Mulai Penangkapannya hingga Koin Pangeran Diponogoro jadi Jimat

Widi HatmokoWidi Hatmoko - Minggu, 08 Februari 2015
Mulai Penangkapannya hingga Koin Pangeran Diponogoro jadi Jimat

(foto: Antara)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih Nasional - Sosok pahlawan nasional Pengeran Diponogoro menjadi tokoh utama dalam pameran yang digelar di Galeri Nasional Indonesia. Pameran yang dimulai pada 6 Februari sampai 8 Maret 2015 yang akan datang, ini bertajuk "Aku Diponogoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa". Lukisan Pangeran Diponogoro yang dipamerkan diantaranya adalah lukisan Penangkapan Pangeran Diponogoro, Charles V Turun Tahta, Koin dan Uang Kerta Diponogoro dan lukisan lainnya.

Lukisan penangkapan Pangeran Diponogoro berukuran 112x179 cm karya Raden Saleh. Lukisan ini menjadi koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Dikisahkan, saat Raden Aleh mendengar kabar wafat Pangeran Diponogoro pada tahun 1855, ia memutuskan untuk melukis penangkapan. Dilukisan ini Diponogoro tidak digambarkan sebagai orang yang ditaklukkan, melainkan sebagai pahlawan, dan penangkapannya malah menjadi tonggak dimulainya gelombang perjuangan baru. Dengan demikian, lukisan ini harus dipahami sebagai sebuah pernyataan proto-nasionalis dan sebagai simbol berakhirnya kekalahan perang serta lahirnya rangkaian perlawanan anti kolonial baru.

BACA JUGA: Melirik Kembali Kesaktian Pelana Kuda Pangeran Diponegoro

Sementara lukisan Charles V Turun Tahta merupakan karya Louis Gallait pada 1841 dengan ukuran 485x683. Lukisan Louis Gallait ini adalah sebuah pernyataan yang kuat tentang nasionalisme dan kemerdekaan. Sebab, lukisan ini menggambarkan sebuah peristiwa sejarah yang berkaitan erat dengan permulaan perjuangan kemerdekaan rakyat Belanda melawan penjajah Spanyol.

Pemisahan diri Belanda Selatan (sekarang Belgia) dari Kerajaan Belanda pada tahun 1830 masih terasa bagaikan luka menganga ketika Gallait seorang warga Belgia, melukiskan Charles V Turun Tahta. Lukisan ini diminta harus dipahami sebagai sebuah pernyataan patriotik yang penting untuk pemerintahan Belanda.

"Perjuangan kami merebut kemerdekaan mirip dengan perjuangan kalian tiga ratus tahun yang lalu.” Raden Saleh kemudian meminjam pesan Gallait ini dan mengubahnya menjadi "perjuangan Pangeran Diponogoro melawan penjajahan asing adalah awal dari runtuhanya kekuasaan Belanda di tanah Jawa.” Lukisan ini dipajang pada Pameran ini dalam rupa instalasi lightbox.

BACA JUGA: Jubah Perang Sabil Pangeran Diponegoro

Sementara lukisan Koin dan Uang Kertas Diponogoro yang menggambarkan wajahnya yang menghadap kiri pada relief telah muncul pada mata uang Indonesia sejak awal 1950-an, yaitu antara 1952-1957. kata-kata 'DIPA NEGARA' yang diambil dari namanya tertera pada koin 50 sen yang diterbitkan Bank Indonesia kala itu. Koin ini dicetak oleh percetakan negara Belanda di Utrecht yang melakukan percetakan pertama kali di tahun 1952.

Pada tahun yang sama, uang kertas seratus rupiah Indonesia dalam 'seri kebudayaan' didesain oleh percetakan Belanda, Johannes Enschede en Zonen dan dicetak di percetakan mereka yang terletak di Kebayoran. Menggunakan litografi c.c.A. Last yang dibuat di tahun 1835 berdasarkan sketsa buatan A.J. Bik di Balai Kota Batavia. Uang kertas itu diterbitkan 18 Desember 1953 dan ditarik pada tahun 1960.

Uang seratus rupiah tersebut berwarna coklat dengan guratan patung singa di sebelah kiri dan wajah Diponogoro disebelah kanan. Terdapat juga ilustrasi burung berciuman di sisi belakangnya. Tahun 1975, percetakan Negara Indonesia, Perum Peruri, merancang uang kertas seribu rupiah yang baru dengan gambar Diponogoro pada sisi depan sebelah kiri menghadap ke kanan dengan kerbau membajak sawah di sisi belakangnya. Walau tertanggal 1975, uang kertas tersebut pertama kali diterbitkan pada 1 Juni 1976 dan baru beredar pada 2 April 1988.

Adapaun koin Diponogoro yang dijadikan sebagai jimat adalah koin lima puluh sen koleksi Taufik Rahzen. Koin ini dicetak dengan indah menggunakan wajah Diponogoro dan huruf-huruf (DIPA NEGARA) ini diimpor dari percetakan logam Utrecht antara 1952-1957, yang kini menjadi benda incaran kolektor Indonesia. (hur)

#Pameran #Pangeran Diponegoro
Bagikan
Ditulis Oleh

Widi Hatmoko

Menjadi “sesuatu” itu tidak pernah ditentukan dari apa yang Kita sandang saat ini, tetapi diputuskan oleh seberapa banyak Kita berbuat untuk diri Kita dan orang-orang di sekitar Kita.

