MerahPutih.com - Kemacetan di jalan tol menjadi pemandangan yang biasa pada puncak mudik Lebaran. Bahkan, tahun 2018 ini diperkirakan kemacetan Tol Cikampek sepanjang Jakarta sampai Tol Cikopo-Palimanan masih tetap ada karena sebagian pemudik lebih menyukai menggunakan jalur tol dibanding jalon nontol.
Beberapa pemudik beroda empat tetap memilih jalur tol karena pertama, mereka tidak begitu paham rute jalur konvensional. Kedua mereka menghindari bersaing dengan membludaknya sepeda motor pemudik. Ketiga banyak pasar tumpah dan perpotongan arus yang menghambat arus mudik. Terakhir, mereka menilai kondisi jalan jalur nontol yang belum terjamin mulus.
Meski demikian, jalur nontol bisa menjadi alternatif bagi pemudik menghindari potensi macet panjang di jalan berbayar yang diklaim bebas hambatan. Bagaimana untung-ruginya, mari kita berhitung. Ambil contoh gerbang tol (GT) Cikarang Utama (Cikarut) yang kerap menjadi titik kemacetan awal selepas dari Jakarta.
Trauma Gerbang Tol Cikarang Utama
Operator mengamati laju kendaraan di jalan tol dari layar interaktif, di Jasa Marga Traffic Information Center, Jakarta, Rabu (11/4). Menghadapi arus lalu lintas Lebaran 2018, Jasa Marga akan mengoperasikan maksimal 20 gardu operasi di Gerbang Tol Cikarang Utama untuk arah Cikampek dan 29 gardu operasi untuk arah Jakarta, serta akan memfungsikan 10 "mobile reader" dan top up tunai di Gerbang Tol Cikarang Utama 2 dan Gerbang Tol Cikarang Utama 4. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Jika diperkirakan arus mudik lebaran tahun 2018 meningkat 10 persen saja dibanding tahun sebelumnya maka jumlah kendaraan mudik yang masuk di gerbang tol (GT) Cikarang Utama (Cikarut) mencapai 1.014.436 kendaraan.
Dengan jumlah itu maka akan terjadi kepadatan yang luar biasa dibanding tahun sebelumnya, apalagi ada sejumlah titik penyempitan di ruas tol akibat adanya proyek pembangunan tol layang, LRT dan kereta cepat Jakarta-Bandung.
Gerbang Cikarut di ruas Tol Jakarta-Cikampek mempunyai kapasitas menampung arus 144.000 kendaraan per hari dan selama hari-hari sepanjang tahun 2018 dilalui rata-rata 68.616 kendaraan per hari. Namun, pada puncak arus mudik tahun 2018 diperkirakan akan dilalui 116.270 kendaraan atau 69 persen dari beban hariannya.
Tanpa adanya rekayasa untuk mengurangi jumlah kendaraan yang masuk tol maka bisa terjadi kemacetan parah yang pernah terjadi di tahun 2016. Buka-tutup di pintu tol kemungkinan akan diberlakukan untuk mencegah penumpukan yang berlebihan pada puncak mudik.
Beruntung pemerintah berupaya untuk membuat sebaran mudik yang lebih merata mulai H-7 sampai H-1 sehingga puncak mudik tidak terlalu membludak pada hari tertentu yang bisa mengakibatkan kemacetan parah.
Pemerintah sudah mengantisipasi dengan memberikan penambahan cuti bersama selama tiga hari pada perayaan Idul Fitri tahun ini, yakni pada 11, 12, dan 20 Juni 2018. Jika hari raya Idul Fitri diperkirakan jatuh pada 15 dan 16 Juni, maka libur Lebaran akan berlangsung mulai 11 hingga 20 Juni, dari sebelumnya 13 hingga 19 Juni.
