MerahPutih.com - Dua kapal supertanker minyak meledak berturut-turut dalam sehari di Selat Hormuz setelah mematikan sistem pelacak otomatis dan melanggar aturan navigasi maritim kawasan tersebut.
Laporan kantor berita Tasnim menyebutkan insiden ledakan terjadi saat kapal tanker melintasi rute terlarang dan mematikan alat pelacaknya ketika memasuki perairan strategis itu.
Sebelum insiden itu, Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan kapal tanker lain juga dihantam proyektil misterius di lepas pantai Oman.
Baca juga:
Konflik Selat Hormuz Timur Tengah Masih Lanjut, Senat AS Tolak Resolusi Akhiri Konflik Iran
Pelanggaran Navigasi dan Hantaman Proyektil Misterius
Dikutip dari UKMTO Minggu (4/4), semua awak kapal dilaporkan selamat dalam insiden ledakan itu. Insiden pertama dilaporkan terjadi ketika sebuah kapal tanker raksasa berkapasitas 2,5 juta barel minyak nekat menggunakan jalur tidak resmi di sisi selatan perairan tersebut.
UKMTO menerima laporan pihak ketiga mengenai sebuah kapal tanker yang dihantam proyektil tak dikenal saat melintasi Selat Hormuz, sehingga memicu kebakaran,
tulis laporan resmi UKMTO.
Kapal yang terbakar hebat di perairan Oman itu menambah daftar panjang armada laut yang menjadi sasaran tembak di jalur sempit Selat Hormuz. Dilansir Antara, seluruh awak kapal dilaporkan selamat dari maut.
Otoritas maritim internasional hingga kini masih melakukan penilaian intensif terkait potensi kebocoran minyak dan dampak kerusakan lingkungan.
Baca juga:
Krisis Minyak Dunia Meledak! Iran Kunci Mati Selat Hormuz Sampai Trump dan Netanyahu Lengser
Eskalasi Kontrol Ketat Iran di Jalur Strategis
Otoritas Selat Teluk Persia Iran mengonfirmasi beberapa kapal tanker minyak telah dihantam di jalur perairan vital tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Kantor berita Fars merujuk pernyataan otoritas maritim Iran, menyebutkan kapal-kapal yang meledak setelah melanggar aturan ketat pelayaran Selat Hormuz yang ditetapkan Iran itu dimiliki atau disewa pihak Uni Emirat Arab
Eskalasi keamanan di Selat Hormuz meningkat tajam sejak Iran memperketat kendali navigasi perairan pada 28 Februari lalu. Teheran beralasan tindakan tegas itu diberlakukan bagi kapal-kapal milik atau yang terafiliasi dengan Israel dan Amerika Serikat. (*)