Merahputih.com - Kabar kurang sedap datang dari Kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes, yang dikonfirmasi mengalami cedera otot quadriceps saat membela klubnya.
Cedera robekan atau regangan akut pada kelompok otot paha bagian depan ini memaksanya ditarik keluar lapangan, memunculkan tanda tanya besar soal peluangnya tampil di ajang ASEAN Cup 2026.
Petaka cedera Jay Idzes ini bermula saat Sassuolo melakoni laga sengit melawan Juventus pada pekan ketiga Serie A di Mapei Stadium, Senin (14/9).
Baca juga:
Sassuolo Ungkap Cedera Jay Idzes, Kapten Timnas Indonesia Terancam Absen di FIFA ASEAN Cup 2026
Tampil sebagai starter, sang kapten Timnas Indonesia terpaksa menyudahi permainannya lebih awal pada menit ke-81 dan digantikan oleh Duje Caleta-Car karena kondisi fisiknya tak lagi memungkinkan untuk lanjut bermain.
Lalu, sebenarnya apa itu cedera quadriceps (quadriceps strain) yang sedang ramai dibahas ini, dan seberapa ngeri dampaknya buat karier seorang pesepak bola profesional? Mari kita bedah tuntas anatomi dan gejalanya.
Memahami Anatomi: Apa Itu Cedera Otot Quadriceps?

Secara medis, quadriceps strain adalah cedera robekan akut yang terjadi pada otot quadriceps.
Biang kerok dari masalah ini biasanya karena otot tertarik secara tiba-tiba, kontraksi yang terlalu kuat, atau beban fungsional yang berulang (overloading).
Buat kamu yang belum tahu, otot Quadriceps femoris ini posisinya ada di kompartemen depan paha kita.
Fungsinya sangat krusial, yakni sebagai penggerak untuk menekuk pinggul (hip flexor) dan meluruskan lutut (knee extensor).
Otot ini ibarat mesin utama bagi para atlet karena terdiri dari empat bagian pendukung: Rectus femoris (RF), Vastus lateralis, Vastus medialis, dan Vastus intermedius.
Kenapa Cedera Ini Sering Menghantui Pesepak Bola?
Cedera pada paha depan sangat lumrah terjadi di olahraga yang menuntut pergerakan dinamis tinggi seperti sepak bola, rugbi, atau american football.
Umumnya, ada tiga skenario utama yang memicu robekan otot ini:
-
Deselerasi mendadak: Misalnya gerakan mengerem tiba-tiba saat kaki sedang mengayun untuk menendang bola.
-
Kontraksi brutal: Terjadi saat pemain melakukan lari sprint mendadak.
-
Perubahan arah kilat: Memaksa otot yang sedang meregang untuk melambat atau berubah arah secara instan.
Menurut ulasan sistematis tahun 2022, faktor risiko terkuat dari cedera ini bukanlah usia, berbeda dengan cedera hamstring atau betis.
Atlet justru sangat rentan jika kaki yang cedera adalah kaki dominan (kaki untuk menendang), punya riwayat cedera quadriceps sebelumnya, atau baru sembuh dari cedera hamstring.
Menariknya, atlet wanita tercatat 3 kali lebih berisiko mengalami cedera ini dibanding pria.
Baca juga:
Klasifikasi dan Tingkat Keparahan (Grade) Cedera
Untuk menentukan kapan seorang pemain seperti Jay Idzes bisa kembali merumput, tim medis akan mengklasifikasikan cedera ini ke dalam tiga tingkatan (grade):
1. Grade I (Ringan)
Robekan hanya terjadi pada sebagian kecil serat otot. Pemain mungkin cuma merasa paha agak kaku atau kram ringan (twinge). Kekuatan otot tidak menurun drastis, jarang ada bengkak, dan rasa sakit biasanya baru benar-benar terasa keesokan harinya.
2. Grade II (Sedang)
Kondisi ini terjadi ketika hampir separuh serat otot mengalami robekan. Gejalanya lumayan terasa: nyeri tajam mendadak saat lari atau menendang, muncul bengkak atau memar ringan, dan lutut terasa sakit saat ditekuk atau diluruskan dengan menahan beban.
3. Grade III (Parah)
Ini mimpi buruk setiap atlet. Otot putus total, baik terlepas dari tendon maupun sobek menjadi dua bagian di area perut otot.
Gejalanya sangat ekstrem: rasa sakit luar biasa di paha depan, muncul memar tebal dalam 24 jam, otot tampak menonjol abnormal, dan pasien tidak akan bisa berjalan tanpa bantuan kruk.
Masa pemulihannya pun memakan waktu panjang, yakni sekitar 6 hingga 12 minggu.
Bagaimana Dokter Mendiagnosisnya?

Untuk memastikan level keparahan cedera, tim fisioterapi dan dokter olahraga biasanya melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, meliputi:
-
Observasi Visual: Melihat cara pasien berdiri atau berjalan, serta mengecek ada tidaknya pembengkakan, memar, atau kelainan bentuk (tonjolan) pada otot.
-
Palpasi (Perabaan): Dokter akan menekan sepanjang otot quadriceps untuk mencari titik nyeri utama, penebalan, atau cacat pada otot.
-
Tes Kekuatan Otot: Pasien diminta menekuk pinggul dan meluruskan lutut sambil diberi tahanan (resistensi). Rasa nyeri biasanya langsung memuncak saat area otot yang robek ditekan atau dipaksa meregang.
-
Pencitraan Medis: Untuk hasil yang mutlak dan akurat, penggunaan USG (Ultrasound) atau MRI wajib dilakukan guna melihat titik sobekan secara kasat mata di layar monitor.
Baca juga:
Statistik Gila Jay Idzes Saat Sassuolo vs Juventus, Pembuktian Kelas Kapten Timnas Indonesia
Bagaimana Cara Nyembuhinnya?
Kalau beneran kena cedera ini, ada dua fase penanganan krusial yang harus dilewati oleh Jay Idzes dan para atlet pro lainnya.
-
Fase Akut: 10 menit pertama setelah kejadian adalah masa kritis. Kaki yang cedera harus langsung ditekuk (fleksi) sekitar 120 derajat dan dipasangkan kompres es.
Posisi ini penting banget buat mencegah kejang otot, menekan pendarahan dalam, dan biar otot nggak sembuh dalam posisi memendek.
-
Fase Aktif: Kalau bengkaknya udah mereda (biasanya 3-5 hari), atlet bakal masuk ke tahap fisioterapi.
Mulai dari peregangan ringan (stretching statis dan peregangan hip flexor) sampai latihan penguatan bertahap kayak straight leg raises, wall squats, dan step-ups.
Saat ini, kita doakan saja semoga cedera yang dialami Bang Jay cuma masuk di level ringan (Grade I) dan proses recovery-nya berjalan mulus.
Dengan begitu, sang El Capitano bisa kembali merumput dan memimpin benteng pertahanan Timnas Indonesia di ajang ASEAN Cup 2026 nanti!