Mural: Seni Berburu Tembok Kosong

Ikhsan Aryo DigdoIkhsan Aryo Digdo - Jumat, 16 April 2021
Mural: Seni Berburu Tembok Kosong

Vito saat membuat mural di BSD. (Foto: Vito Fachdez)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BERAGAM motif dan gambar mural di tembok-tembok jalanan merupakan karya seni yang kini telah berkembang di tengah masyarakat. Hobi menggambar sampai ikut dalam suatu komunitas juga menjadi kegiatan yang seru bagi mereka para pecinta seni. Gambar visual yang mereka buat sering kali dijadikan media penyampaian suatu pesan, biasanya sih suara hati rakyat.

Kebiasaan nongkrong anak 'art' ini bukan hanya sekedar kumpul bareng teman saja, tetapi juga sering dijadikan tempat untuk sharing bareng soal karya mereka. Di komunitas ini pula mereka yang awalnya tidak kenal bisa saling mengenal satu sama lain.

Baca juga:

Ngabuburit ala ‘Ngabers’ TikTok, Valid Abis

Memang bukan hanya komunitas 'art' saja, melainkan hampir semua komunitas pasti memiliki kesan dan makna tersendiri. Mereka bisa saling tukar pengalaman dan menambah wawasan lewat komunitasnya.

Bagi sebagian orang mungkin menilai saling tiban mural menjadi ajang gagah-gagahan para pelaku street art. Namun, perlu digaris bawahi, mural itu berbeda dengan vandalisme atau grafiti.

Mural di JGTC Festival UI. (Foto: Vito Fachdez)

Vandalisme memiliki artian perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya dan barang berharga lainnya, sehingga yang lebih cocok untuk tiban-meniban yaitu seni grafiti.

Grafiti dan mural memang merupakan karya seni yang memiliki nilai estetikanya sendiri, dan tidak semua grafiti merupakan tindakan vandalisme. Hampir sama dengan mural, grafiti juga biasanya digambar pada media tembok.

Baca juga:

Ketika Bedak Beralih Fungsi di Tongkrongan

Namun, grafiti lebih menekan pada keindahan gambar bukan untuk menyampaikan kritik sosial. Alat yang digunakan untuk grafiti biasanya pilox atau spidol. Sedangkan mural biasa menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan kapur tulis yang bisa menghasilkan gambar.

Vito Fachdez merupakan salah satu penggiat mural, komunitas yang Ia ikuti salah satunya yaitu VISUM. Ia sering menerima project menggambar visual di tembok dan juga sering mengikuti event yang berbau art. Dengan mengikuti komunitas seni, ia bisa mendapat banyak pengalaman dan ilmu baru terutama dalam hal melukis di dinding.

"Untuk urusan berkomunitas biasanya memang berkarya bareng, misalnya dari enggak kenal jadi kenal karena sering sharing-sharing karya," kata Vito kepada merahputih.com.

Mural bukan vandalisme. (Foto: Unsplash/Isi Parente)

Mahasiswa tingkat akhir ini juga menceritakan bahwa hasil karya seni biasanya menimbulkan reaksi dari masyarakat. Reaksi tersebut terkadang ada yang suka dan ada pula yang menilai bahwa mural hanyalah seni mengotor-ngotori tembok.

"Ada yang bilang wah ini ngotor-ngotorin, wah ini keren nih, ternyata bisa diginiin loh tempat gue yang kotor atau yang awalnya tembok polos, ternyata setelah digambar bisa jadi keren," ujarnya.

Beberapa orang yang awam mungkin berpikiran bahwa mural merupakan suatu tindakan vandalisme, karena memang tidak berizin. Tapi menurut Vito, itu tidak sepenuhnya vandalisme jika mereka berusaha memaksimalkan space dan dengan estetika yang bagus. Semuanya kembali lagi terhadap persepsi setiap orang yang menilai itu menjadi hasil karya seni.

