Ramadan 2018

Menikmati Esensi Puasa 18 Jam di Kota Keju, Gouda

Dwi AstariniDwi Astarini - Sabtu, 26 Mei 2018
Menikmati Esensi Puasa 18 Jam di Kota Keju, Gouda

Di kota penghasil keju, Gouda, muslim berpuasa 18 jam. (foto: holland.com)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SEPANJANG Ramadan, muslim Indonesia tak hanya menjalankan puasa seharui penuh, tapi juga dimanjakan dengan aneka penganan yang unik, khas, dan lezat. Tak sedikit pasar jajanan musiman yang muncul ketika Ramadan. Semuanya selalu ramai dikunjungi jelang waktu berbuka.

Aneka gorengan, jajanan pasar, aneka minuman manis segar, hingga makanan utama tersaji di meja jadi pemandangan lazim jelang berbuka di Indonesia. Tentunya semua itu nikmat yang patutlah disyukuri muslim Indonesia. Namun sayangnya, acap kita lihat takjil yang malah berlebih hingga jadi mubazir dan terbuang sia-sia. Hal itu bukan berarti kurangnya rasa bersyukur, tapi faktor 'lapar mata' saat berbelanja takjil jadi biang keladinya. "Aku rasa itulah esensi puasa. Menahan nafsu agar tak semua dibeli. Memasak juga begitu, eh akhirnya malah kebanyakan," ujar Rurie, WNI muslim yang tinggal di Gouda, Belanda, saat dihubungi Merahputih.com, Jumat (25/5).

Sejatinya berpuasa memanglah bukan hanya menahan haus dan lapar. Yang juga tak kalah penting ialah menahan nafsu. Dalam hal ini termasuk nafsu berbelanja berlebih hingga makan berlebih. "Aku lihat begitu sih di Tanah Air. Masak tiga kali, dimakan sekali, sisanya dibuang karena basi," ujar Rurie yang belum lama ini sempat pulang ke Indonesia.

Ia mengatakan orang Indonesia harus lebih memahami teknik mengira-ngira jumlah makanan yang dimasak. Selain itu, warga di Tanah Air belum memahami benar cara penyimpanan makanan sisa. "Menurut saya, itu karena semua tersedia di Indonesia. Jadi dilewatkan, disia-siakan begitu saja. Padahal, yang dibuang itu kan uang," sesalnya. Hal itu amat berbeda dengan kebiasaan di 'Kota Keju'. Mereka di sana memasak secukupnya untuk sekali makan. Jika ada yang tersisa, makanan akan disimpan di kulkas. Nantinya, makanan itu bisa dimakan untuk esoknya. "Atau bisa juga masuk ke freezer. Itu bisa dimakan kapan-kapan saat malas masak. Itu semua disebabkan sumber daya yang terbatas dan semuanya dihargai karena asalnya dari uang," jelasnya.

Tinggal di negara yang notabene muslim ialah minoritas justru malah membuat seseorang bisa lebih melihat makna mendalam Ramadan. Begitu pula yang dirasakan Rurie. Dengan durasi berpuasa selama 18 jam, ia mengaku malah senang. Pasalnya, ia mengaku mendapat esensi hidup prihatin dari berpuasa. "Kadang merenung sendiri, 'oh, begini ya rasanya 18 jam enggak makan'. Atau di kali lain berpikir, 'ah, enak banget ya ikan pindang ini'," ujarnya.


Saum 18 Jam

masjid mevlana, rotterdam
Masjid Mevlana di Rotterdam, Belanda. (foto: beautiful mosque)

Warga muslim di Kota Gouda memulai puasa Ramadan tahun ini pada pukul 03.10 lalu berbuka pada pukul 21.41. Menurut Rurie, durasi puasa tahun ini malah lebih pendek ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan waktu berpuasa tahun ini yang jatuh di awal tahun. Dua tahun lalu, kisah Rurie, waktu puasa di sana bahkan lebih panjang. Durasi yang panjang itu disiasati dengan adanya fatwa latitude. Dalam fatwa itu disebutkan bahwa muslim di negara yang berada di negara dengan latitude 50 ke atas bisa mengikuti waktu berbuka sama dengan Mekkah atau kota muslim terdekat. Kota Gouda ada di latitude 52. Beberapa warga muslim memang mengikuti fatwa tersebut dengan alasan agar punya lebih banyak waktu untuk beribadah. Rurie mengaku pernah mengikuti fatwa tersebut, tapi ia lebih memilih kembali ke waktu berpuasa normal meskipun panjang. "Tapi somehow, hatiku merasa enggak enak. Jadi aku balik lagi ke waktu standar. Kembali ke pribadi masing-masing sih," ujarnya.

