PETUGAS polisi Melissa Winch dilarikan ke rumah sakit saat air ketubannya pecah di usia kehamilan 26 minggu. Setelah mendapat perawatan dari dokter, ia akhirnya melahirkan bayi Axel saat ia berusia 29 minggu pada 24 Juli lalu.
Bayi Axel lahir dengan berat badan hanya 1,6 kg. Melissa dan sang suami, Adam pun harus dihadapkan pada kenyataan bahwa anak mereka mungkin berisiko mengalami berbagai komplikasi penyakit.
"Banyak sekali kabar buruk. Mereka bahkan menyiapkan kami dengan kabar terburuk bawah Axel tidak akan bertahan hidup dalam beberapa hari berikutnya," ujar Adam, 45, kepada People.
Adam menjelaskan bahwa bila Axel bertahan hidup, ia mungkin akan menghadapi berbagai disabilitas dan operasi untuk menyelamatkan hidupnya. Dokter pun memperingatkan bahwa Axel mungkin saja buta dan tuli.
Selama beberapa minggu pertama hidupnya, Axel dirawat di ruang intesif khusus bayi di Grand Junction, Colorado. Sampai akhirnya, dokter mendiagnosis Axel dengan kondisi necrotizing enterocolitis yang mempengaruhi pencernaannya.
Pada 1 Agustus, Axel diterbangkan ke Children’s Hospital Colorado di Aurora untuk sebuah operasi emergensi. Untungnya, Axel berhasil pulih sebelum dokter harus melakukan operasi invasif.
Perjuangan Axel belum lah berakhir. Kedua orangtuanya, Adam dan Melissa, selalu ada bersamanya di rumah sakit sepanjang waktu.
"Kami ada di rumah sakit nyaris sepanjang waktu. Kondisi medisnya amatlah kompleks. Selalu ada keputusan yang harus diambil untuk prosuder kesehatan ataupun operasi. Selalu ada saja yang terjadi pada Axel," ujar Adam.
Sayangnya, saat keadaan Axel masih membutuhkan perawatan medis, Adam dan Melissa harus kembali bekerja. Adam harus kembali mengurus perusahaan pelatihan pertahanannya, sedangkan Melissa sebagai polisi di Grand Junction.
"Untuk bayi sekecil dan semuda Axel, ia butuh cinta kasih. Sentuhan dan cinta yang dicurahkan secara konstan," ujarnya.
Untungnya, kegelisahan pasangan itu didengar seorang sersan yang bertugas di Aurora. Ia pun meminta polisi di Aurora Police Department untuk mengirim polisi yang menjadi volunter ke RS anak untuk menjaga dan merawat Axel di ruang NICU.
Cuddle Watch adalah nama yang diberikan bagi penugasan itu. Lembar penugasan digunakan untuk menyusun jadwal petugas polisi yang berjaga untuk memastikan Axel tidak sendirian dalam waktu yang lama.
"Aku tak bisa menjelaskan betapa itu menyentuh hatiku. Selama berbulan-bulan kami hidup dalam teror, melihat bayi kami berjuang bertahan hidup. Namun, kini mengetahui ada orang lain yang mencintai dan menghabiskan waktu bersama bayi kami, itu amat menyentuh," ujar Adam.
Para volunter Cuddle Watch menghabiskan waktu bersama Axel, bernyanyi dan membacakan buku untuknya. Bahkan beberapa petugas jaga malam yang baru selesai bertugas tetap datang ke RS agar Axel bisa terlelap di dada mereka.
"Para volunter ini akan mengirimi kami foto dan kabar. Seperti apa kemajuannya dan apa saja yang terjadi. Bahkan mereka mengatakan amat menikmati menemani Axel," ujar Adam mengingat masa itu.
Adam dan Melissa mengakui meninggalkan Axel amatlah berat buat mereka. Terlebih jarak rumah dan RS anak tempat Axel dirawat mencapai 250 mil. Namun, bantuan dari para polisi, yang sebagian besar dari mereka tidak saling kenal, membuatnya tenang.
"Merekalah orang-orang yang menunjukkan cinta dan kasih sayang tanpa batas. Amatlah melegakan. Apa yang mereka lakukan tak bisa terbalaskan, mereka memberi kami ketenangan yang tak bisa kami gambarkan," ujar Adam.
Kisah Axel berakhir indah. Ia meninggalkan rumah sakit pada 11 November lalu. Adam dan Melissa pun amat bahagia bisa memeluk bayi mereka di rumah.
"Ini benar-benar perjalanan yang luar biasa. Kami bahagia bisa membawa pulang Axel," jelas Adam.
Benar-benar menyentuh ya.(*)

