amazing. "Apalagi kalau buku ini difilmkan. Akan bisa mengubah pola pikir orang kebanyakan tentang ABK selama ini," ujarnya. Saking tersentuhnya, Dian bahkan berniat mengenalkan buku itu ke anak didiknya agar mereka bisa melihat potensi di balik ABK.
Saat melihat sendiri respons atas tulisannya, penulis Dhea Chandra mengaku amat senang. "Senang banget. Reaksinya beda dari respons psikiater atau psikolog yang biasa menangani ABK," ujar Dhea. Ia memang membagikan beberapa novel karyanya kepada para pemerhati ABK. Namun, respons berbeda malah ia dapatkan dari kawan-kawannya yang membaca Senja di Mata Bintang. "Mereka malah penasaran dengan kondisi Bintang. Banyak yang tanya, 'Bintang itu kenapa sih?'. Itulah biar mereka lebih kenal apa itu ABK," ujar Dhea.
Saat ditanya tentang niat memfilmkan bukunya tersebut, perempuan manis itu mengatakan ingin sekali. "Mau banget. Menunggu ditawari aja deh," ujarnya. Tak seperti novel lainnya, Senja di Mata Bintang dilengkapi dengan soundtrack yang bisa didengarkan di platform Youtube. Soundtrack tersebut dibuat sendiri oleh Dhea yang juga hobi bermusik. Bersama Koza Band, ia membawakan dua soundtrack novel tersebut di acara Ngabuburead.
Ngbuburit dengan Buku
Jika biasanya kegiatan ngabuburit sebelum berbuka puasa identik dengan jalan-jalan berburu takjil, tahun ini tak ada salahnya kamu mencoba kegiatan lain, yakni membaca. Selain mengalihkan dari rasa haus dan lapar yang mendera, membaca akan membuka wawasan kamu. Banyak hal-hal positif yang bisa kamu petik dari membaca.
Buku bacaan pun tak harus bertema keagamaan. Kamu bisa memilih jenis buku favoritmu selama Ramadan ini. Selain menggelar Ngabuburead, Ngobrol Santai Novel Senja di Mata Bintang, Bibeh mengatakan Gramedia World BSD berencana menggelar bedah buku lain, seperti buku kuliner, di waktu ngabuburit selama Ramadan. "Jadi kan pas, sambil nunggu buka puasa, masak-masak dulu," ujarnya.
Yang juga bisa kamu lakukan ialah mewakafkan Alquran. Hal itu dilakukan Gramedia lewat program wakaf Alquran. Bibeh mengatakan, dalam program itu, konsumen bisa membeli Alquran di toko buku Gramedia mana pun lalu mewakafkannya. Nantinya, pihak Gramedia akan menyalurkan wakaf Alquran tersebut ke panti asuhan atau masjid yang telah dipilih. Kamu tertarik? Jangan tunda ya, lakukanlah sebanyak-banyaknya kebaikan di bulan Ramadan ini.(dwi)