Saat ini, kota penghasil keju itu tengah di musim semi dengan suhu berkisar 20-25 derajat celsius. Kenyamanan cuaca itu memungkinkan dia tetap beraktivitas seperti biasa meskipun tengah berpuasa. Bahkan, ia bercerita mengajak dua anaknya yang masih balita bermain ke pantai di saat mentari bersinar di siang hari. Namun, ia mengakui bahwa durasi puasa yang panjang membuat beberapa ibu muslim yang tengah menyusui tidak berpuasa. "Iya, karena waktunya kelamaan," jelasnya.

Durasi puasa yang panjang berarti waktu berbuka dan sahur yang berdekatan. Akibatnya, muslim di Gouda punya waktu yang pendek untuk berbuka, salat magrib, dan tarawih. Selain itu, waktu berbuka dan sahur berdekatan membuat kondisi perut masih kenyang. Rurie bahkan mengaku hanya makan satu kali sehari selama Ramadan. "Kenyang lo. Saat sahur paling hanya minum," ujarnya. Ia bahkan mengaku tak mengingini minuman manis nan dingin di siang hari, mengingat udara luar yang juga adem.

Prihatin tak Buka Bersama

Kesejukan cuaca itu dibingkai dengan harmonisnya toleransi antara warga muslim dan nonmuslim di Gouda. Memang warga nonmuslim tak seberapa paham dengan Ramadan dan alasan berpuasa di bulan itu, tapi mereka tak akan menghalangi warga muslim beribadah. "Karena memang budaya di sini begitu. Selama kita tetap ramah, aku rasa semuanya baik-baik saja," jelasnya.

Budaya memberi kebebasan itu memberi ruang untuk bertumbuhnya Persatuan Pemuda Muslim Eropa yang berlokasi di Rotterdam. Sama seperti di Indonesia, kegiatan perkumpulan muslim itu di bulan puasa ialah buka bersama dan tarawih. "Di sini ada ibu-ibu piket masak," ujar Rurie. Meskipun ada perkumpulan muslim, Rurie mengaku tak bisa aktif mengikuti kegiatan tersebut karena lokasinya yang ada di kota berbeda.

Selain itu, ada komunitas masjid Maroko yang juga aktif di sana. Namun, berhubung mereka punya mazab yang sedikit berbeda dengan Islam di Tanah Air, Rurie mengaku enggak ikut bergabung di komunitas itu. "Pastinya akan lebih nyaman berkumpul dengan saudara senegara kan," ujarnya.

Rurie (kanan) bersama suami dan 2 anak. (foto: Facebook)

Sayangnya, berkumpul bersama kawan senegara di Gouda selama Ramadan agak tidak memungkinkan. Pasalnya, waktu berbuka yang terhitung amat malam. Tentunya itu akan menyulitkan bagi mereka yang harus bekerja keesokan harinya. Rurie yang menjalankan usaha katering makanan Indonesia itu bercerita bahwa terkadang ia suka iseng memasak masakan Indonesia dalam jumlah yang agak banyak. "Kayak kemarin nih, aku bikin lupis. Dibagi-bagi ke tetangga nonmuslim, biar mereka tahu," ujarnya.

Ia bahkan masih tetap melayani pesanan katering, seperti risoles, dadar gulung, dan lemper. Karena tengah berpuasa, Rurie pun memasak semuanya tanpa mencicip. Ia menyebut itulah salah satu godaan puasa buatnya. Sedikit bercanda, ia menyebut bahwa godaan justru datang dari foto-foto makanan yang bertebaran di media sosial. "Di sini enggak ada makanan yang berkeliaran," ujarnya bercanda. Ia lalu menambahkan bahwa berpuasa di Gouda berjalan biasa saja, tanpa halangan. "Mungkin karena lingkungan sekitar enggak lebay, kami yang puasa juga enggak jadi lebay," katanya.

Seperti halnya WNI yang tinggal jauh dari tanah kelahiran, ia pun mengaku merindukan berlebaran di Tanah Air. Ia berkisah bahwa komunitas muslim WNI di Gouda selalu mengadakan dua kali perayaan saat Hari Raya Idul Fitri. Sekali di masjid, lalu kumpul bersama kawan-kawan di rumah. "Jadi nahan sabar enggak bukber. Nanti aja pesta kumpul-kumpulnya saat Lebaran," ujarnya. Tak hanya bersabar menunggu waktu berkumpul kawan, Rurie bahkan merencanakan mengajak seluruh keluarganya berlebaran di Tanah Air. "Tahun depan rencananya Lebaran di Indonesia," tutup ibu dua anak tersebut.(dwi)

Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).
Show More
Follow Me
Bagikan