Home Leaderboard 1
Home Leaderboard 1
Musik

Musisi Indonesia Legendaris, ini Lima Hal Tentang Yockie Suryoprayogo

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 05 Februari 2018
Musisi Indonesia Legendaris, ini Lima Hal Tentang Yockie Suryoprayogo

Yockie Suryoprayogo. (foto: MP/Albi)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

RANAH musik Tanah Air kembali kehilangan sosok legendaris. Setelah Yon Koeswoyo berpulang tepat sebulan lalu (5/1), hari ini musisi legendaris Yockie Suryoprayogo mengembuskan napas terakhir.

Musisi dan pencipta lagu kelahiran 14 September 1954 itu meninggal di usia 63 tahun. Karier musiknya membentang mulai dari era 70-an hingga tahun 2000-an.

Namun, selain tampil sebagai musisi, Yockie juga banyak bekerja di belakang layar untuk nama-nama besar di dunia musik Indonesia. Untuk tahu lebih jauh, berikut lima hal tentang Yockie Suryoprayogo.


1. Pernah bergabung di berbagai grup musik

Meski banyak yang mengenal nama Yockie sebagai personel God Bless, nyatanya ia pernah merasakan tergabung dalam berbagai grup rock, seperti Bigman Robinson, Double O, Giant Step, Contrapunk, dan Jaguar.

Di luar genre rock, Yockie bahkan mengeksplorasi musiknya dengan bergabung dalam sejumlah proyek world music bersama Kantata Takwa. Terakhir, ia bahkan membentuk kelompok Suket yang beraliran sama dengan Kantata Takwa ataupun Swami.

2. Bisa memainkan berbagai genre musik

Tak banyak musisi yang bisa bermain lintas genre. Namun, Yockie melakukannya dengan indah. Ia amat piawai bermain dalam ranah musik yang berbeda, mulai dari rock, sedikit klasik, sedikit jazz, pop, hingga world music.

Tentu saja hal itu menjadikan Yockie bak air yang menembus ke ruang dan dimensi apa pun tanpa harus memupuskan jati dirinya. Yockie mampu berbaur dalam genre musik apa pun tanpa menghilangkan karakternya dalam bermusik.

3. Menggarap album musik bersama penyanyi legendaris lain

Selain besar di genre rock, Yockie juga pernah berkecimpung di genre pop. Meskipun tidak tampil, karya Yockie sebagai penata aransemen lagu seperti Lilin Lilin Kecil (James F Sundah) dianggap sebagai suntikan darah baru dalam industri musik pop tahun 1970-an.

Bahkan, Eros Djarot mengajak Yockie untuk menggarap album soundtrack film Badai Pasti Berlalu bersama sederet nama besar seperti Chrisye, Berlian Hutauruk, Debby Nasution, Keenan Nasution, dan Fariz RM. Album itu amat fenomenal terutama dari sisi tata musik.

Kerja sama Yockie dan Chrisye bahkan berlanjut untuk penggarapan album-album solo Chrisye, seperti Sabda Alam, Percik Pesona, Puspa Indah Taman Hati, Pantulan Cinta, Resesi, Metropolitan, dan Nona.

Kolaborasi Yockie dan Chrisye berakhir di 1984, tapi Yockie masih ikut menggarap album-album penyanyi ternama, seperti Dian Pramana Poetra, Keenan Nasution, Vonny Sumlang, Titi DJ, dan Andi Meriem Matalatta.

Yockie kembali ke genre rock di era 80-an. Saat itu, ia mulai ikut menggarap berbagai album rock sebagai komposer, player, dan music director untuk album milik Mel Shandy, Ita Purnamasari, Ikang Fawzi, hingga Nicky Astria.

4. Alami komplikasi penyakit

Selama 15 tahun, Yockie hidup dengan diabetes. Namun, pada 2 November 2017 silam, ia dikabarkan tengah dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta.

Keadaan itu rupanya disebabkan musisi itu mengalami gangguan pada otaknya.

Yockie meninggal dunia saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Bintaro, Tangerang. Kabarnya, ia juga menderita sirosis hati dan stroke.

5. Sempat menggelar konser Menjilat Matahari

Pada Oktober 2017, Yockie sempat menggelar konser Menjilat Matahari bersama musisi lintas generasi dan genre.

Ia mengajak serangkaian musisi rock muda seperti Andi /rif dan Nicky Astria. Selain itu, ia juga mengajak musisi beda genre seperti Aryo Wahab dan Budi Cilok.

Konser yang berlangsung di The Pallas, SCBD, itu sukses merangkum semua karier musik Yockie, merayakannya bersama para penggemarnya.(dwi)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan