Merahputih.com - Lazio menjelma menjadi salah satu kejutan terbesar Serie A 2026/2027. Kemenangan telak 3-0 atas Juventus di Turin membawa Biancocelesti melesat ke peringkat kedua klasemen sementara dengan koleksi 19 poin dari tujuh pertandingan.
Catatan tersebut bukan sekadar mengantarkan Lazio ke papan atas. Raihan 19 poin juga menjadi awal musim terbaik mereka sejak 1999/2000, ketika tim ibu kota Italia itu mengumpulkan 17 poin pada periode awal kompetisi.
Baca juga:
Kini, Lazio berada di posisi kedua dan memiliki jumlah poin yang sama dengan Inter Milan di puncak klasemen. Selisih gol menjadi pembeda di antara kedua tim, sementara persaingan di papan atas mulai memanas.
Pencapaian ini membuat Lazio layak disebut sebagai salah satu tim kejutan musim ini. Di bawah arahan Gennaro Gattuso, mereka menunjukkan kemampuan bersaing dengan klub-klub besar dan menjaga konsistensi sejak awal kompetisi.

Kemenangan atas Juventus Pertegas Kebangkitan Lazio
Lazio membuktikan ketangguhannya ketika bertandang ke markas Juventus. Bermain di Turin, mereka tampil efektif dan pulang dengan kemenangan meyakinkan 3-0.
Oliver Provstgaard membuka keunggulan Lazio pada menit ke-37. Bek tengah asal Denmark itu memenangi duel udara sebelum mengarahkan sundulan ke sudut jauh gawang tuan rumah.
Baca juga:
Tim Serie A Terpuruk di Liga Champions 2026/27, Peluang Lolos 16 Besar Makin Tipis
Gustav Isaksen kemudian menggandakan keunggulan pada menit ke-66. Pemain sayap tersebut bergerak ke tengah dan melepaskan tembakan mendatar yang gagal dihentikan penjaga gawang Juventus.
Fisayo Dele-Bashiru melengkapi kemenangan Lazio pada menit ke-87. Pemain pengganti itu membawa bola dari area pertahanannya sendiri, melaju hingga ke kotak penalti lawan, lalu menuntaskan serangan dengan gol ketiga.
Awal Musim Terbaik sejak Era Sven-Goran Eriksson
Raihan 19 poin dari tujuh pertandingan membawa Lazio melampaui catatan awal musim mereka pada 1999/2000. Kala itu, Lazio mengoleksi 17 poin dan kemudian mengakhiri kompetisi dengan gelar juara Serie A.
Tim yang dilatih Sven-Goran Eriksson tersebut akhirnya menjadi juara dengan keunggulan satu poin atas Juventus. Gelar itu menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah klub.
Baca juga:
Rekor Kelam Sepak Bola Italia di Liga Champions: Inter Milan, Napoli, Roma, dan Como Kompak Tumbang
Perbandingan dengan musim bersejarah tersebut tentu menarik, meski perjalanan kompetisi 2026/2027 masih panjang. Lazio harus mempertahankan konsistensi jika ingin terus bersaing dengan Inter Milan dan klub-klub lain yang mengincar gelar.
Kami mungkin menjadi kejutan di liga ini, tetapi kami tidak boleh mengubah pendekatan. Kami harus menghadapi setiap pertandingan satu per satu dan terus bekerja keras,
ujar Gattuso.
Pernyataan itu menegaskan bahwa Lazio tidak ingin terjebak dalam euforia. Bagi mereka, tantangan sesungguhnya adalah menjaga performa ketika tekanan persaingan semakin besar.
Dengan 19 poin dari tujuh laga, Lazio kini memiliki alasan kuat untuk bermimpi lebih besar. Namun, apakah kejutan ini bisa berlanjut hingga perebutan gelar juara akan sangat bergantung pada konsistensi mereka dalam pekan-pekan berikutnya.