MerahPutih.com - The Odyssey masih menjadi perbincangan hangat di kalangan pencinta film. Selain menyuguhkan visual megah khas Christopher Nolan, film ini juga terus mencatatkan prestasi di box office dunia.
Film terbaru garapan Nolan tersebut telah meraup pendapatan USD 264,1 juta atau sekitar Rp 4,36 triliun (kurs Rp 16.500) secara global.
Capaian itu menjadi rekor pembukaan terbaik sepanjang karier Christopher Nolan, sekaligus melampaui The Dark Knight Rises yang sebelumnya membukukan pendapatan USD 249 juta atau sekitar Rp 4,11 triliun di seluruh dunia.
Namun, bukan hanya visual format IMAX yang mendapat perhatian. Tata musik dan desain audio The Odyssey juga menuai banyak pujian dari para penonton.
Nolan Kembali Percaya pada Ludwig Göransson
Untuk menggarap musik latar The Odyssey, Christopher Nolan kembali bekerja sama dengan komposer peraih Oscar, Ludwig Göransson.
Film ini menjadi kolaborasi ketiga keduanya setelah sebelumnya sukses lewat Tenet dan Oppenheimer.
Meski kali ini Nolan tidak kembali menggandeng Hans Zimmer, banyak penggemar menilai musik garapan Göransson tetap mampu menghadirkan pengalaman sinematik yang kuat.
Di berbagai komunitas penggemar Christopher Nolan di media sosial, soundtrack The Odyssey bahkan menjadi salah satu topik yang paling banyak diperbincangkan.
Baca juga:
Eksperimen dengan Instrumen Yunani Kuno
Dalam wawancara bersama Hypebeast, Ludwig Göransson mengungkapkan bahwa ia melakukan berbagai eksperimen untuk menciptakan identitas musikal yang berbeda bagi The Odyssey.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah memadukan suara seruling dan lira, alat musik petik khas Yunani kuno, dalam lagu pembuka berjudul When I'm Home yang dibawakan Travis Scott.
Kolaborasi tersebut menjadi proyek kedua Göransson bersama Travis Scott setelah sebelumnya bekerja sama dalam soundtrack film Tenet.
Tak berhenti di situ, Göransson juga mengeksplorasi alat musik Yunani kuno bernama Aulos.
Ia menempatkan mikrofon di berbagai posisi untuk menangkap karakter suara instrumen tersebut dari berbagai sudut. Menurutnya, Aulos memiliki energi yang mengingatkannya pada gitar listrik.
"Instrumen ini terasa seperti rockstar," ungkap Göransson dikutip dari Hypebeast, Kamis (30/7).
Eksperimen tersebut kemudian melahirkan komposisi Siren Song, salah satu musik latar yang menjadi bagian penting dalam film The Odyssey.
Baca juga:
Makna Lagu 'When I'm Home', Soundtrack Emosional 'The Odyssey'
Absennya Hans Zimmer dalam proyek terbaru Christopher Nolan sempat memunculkan banyak pertanyaan di kalangan penggemar.
Hingga kini, Nolan belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan komposer langganannya itu tidak terlibat dalam The Odyssey.
Namun, spekulasi yang telah beredar sejak tahun lalu menyebut Zimmer sedang fokus menggarap waralaba Dune, proyek yang sejak lama disebut sebagai salah satu impiannya.
Karena itu, banyak pihak meyakini jadwal produksi Dune menjadi alasan utama Zimmer tidak dapat kembali bekerja sama dengan Nolan dalam film ini.
Keputusan Christopher Nolan menunjuk Ludwig Göransson terbukti mendapat respons positif.
Selain sukses secara komersial dengan pendapatan sekitar Rp 4,36 triliun, The Odyssey juga menuai pujian berkat musik latarnya yang menghadirkan nuansa epik melalui eksplorasi instrumen Yunani kuno. (Tka)