Seiring perkembangan zaman, dalam menyampaikan aspirasi tak hanya melalui mural. Saat ini para pelaku mural sudah beralih ke platform digital. Mereka hanya perlu menggambar dari rumah dan membagikannya lewat sosial media dengan adanya platform digital. (ans)

Baca juga:

Begini Jadinya Punya Teman Musisi di Tongkrongan

#Fashion #April Tongkrongan Di Negeri Aing
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Fashion
Perkara Desain Logo Mirip, Adidas Gugat Merek Australia White Fox
Merek apparel olahraga raksasa asal Jerman ini menilai desain tersebut ‘mirip secara menyesatkan’ dengan logo khas mereka, the three stripes.
Dwi Astarini - Jumat, 09 Oktober 2026
Perkara Desain Logo Mirip, Adidas Gugat Merek Australia White Fox
Fashion
Inovasi dan Diversifikasi, Jalan Baru Pelestarian Batik
Batik perlu terus beradaptasi dengan perkembangan tren fesyen agar dapat memperluas pasar.
Dwi Astarini - Sabtu, 03 Oktober 2026
Inovasi dan Diversifikasi, Jalan Baru Pelestarian Batik
ShowBiz
Celine Dion Kejutan Paris Fashion Week 2026, Tampil Enerjik dengan ‘I’m Alive’
Dion tampil tepat di bawah Menara Eiffel yang terkenal di kota tersebut.
Dwi Astarini - Selasa, 29 September 2026
Celine Dion Kejutan Paris Fashion Week 2026, Tampil Enerjik dengan ‘I’m Alive’
Fashion
Fast Fashion So Yesterday, 'Minimalisme Elegan' Ambil Alih Tren Tampilan Minimal dengan Bahan Berkualitas
Minimalisme elegan mendominasi pasar dengan merek-merek yang menekankan identitas mereka melalui bahan berkualitas tinggi.
Dwi Astarini - Kamis, 24 September 2026
 Fast Fashion So Yesterday, 'Minimalisme Elegan' Ambil Alih Tren Tampilan Minimal dengan Bahan Berkualitas
Fashion
Dari Ruang Kelas ke Runway, ESMOD Jakarta Hadirkan First Edit
First Edit menjadi ruang bagi para mahasiswa untuk membawa karya yang sebelumnya dikerjakan sebagai tugas akhir keluar dari lingkungan kampus.
Dwi Astarini - Minggu, 20 September 2026
Dari Ruang Kelas ke Runway, ESMOD Jakarta Hadirkan First Edit
Fashion
UNIQLO x KAWS Hadirkan KAWS UNIVERSE, Bawa Pesan 'We Are Better Together'
UNIQLO dan KAWS kembali berkolaborasi lewat KAWS UNIVERSE yang menghadirkan COMPANION, karakter baru, dan plush charm mulai 14 September 2026.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 11 September 2026
UNIQLO x KAWS Hadirkan KAWS UNIVERSE, Bawa Pesan 'We Are Better Together'
Fashion
'Revenge Dress' Milik Putri Diana kembali Dilelang, Diperkirakan Laku Rp 4,5 Miliar
Penampilan dramatis Putri Diana saat tiba di Serpentine Gallery pada 1994 menjadi salah satu momen ikonis dalam budaya pop.
Dwi Astarini - Jumat, 11 September 2026
 'Revenge Dress' Milik Putri Diana kembali Dilelang, Diperkirakan Laku Rp 4,5 Miliar
Fashion
‘With Gemini, In Craft’, Google Dorong Kreativitas Fesyen tanpa Batas
Lewat inisiatif ‘With Gemini, In Craft’, Google menjadikan akal imitasi sebagai mitra kreatif pendukung bagi rumah mode, studio kreatif, serta pelaku usaha di Indonesia.
Dwi Astarini - Sabtu, 05 September 2026
‘With Gemini, In Craft’, Google Dorong Kreativitas Fesyen tanpa Batas
Olahraga
Jersey Tim Indonesia di Asian Games 2026 Bawa Dua Warisan Budaya Nusantara
Jersey Tim Indonesia untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026 mengangkat motif Gorga khas Toba dan Limar dari Sumatera Selatan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
Jersey Tim Indonesia di Asian Games 2026 Bawa Dua Warisan Budaya Nusantara
Fashion
Tak Sekadar Belajar ke Luar Negeri, Program ESMOD Jakarta Bawa Identitas Fashion Indonesia ke Dunia
ESMOD Jakarta memperkuat koneksi fashion global melalui Global Mobility Pathway, membuka pertukaran mahasiswa dengan jaringan ESMOD di berbagai negara.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 12 Agustus 2026
Tak Sekadar Belajar ke Luar Negeri, Program ESMOD Jakarta Bawa Identitas Fashion Indonesia ke Dunia
Bagikan