BANYAK pilihan angkutan untuk mudik di hari raya. Angkutan umum atau kendaraan pribadi. Untuk yang mudik dalam jarak dekat, pilihan menggunakan kendaraan pribadi memang masih masuk akal. Namun, untuk yang pulang kampung dengan jarak yang cukup jauh, angkutan umum jadi pilihan. Moda angkutan umum yang bisa dipilih pun beragam, mulai dari pesawat, kapal laut, kereta api, hingga bus.
Bagi keluarga dengan anak, mudik naik angkutan umum bisa jadi tantangan. Terlebih jika sang anak merupakan anak berkebutuhan khusus (ABK). Selama ini, publik kerap menganggap ABK tidak bisa diajak beraktivitas di tempat umum. Memang, para ABK memiliki keterbatasan dan tantangan dalam bersosialisasi. Meskipun demikian, dengan penanganan yang tepat, mereka bisa, bahkan lebih tertib ketimbang anak pada umumnya.
Hal itu disampaikan psikolog yang juga founder Sekolah Anak Berkebutuhan Khusus Spectrum Tisna Chandra. Ia mengatakan ABK bisa dilatih untuk berada di tempat umum, semisal supermarket atau angkutan umum. "Mereka bisa dibiasakan dulu, dibuatkan simulasi untuk menghadapi mudik," ujar Tisna ketika ditemui Merahputih.com di kawasan BSD, Tangerang Selatan, Sabtu (2/6).
Tisna mencontohkan anak-anak didik di Spectrum yang dilatih untuk bisa berada di tempat umum. Para pendamping di sekolah itu kerap membuat simulasi sebelum membawa ABK ke suatu tempat. Jika ingin mengajak ABK ke supermarket, di sekolah diadakan dulu simulasi seperti layaknya supermarket. Selama simulasi, para ABK diberi tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, dan apa larangan selama berada di sana. "Mereka bisa lo. Bahkan kalau dilepas sendiri, dikasi daftar belanja, mereka bisa menyelesaikannya," ujarnya.
Contoh lain, Tisna berkisah pernah mengajak anak didik di Spectrum untuk mengunjungi Sea World di Ancol. Sebelum benar-benar pergi ke tempat rekreasi itu, para guru di sekolah
membuat simulasi mirip Sea World. "Kami buat ruangan gelap, persis seperti kondisi di sana," kisahnya. Latihan itu membuahkan hasil. Para ABK didikan Spectrum bisa mengunjungi Sea World dengan tertib, bahkan menjadi yang paling tertib dari semua sekolah yang juga berkunjung di saat yang sama.
Pemerhati anak berkebutuhan khusus itu pun menekankan bahwa kunci utama untuk mengajak ABK mudik dengan angkutan umum ialah pembiasaan dan simulasi. Para ABK harus dikenalkan berulang kali dengan moda transportasi yang akan digunakan untuk mudik. Tujuannya, agar mereka terbiasa dan tahu harus bersikap seperti apa. Semisal, akan mengajak ABK mudik naik kereta, orangtua bisa bercerita apa itu kereta, buatkan simulasi naik kereta selama di rumah. Agar lebih dipahami, dampingi anak, dan lakukan berulang-ulang jauh hari sebelum mudik. Dengan begitu, ABK akan paham aturan selama berada di angkutan umum. "Anak berkebutuhan khusus bisa amat mengikuti aturan dan tertib jika hal itu sudah tertanam di pikiran mereka. Bahkan mereka bisa lo menegur jika ada orang lain yang tak taat aturan," ujar Tisna.
Selain pengenalan dan simulasi, hal lain yang tak kalah penting diperhatikan saat membawa ABK mudik dengan angkutan umum ialah diet GFCF. Hal itu mengacu pada pola makan gluten/casein free atau bebas gluten dan kasein. Pengaturan pola makan pada ABK amatlah penting mengingat hal itu bisa memengaruhi energi fisik mereka. Pola makan bebas gluten dan kasein memungkinkan anak berkebutuhan khusus untuk lebih fokus saat belajar.
Gluten umumnya ditemukan dalam gandum dan produk tepung. Sementara itu, kasein terdapat pada semua olahan susu, seperti keju dan yoghurt. Keduanya dipercaya dapat memicu peptida dalam tubuh. Zat itu amat mungkin menimbulkan efek opiate. Opiate merujuk pada segala obat turunan opium. Tisna menyebut konsumsi gluten dan kasein berpotensi memicu reaksi hiperaktif pada ABK. Kondisi itu membuat ABK makin sulit untuk berkonsentrasi dan menerima pelajaran. Itulah mengapa ABK amat disarankan menjauhi gluten dan kasein dalam menu mereka. "Ada anak yang sudah belajar, sudah simulasi, tapi masih belum menunjukkan hasil. Harus dicek lagi dietnya, apakah tepat GFCF. Jika belum tepat, diulangi lagi dengan diet yang tepat," jelasnya. Enggak hanya saat belajar dan simulasi, diet GFCF tetap harus dipertahankan selama ABK dalam perjalanan mudik. Sebisa mungkin pola makan anak dijaga.
Berpuasa Seperti Anak pada Umumnya
Meskipun anak berkebutuhan khusus memiliki tantangan dalam kehidupan sosial mereka, untuk urusan beribadah puasa, mereka tetap bisa menjalankannya. Anak-anak di Sekolah Spectrum misalnya. Tisna mengatakan selama bulan Ramadan, anak-anak didik di sana juga berpuasa. "Anak-anak kami yang sudah mampu juga berpuasa kok, sama seperti anak lainnya," jelas Tisna. Selain itu, selama bulan puasa juga digelar pendidikan keagamaan bagi ABK muslim. "Untuk ini, guru agama yang lebih banyak berperan," kata Tisna.
Meskipun demikian, Tisna tak menampik bahwa ada hal yang berbeda dari kegiatan Ramadan para ABK. Jika anak-anak lain umumnya libur di saat Ramadan, anak berkebutuhan khusus justru tetap belajar dan bersekolah. Kalaupun ada waktu libur, mereka mendapat tugas rumah yang harus mereka tuntaskan dengan bimbingan orangtua di rumah. "Anak-anak ini harus belajar lebih keras dan dan lebih sering daripada anak-anak lainnya. Seperti drilling dan pengulangan," jelasnya. Pekerjaan rumah yang diberikan kepada ABK biasanya terkait dengan materi yang masih menjadi kekurangan mereka. Semisal anak yang kurang dalam bahasa Indonesia, akan membawa pulang PR bahasa Indonesia.
Tugas rumah itu pun berlaku ketika ABK pergi berlibur selama Hari Raya Idul Fitri. Meskipun demikian, mereka yang sudah berlatih dan menjalani simulasi pulang kampung tetap bisa mudik bersama orangtua, asalkan tetap belajar selama masa itu.(dwi)