Merahputih.com - Album baru Larung bertajuk 'Damai, Bahagia, Sertamu' resmi meluncur di seluruh platform musik digital pada 2 April 2026.
Karya terbaru dari kuartet alternatif asal Tangerang Raya ini menandai fase pendalaman eksplorasi musikal sekaligus refleksi batin yang lebih matang setelah menempuh perjalanan panjang sejak terbentuk pada 2016.
Eksperimen Genre dan Formasi Baru
Kehadiran tikobetus (vokal) dan Reza Mauliddin (bass) sejak awal 2025 memberikan suntikan energi segar bagi band yang juga digawangi josu (gitar) dan Wahyu Akbar alias bgnx (drum) ini.
Baca juga:
Dalam album kedua ini, Larung meramu 12 lagu berbahasa Indonesia dengan aransemen yang tidak terduga, mulai dari sentuhan sinematik hingga harmoni yang liar namun tetap terarah.
Josu menjelaskan bahwa album ini merupakan realisasi dari visi musikal yang selama ini ia impikan.
“Album ini semakin mendekatkan saya ke mimpi musikal saya di mana kami meramu dan mencampuradukkan secara bijaksana gaya-gaya grunge, punk, garage rock, pop, bahkan funk dengan syair-syair rohani dan berpesan baik,” ujar josu.
Refleksi Spiritual dalam Balutan Distorsi
Secara tematik, Larung mengangkat isu spiritualitas dan kesadaran diri yang mendalam. Proses produksi yang memakan waktu lebih dari satu tahun memaksa para personel untuk menepi dari panggung demi menyelami kegaduhan batin. Lirik-lirik dalam album ini berfungsi sebagai ruang perenungan bagi pendengar saat menghadapi realitas hidup.
Reza Mauliddin menegaskan bahwa alur album ini menggambarkan sebuah perjalanan emosional yang transformatif.
Baca juga:
Musik Alternatif Penuh Refleksi, Larung Kembali dengan Single 'Menanam Racun'
"Dari kegaduhan menuju tenang, dari gelisah menuju damai, dan dari sendiri menuju sertamu. Sebuah perjalanan yang sederhana menuju tiga kata yang membuat dunia terasa cukup: Damai, Bahagia, Sertamu," ungkap Reza.
Vokalis Larung, tikobetus, berharap karya ini menjadi buah kesadaran bagi para penikmat musik tanah air. Peluncuran album ini sekaligus mengukuhkan posisi Larung sebagai unit alternatif yang berani mendobrak batas genre konvensional di industri musik Indonesia. (Far)