Berita Terkait

Indonesia
Polda Metro Jaya Siagakan Pengamanan Khusus di GBK, 8 Acara Besar Digelar Bersamaan di Akhir Pekan 6-7 Juni 2026
Polda Metro Jaya menyiapkan pengamanan khusus di kawasan GBK selama akhir pekan. 8 acara besar digelar bersamaan, mulai dari konser hingga turnamen internasional.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 06 Juni 2026
Polda Metro Jaya Siagakan Pengamanan Khusus di GBK, 8 Acara Besar Digelar Bersamaan di Akhir Pekan 6-7 Juni 2026
Fun
ArtMoments Jakarta 2026 Resmi Dibuka, Angkat Tema ‘Offerings’ dan Hadirkan Lebih dari 70 Peserta
ArtMoments Jakarta 2026 resmi digelar di Agora Ballroom dengan tema “Offerings”. Ajang seni kontemporer ini menghadirkan lebih dari 70 peserta dari berbagai negara.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 05 Juni 2026
ArtMoments Jakarta 2026 Resmi Dibuka, Angkat Tema ‘Offerings’ dan Hadirkan Lebih dari 70 Peserta
Indonesia
Kawasan GBK Diprediksi Padat Akhir Pekan 6-7 Juni 2026, Dishub DKI Siapkan Rekayasa Lalin dan Puluhan Kantong Parkir
Dishub DKI Jakarta menyiapkan rekayasa lalu lintas dan 10 kantong parkir di kawasan GBK pada 6-7 Juni 2026. Puluhan ribu pengunjung diperkirakan memadati GBK.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 04 Juni 2026
Kawasan GBK Diprediksi Padat Akhir Pekan 6-7 Juni 2026, Dishub DKI Siapkan Rekayasa Lalin dan Puluhan Kantong Parkir
Indonesia
PEVS 2026 Bakal Hadirkan Tren Kendaraan Listrik Udara dan Air Masa Depan, Targetkan Solusi Ekosistem Transportasi Bersih
Integrasi program B2B membuka lebar peluang kolaborasi investasi dan ekspansi bisnis antarpelaku industri global
Angga Yudha Pratama - Jumat, 22 Mei 2026
PEVS 2026 Bakal Hadirkan Tren Kendaraan Listrik Udara dan Air Masa Depan, Targetkan Solusi Ekosistem Transportasi Bersih
Fun
Museum MACAN Buka Pameran Olafur Eliasson, Ajak Pengunjung Rayakan Rasa Ingin Tahu
Museum MACAN menghadirkan pameran Olafur Eliasson: Your curious journey, menampilkan karya imersif dan eksplorasi seni selama 30 tahun.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 03 Desember 2025
Museum MACAN Buka Pameran Olafur Eliasson, Ajak Pengunjung Rayakan Rasa Ingin Tahu
Lifestyle
Lewat 'Be Open Minded', JBL Rayakan Keterbukaan dan Inovasi dalam Musik
JBL Indonesia menggelar kampanye Be Open Minded. JBL ingin mengajak masyarakat untuk lebih terbuka dalam menikmati musik.
Soffi Amira - Rabu, 12 November 2025
Lewat 'Be Open Minded', JBL Rayakan Keterbukaan dan Inovasi dalam Musik
Fun
Dari Jakarta ke Bali, Indonesia Watercolor Summit Hadirkan Pameran dan Pertukaran Budaya
Indonesia Watercolor Summit hadir di dua kota sekaligus: Jakarta dan Bali.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 05 November 2025
Dari Jakarta ke Bali, Indonesia Watercolor Summit Hadirkan Pameran dan Pertukaran Budaya
Fun
Dari Manga ke Dunia Nyata, ‘Rumah Misteri: Junji Ito’ Hadirkan Teror Mencekam di Jakarta
Rumah Misteri: Junji Ito hadir meriahkan Halloween 2025 di Jakarta.
Ananda Dimas Prasetya - Jumat, 24 Oktober 2025
Dari Manga ke Dunia Nyata, ‘Rumah Misteri: Junji Ito’ Hadirkan Teror Mencekam di Jakarta
Indonesia
Bukukan Transaksi Rp 161 M, Pangan Nusa Expo 2025 Cetak Rekor Tertinggi dalam 19 Tahun
Pangan Nusa Expo 2025 juga menarik antusiasme tinggi dari masyarakat.
Wisnu Cipto - Senin, 20 Oktober 2025
Bukukan Transaksi Rp 161 M, Pangan Nusa Expo 2025 Cetak Rekor Tertinggi dalam 19 Tahun
Fun
JICAF 2025: Pameran Ilustrasi Terbesar di Indonesia Hadirkan Pengalaman Seni 'New Heights'
JICAF 2025 berlangsung 18 September - 5 Oktober 2025 di The Space, Senayan City, Jakarta.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 23 September 2025
JICAF 2025: Pameran Ilustrasi Terbesar di Indonesia Hadirkan Pengalaman Seni 'New Heights'
Bagikan