MerahPutih Nasional- Banjir memang sudah menjadi langganan warga Kampung Melayu, Jakarta Timur. Jika dulu banjir tahunan hanya terjadi empat tahun sekali di Kampung Melayu, kini hampir setiap hujan selalu diikuti banjir. Berada di pinggiran sungai Ciliwung menjadikan Kampung Melayu sebagai kampung Banjir.
Berbicara soal banjir Jakarta, tanggung jawab pemerintah khusus ibu kota tentu selalu jadi sorotan. Bagaimana Pemprov DKI berkerja meminimalisir bencana langganan tersebut, hingga menanggulanginya.
Berikut ini pantauan langsung tim merahputih.com ke lokasi tempat tinggal warga di Kampung Melayu, Jakarta Timur pasca banjir Kamis 20/11.
Masyarakat telah selesai membersihkan kotoran dan sampah akibat banjir. Terlihat masih berdiri posko bantuan dari TNI dan Polri, serta beberapa relawan yang membantu warga membersihkan kotoran sisa banjir tersebut.
Entin (39), warga Kampung Melayu, menuturkan bantuan di tempat tinggalnya cukup cepat dan banyak. Mulai dari bantuan tenaga hingga makanan dan obat-obatan. Banjir yang melanda sejak Kamis pagi membuat rumah-rumah warga tergenang setinggi perut orang dewasa.
“Tapi sekarang sudah surut, walaupun masih harus waspada dengan adanya banjir susulan,” ucap Entin.
Terjebak Banjir dan Sulit dievakuasi
Berbeda dengan keadaan yang dialami ibu Entin, warga Bukitduri banyak berkeluh kesah prihal bantuan saat banjir. Di tempat ini sangat minim bantuan dan tidak terlihat Posko-posko yang berdiri, walaupun air sudah surut.
Herman (37) atau yang biasa dipanggil bang Odon oleh warga sekitar, menceritakan bahwa daerah tempat ia tinggal merupakan wilayah terisolir.
“Jarang ada bantuan dan gerakan tanggap untuk evakuasi dari Pemda atau dinas sosial. Lokasi tempat tinggal yang berada di tengah-tengah '"letter U" sungai ciliwung ini membuat warga terjebak dan sulit di evakuasi saat banjir datang,” keluhnya.

Warga Kampung Melayu pasca banjir melanda.
Herman juga menambahkan, selama ini bantuan dan tim evakuasi saat banjir datang dilakukan secara gotong royong oleh warga sekitar. Belum ada bantuan secara resmi dari pemerintah.
“Sampai saat ini jika banjir datang proses evakuasi dilakukan swadaya oleh warga sekitar. Relawan yang ada hanya dari Komunitas Gumul Juang (KGJ) yang berisi kumpulan relawan sebagian besar dari mahasiswa maupun alumni sekolah tinggi ilmu teknologi,” tambah Herman.
Herman yang juga merupakan kordinator bantuan bencana banjir, mengatakan sejak 2007 sampai sekarang tidak ada perubahan apapun baik bantuan hingga penanggulangan banjir dari Pemda DKI. Ia dan warga lainnya berharap dengan dilantiknya Ahok sebagai orang nomor satu di Jakarta, perubahan segera dilakukan menuju lebih baik.
"Jangan tegasnya saja, tapi juga dipantau program-program yang sudah berjalan,” kata Herman lagi.
Hal yang sama juga dituturkan Mu'uh (47), Ketua RW 019, menurutnya bantuan tidak merata karena ada beberapa wilayah yang sulit dijangkau. Ia juga menuturkan semakin tahun semakin sering terjadi banjir, saat ini setiap hujan menerpa Kampung Melayu, pastinya banjir datang.