4 Jalur Alternatif Nontol
Meski ada libur tambahan cuti yang berpeluang memperpanjang sebaran waktu mudik, bukan menjadi jaminan jalan tol bebas dari macet. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi tetap mengimbau pemudik agar menggunakan juga jalan nontol untuk mudik.
Apalagi, kata Menhub, kondisi jalan nontol yang menghubungkan Jakarta hingga Surabaya, baik jalur utara maupun selatan, dianggap layak dilalui pemudik. "Jalan nasional nontol siap dilalui pemudik dengan kondisi yang bagus dan aman dilalui," kata dia, dilansir Antara.
Menhub menjabar ada empat jalur alternatif juga digunakan maksimal sehingga mengurangi kepadatan di Jalur Tol Jakarta-Cikampek dan Tol Cikopo-Palimanan. Berikut daftar jalur alternatif khusus nontol dari Jakarta ke Cikampek untuk kendaraan Jabodetabek yang akan menuju Jawa Tengah.
Alternatif Pertama
JORR (Cakung)- Raya Bekasi- Sultan Agung-Jenderal Sudirman- A.Yani-Cut Meutia-Ir. H. Juanda- Diponegoro -Teuku Umar-Imam Bonjol-Martadinata-Raya lemah Abang-Rengas Bandung-- -Pangkal Perjuangan-Jend. A. Yani (Karawang). Jalur alternatif ini mempunyai panjang 46,10 kilometer dengan lebar jalan 2 x 7 meter.
Alternatif Kedua
JORR (Kalimalang)- KH Noer Ali- Mayor Madmuin Hasibuan- Chairil Anwar - Inspeksi Kali Malang- Pasir Jati (Kerawang) setelah itu bisa masuk Pintu Tol Karawang Barat atau ke kiri ke arah Jalur Pantura. Jalur alternatif ini mempunyai panjang 39,4 kilometer dan pada bagian tertentu mempunyai dengan lebar 2 x 7 m (7,5 Km).
Alternatif Ketiga
JORR Jati asih- Raya Cikunir- Galaxy 1-Taman GaLaxy Raya-KH. Noer Ali. Jalur ini mempunyai lebar 2 x 6 meter pada jalan sepanjang 14,16 kilometer dan lebar lebar 2 x 3 pada jalan sepanjang 16,96 kilometer.
Alternatif Keempat
Jagorawi (Cibubur)- Alt. Cibubur- Raya Jonggol Cileungsi- Tunggulis- Raya Cileungsi- Raya Cibarusah- Inspeksi Kalimalang. Jalan ini mempunyai panjang 41,24 kilometer dengan lebar jalan lebar 2 x 7 meter pada ruas sepanjang 14,05 kilometer dan lebar 2 x 3 meter pada ruas sepanjang 27,19 kilometer. Jalur alternatif keempat ini bisa digunakan warga dari Depok, Cibinong, dan Bogor.
Titik Jalan Bergelombang Sampai Cirebon
Fakta di lapangan, sekitar 90 persen jalur mudik Pantura Jawa Barat mulai dari Cikampek sampai Cirebon sepanjang 135 kilometer beraspal mulus dan sisanya masih bergelombang dan berlubang. Kondisi ini harus bisa dimanfaatkan pemudik daripada terjebak antrean panjang di jalan tol saat puncak mudik. Berbeda dengan tahun lalu yang masih menyisakan jalan bergelombang dan lubang yang melebar di banyak titik.
Jalan yang selalu rusak akibat kondisi tanah yang labil akhirnya diganti dengan jalan beton, tetapi masih meninggalkan masalah. Panjang jalan beton bervariasi antara satu sampai empat kilometer dan pengendara harus hati-hati pada pergantian ke jalan aspal atau sebaliknya karena beberapa titik yang tingginya berbeda.
Jalan berlubang dan bergelombang juga masih dapat ditemui pemudik mulai simpang Jomin di Cikampek sampai Pamanukan. Namun, setelah melalui itu, pemudik bisa menikmati jalan yang lebih mulus sampai Cirebon. (*)