MerahPutih Nasional - Sosok pahlawan nasional Pengeran Diponogoro menjadi tokoh utama dalam pameran yang digelar di Galeri Nasional Indonesia. Pameran yang dimulai pada 6 Februari sampai 8 Maret 2015 yang akan datang, ini bertajuk "Aku Diponogoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa". Lukisan Pangeran Diponogoro yang dipamerkan diantaranya adalah lukisan Penangkapan Pangeran Diponogoro, Charles V Turun Tahta, Koin dan Uang Kerta Diponogoro dan lukisan lainnya.
Lukisan penangkapan Pangeran Diponogoro berukuran 112x179 cm karya Raden Saleh. Lukisan ini menjadi koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Dikisahkan, saat Raden Aleh mendengar kabar wafat Pangeran Diponogoro pada tahun 1855, ia memutuskan untuk melukis penangkapan. Dilukisan ini Diponogoro tidak digambarkan sebagai orang yang ditaklukkan, melainkan sebagai pahlawan, dan penangkapannya malah menjadi tonggak dimulainya gelombang perjuangan baru. Dengan demikian, lukisan ini harus dipahami sebagai sebuah pernyataan proto-nasionalis dan sebagai simbol berakhirnya kekalahan perang serta lahirnya rangkaian perlawanan anti kolonial baru.
BACA JUGA: Melirik Kembali Kesaktian Pelana Kuda Pangeran Diponegoro
Sementara lukisan Charles V Turun Tahta merupakan karya Louis Gallait pada 1841 dengan ukuran 485x683. Lukisan Louis Gallait ini adalah sebuah pernyataan yang kuat tentang nasionalisme dan kemerdekaan. Sebab, lukisan ini menggambarkan sebuah peristiwa sejarah yang berkaitan erat dengan permulaan perjuangan kemerdekaan rakyat Belanda melawan penjajah Spanyol.
Pemisahan diri Belanda Selatan (sekarang Belgia) dari Kerajaan Belanda pada tahun 1830 masih terasa bagaikan luka menganga ketika Gallait seorang warga Belgia, melukiskan Charles V Turun Tahta. Lukisan ini diminta harus dipahami sebagai sebuah pernyataan patriotik yang penting untuk pemerintahan Belanda.
"Perjuangan kami merebut kemerdekaan mirip dengan perjuangan kalian tiga ratus tahun yang lalu.” Raden Saleh kemudian meminjam pesan Gallait ini dan mengubahnya menjadi "perjuangan Pangeran Diponogoro melawan penjajahan asing adalah awal dari runtuhanya kekuasaan Belanda di tanah Jawa.” Lukisan ini dipajang pada Pameran ini dalam rupa instalasi lightbox.
BACA JUGA: Jubah Perang Sabil Pangeran Diponegoro
Sementara lukisan Koin dan Uang Kertas Diponogoro yang menggambarkan wajahnya yang menghadap kiri pada relief telah muncul pada mata uang Indonesia sejak awal 1950-an, yaitu antara 1952-1957. kata-kata 'DIPA NEGARA' yang diambil dari namanya tertera pada koin 50 sen yang diterbitkan Bank Indonesia kala itu. Koin ini dicetak oleh percetakan negara Belanda di Utrecht yang melakukan percetakan pertama kali di tahun 1952.
Pada tahun yang sama, uang kertas seratus rupiah Indonesia dalam 'seri kebudayaan' didesain oleh percetakan Belanda, Johannes Enschede en Zonen dan dicetak di percetakan mereka yang terletak di Kebayoran. Menggunakan litografi c.c.A. Last yang dibuat di tahun 1835 berdasarkan sketsa buatan A.J. Bik di Balai Kota Batavia. Uang kertas itu diterbitkan 18 Desember 1953 dan ditarik pada tahun 1960.
Uang seratus rupiah tersebut berwarna coklat dengan guratan patung singa di sebelah kiri dan wajah Diponogoro disebelah kanan. Terdapat juga ilustrasi burung berciuman di sisi belakangnya. Tahun 1975, percetakan Negara Indonesia, Perum Peruri, merancang uang kertas seribu rupiah yang baru dengan gambar Diponogoro pada sisi depan sebelah kiri menghadap ke kanan dengan kerbau membajak sawah di sisi belakangnya. Walau tertanggal 1975, uang kertas tersebut pertama kali diterbitkan pada 1 Juni 1976 dan baru beredar pada 2 April 1988.
Adapaun koin Diponogoro yang dijadikan sebagai jimat adalah koin lima puluh sen koleksi Taufik Rahzen. Koin ini dicetak dengan indah menggunakan wajah Diponogoro dan huruf-huruf (DIPA NEGARA) ini diimpor dari percetakan logam Utrecht antara 1952-1957, yang kini menjadi benda incaran kolektor Indonesia. (hur)